PSIKOLOGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
MATERI : AUTIS
A. PENYESUAIAN
SOSIAL ANAK AUTIS
Dalam
hal penyesuaian sosial anak autis ini, kita tidak bisa memaksa mereka untuk
mengikuti aktivitas-aktivitas seperti
anak-anak pada umumnya. “Mereka
Istimewa”, jadi keluarga, guru atau orang-orang terdekat mereka yang harus memahami mereka ketika mereka
berada dalam lingkungan sosial.
Anak
autis perlu lebih sering diajarkan mengenai kontak mata agar mereka terbiasa
berkomunikasi dengan orang lain dalam lingkungan sosial mereka, juga agar
mereka bisa mengurangi pemikiran mereka yang cenderung hidup dalam dunianya
sendiri.
Untuk
penyesuaian dalam kegiatan-kegiatan dalam lingkungan sosial seperti proses belajar, bermain atau yang lainnya
anak autis perlu bimbingan tersendiri. Maka dari itu di sekolah-sekolah inklusi
selalu melibatkan orang tua atau guru pembimbing yang selalu menemani disamping
mereka ketika kegiatan belajar berlangsung. Hal itu bertujuan agar anak autis
bisa mendengarkan guru yang sedang mendengarkan, dan tidak termenung dan sibuk dalam dunianya sendiri,
melainkan terfokus pada dunia sosial mereka.
B.
Kepribadian
Anak Autis
Biasanya gejala
Autisme mulai terlihat sebelum usia 3 tahun dan ditandai dengan kegagalan dalam
interaksi sosial karena kegagalan perkembangan berbahasa dan kegagalan dalam
menjalin hubungan dengan orang tuanya.Kondisi ini biasanya yang menyebabkan
orang tua mencari pertolongan kepada tenaga profesional.
Perkembangan psikososial anak dengan Autisme terganggu karena terdapat berbagai hambatan pada awal kehidupan anak yang akan mempengaruhi proses.
tumbuh kembang anak selanjutnya, Kepribadian anak dengan Autisme sangat unik, antara lain :
1) Dalam interaksi sosial :
Perkembangan psikososial anak dengan Autisme terganggu karena terdapat berbagai hambatan pada awal kehidupan anak yang akan mempengaruhi proses.
tumbuh kembang anak selanjutnya, Kepribadian anak dengan Autisme sangat unik, antara lain :
1) Dalam interaksi sosial :
• Semua anak Autisme tidak mampu berhubungan secara normal baik dengan orang tua maupun dengan orang lain. Ia seakan akan tidak mengenali ataupun membedakan orang orang penting dalam kehidupannya,seperti orang tua, saudara, dan pengasuh. Juga tampak tidak ada cemas perpisahan walau ia ditinggalkan sendiri di dalam suatu lingkungan dan orang yang masih asing baginya.
• Saat bayi, anak Autisme mungkin akan terbaring asyik di boksnya atau asyik bermain sendiri selama berjam-jam tanpa menangis ataupun membutuhkan orang tuanya, sehingga awalnya orang tua mengira ia anak yang manis dan mudah diatur. Namun ada juga yang sebaliknya, justru sangat rewel dan sering menangis / cengeng.
Anak menolak untuk dipeluk dan disayang, lebih senang menyendiri, tidak tertarik kepada anak lain,tidak mampu untuk memahami aturan aturan yang berlaku, kurang responsif terhadap isyarat sosial seperti kontak mata atau senyuman.
• Saat memasuki usia sekolah, mungkin perilaku menarik dirinya akan berkurang atau menjadi tidak nyata lagi, terutama pada anak Autisme yang mempunyai fungsi lebih baik. Namun ia masih sulit untuk dapat bermain dengan anak sebayanya, tidak dapat berteman, sosialisasinya buruk dan tidak sesuai, serta yang utama ia tidak dapat berempati.
• Saat remaja akhir, anak Autisme yang berkembang baik, sering menunjukkan keinginan untuk berteman, namun pendekatannya yang aneh dan ketidak mampuannya untuk bereaksi terhadap keinginan, emosi, dan perasaan orang lain merupakan kendala besar dalam membina hubungan dengan teman. Saat remaja dan saat dewasa,individu dengan Autisme, mempunyai keinginan seksual, tapi kemampuannya untuk bersosialisasi merupakan hambatan dalam mengembangkan hubungan yang bersifat seksual. Sangat jarang individu dengan Autisme menikah.
2) Dalam komunikasi dan bahasa
• Kekurangan dan penyimpangan yang nyata dalam perkembangan berbahasa merupakan salah satu kriteria utama untuk menegakan diagnosis Autisme.
• Komunikasi : kemampuan berbahasa berkembang sangat lambat atau tidak sama sekali. Mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti orang lain, meniru (membeo), nada suara yang monoton, tidak dapat bereaksi timbal balik dalam pembicaraan.
• Mengoceh pada tahun pertama kehidupan tampak kurang dibanding anak lain seusianya.
• Biasanya mereka tidak menunjuk atau memakai gerakkan tubuh untuk menyampaikan keinginannya, tapi dengan mengambil tangan orangtuanya / orang lain untuk mengambil objek yang dimaksud.
• Sukar untuk memahami arti kata-kata dan sukar menggunakan bahasa dalam konteks yang benar.
• Berbeda dengan anak normal seusianya yang kemampuan dan pemahaman bahasa reseptifnya telah berkembang dengan baik sebelum mereka bisa bicara, pada anak autisme yang verbal tampaknya mereka berbicara tanpa memahami arti kata tersebt.
• Anak autisme sering mengulang kata-kata yang baru saja mereka dengar atau yang pernah ia dengar sebelumnya tanpa maksud untuk berkomunikasi.
• Namun ada kata-kata atu kalimat yang kadang-kadang muncul, kadang-kadang menghilang dari perbendaharaan katanya.
• Bila bertanya sering menggunakan kata ganti orang dengan terbalik, ‘saya’ jadi ‘kamu;, dan menyebut diri sendiri sebagai “kamu”.
• Dalam tahun pertama kehidupan mungkin menurun atau abnormal banyaknya dan frekuensi celoteh anak dengan Autisme. Beberapa anak mengeluarkan bunyi – bunyi klik, suara, pekikan , dan suku kata tanpa arti dalam cara stereotipik tanpa terlihat minat untuk berkomunikasi.
• Anak dengan Autisme mungkin lebih banyak berkata dari pada yang dimengertinya. Kata kata bahkan hampir seluruh kalimat mungkin didalam atau diluar pembendaharaan anak, anak dengan Autisme mungkin menggunakan suatu kata dan tidak mengatakannya lagi dalam seminggu, sebulan atau beberapa tahun. Mereka dapat bicara ekolalia baik segera atau terlambat, atau frase stereotipik diluar konteks.
• Kadang pada anak dengan Autisme terdapat kesulitan dalam artikulasi, terdapat kualitas dan irama suara yang aneh.50 % anak dengan Autisme tidak pernah menggunakan pembicaraan yang berguna.
3) Dalam bermain :
• Abnormalitas dalam bermain seperti stereotipik, diulang-ulang dan tidak kreatif. Tidak menggunakan mainan sesuai fungsinya. Lebih menyukai benda-benda yang bukan mainan (toys), misal : botol bekas shampoo, minyak wangi, kaleng bekas, kotak bekas makanan, dan lain-lain.
• Kurang dapat bermain spontan atau imajinatif.
• Tidak meniru orang lain / imitasi.
• Sulit untuk bermain berpura-pura.
• Anak dengan Autisme tidak dapat meniru atau menggunakan pantomim abstrak. Aktivitas dan permainan anak Autisme jika ada biasanya kaku, berulang dan monoton.Anak Autisme biasanya tidak tahan terhadap transisi dan perubahan, bila merupakan kebalikan dari rutinitas mungkin menyebabkan panik atau temper tantrum. Kondisi yang berubah tersebut seperti pindah kerumah baru, memindahkan perabotan didalam ruangan, merubah arah jalan yang biasa dilalui
• Pada anak dengan Autisme pada tahun pertama kehidupan tidak menunjukan atau sedikit menunjukan permainan yang dieksplorasi yang biasa diperlihatkan oleh anak normal. Mainan dan benda benda sering dimanipulasi dengan cara yang tidak seharusnya, sedikit variasi, sedikit kreativitas dan imaginasi, dan sedikit ciri simbolik.
4) Perilaku motorik :
• Stereotipik (gerakan-gerakan badan yang berulang) seperti bertepuk-tepuk tangan, hand-flapping (mengepak-ngepakkan tangan), rocking (duduk sambil mengayun-ayunkan badan ke depan – ke belakang).
• Hiperaktivitas biasa terjadi pada anak usia pra-sekolah atau sebaliknya justru sangat pasif.
• Koordinasi motorik yang terganggu, misal tiptoe walking, clumsiness, kesulitan belajar mengikat tali sepatu, menyikat gigi, memotong makanan, mengancing baju.
• Tantrum (mengamuk) tanpa sebab yang jelas.
• Agresif atau self-injury.
• Kesulitan berubah terhadap rutinitas.
5) Respon abnormal terhadap perangsangan indera :
• Mungkin hiper/hipo sensitif (dengan bermacam tingkatan) pada penglihatan, pendengaran, perabaan/sentuhan, penciuman dan pengecapan.
6) Gangguan emosi/ alam perasaan dan afektif:
• Beberapa anak menunjukkan perubahan perasaan yang tiba-tiba, mungkin menangis atau tertawa tanpa alasan yang jelas atau tidak mengekspresikan sesuai dengan keadaan
• Rasa takut yang sangat kadang-kadang muncul terhadap objek yang sebenarnya tidak menakutkan.
• Keterikatan pada benda-benda tertentu.
• Cemas perpisahan yang berat, juga depresi berat bisa timbul.
7) Fungsi intelektual :
• Sekitar 40 % anak dengan autisme masa kanak mempunyai IQ di bawah skor 50 – 55 (retardasi mental sedang, berat, atau sangat berat).
• 30 % mempunyai skor 50 – 70 (retardasi mental ringan).
• 30 % mempunyai skor 70 atau lebih.
• Penelitian epidemiologik dan klinik menunjukkan seperlima dari anak autisme mempunyai intelegensi non-verbal yang normal.
• Skor IQ pada anak autisme lebih mencerminkan adanya problem pada kemampuan berbicara verbal dengan runtun dan abstraksi.
• Kemampuan kognitif atau visuomotor yang tidak biasa atau precocious dapat terjadi pada beberapa anak autisme, misal yang disebut idiot or autistic savants, yang mempunyai daya ingat dan kemampuan berhitung luar biasa, di atas kemampuan anak sebayanya. Kemampuan precocious lain pada anak autistik adalah yang disebut hyperlexia, suatu kemampuan membaca awal yang baik (walaupun mereka tidak memahami apa yang dibacanya), kemampuan mengingat dan menceritakan kembali/membaca puisi, kemampuan musikal (menyanyi atau memainkan alat musik).
C.
DAMPAK AUTIS
Berdasarkan
hasil penelitian dapat diketahui bahwa dampak psikologis
pada orang tua yang mempunyai anak autis, antara lain ketidakberdayaan,
kecemasan, rasa malu, penyesalan atau perasaan bersalah, self-esteem yang
rendah, peningkatan perilaku beragama, stres, frustrasi, shock dan jengkel.
Ketidakberdayaan terjadi pada orang tua yang mempunyai anak autis karena orang
tua tidak memiliki ketrampilan dan pengetahuan mengenai penanganan anak autis.
Orang tua yang
memiliki anak autis juga merasa cemas akan masa depan anaknya apabila mereka
tua nanti. Selain itu kecemasan juga dirasakan pada orang tua yang memiliki
penyakit menurun, seperti diabetes. Penyakit tersebut dapat menurun kepada
anaknya, terutama yang autis karena anak autis tidak memiliki olah raga yang
rutin. Malu ketika anaknya yang autis bertingkah laku aneh di tempat umum juga
dirasakan oleh orang tua. Walaupun malu orang tua yang mempunyai anak autis
tetap membawa anaknya jalan-jalan ke tempat-tempat yang disukai anaknya yang
autis. Merasa bersalah karena tidaC. k bisa menjaga anaknya dengan baik juga
dirasakan oleh orang tua. Apalagi bila sebelumnya anaknya sehat namun karena
terjatuh anak tersebut menjadi autis maka orang tua akan merasa menyesal.
Shock mendengar diagnosis autis dirasakan
orang tua, terutama karena fisik anak autis yang biasa saja. Tidak adanya
riwayat dalam keluarga yang menderita autis juga menyebabkan orang tua shock
ketika mengetahui anaknya menderita autis.
Sedangkan dampak
bagi anak autis sendiri, ia menjadi
lebih sulit berkomunikasi dengan lingkungannya, lebih suka menyendiri dan
cenderung sibuk dengan dunianya sendiri. Namun anak autis lebih peka terhadap
orang-orang di sekitarnya dalam hal perasaan, ia akan lebih mudah mengetahui
mana orang-orang yang benar-benar tulus padanya dan mana yang tidak. Emosi anak
autis lebih tidak bisa dikontrol daripada anak pada umumnya, apalagi ketika ia
sedang tantrum, ia akan lepas kendali.
Dalam masyarakat
keberadaan anak autis sering menjadi hal yang sering menjadi perbincangan,
entah itu dalam hal positif ataupun negatif. Banyak orang yang meragukan masa
depan anak-anak autis, karena banyak dari mereka yang menganggap bahwa anak
autis ini tidak bisa melakukan apa-apa.
Dan hal yang
paling berperan dalam mengatasi dampak- dampak ini adalah penerimaan yang baik
dalam keluarga, serta dukungan dengan cinta dan kasih sayang yang tulus
terhadap anak autis. Karena mereka akan lebih mamahami hal-hal yang di
ungkapkan melalui perasaan yang tulus.
D.
MEDIA DAN TERAPI
UNTUK ANAK AUTIS
a. Terapi dengan media musik
Anak-anak autis
menganggap alat musik sebagai media menyenangkan, karena bentuk serta bunyinya.
Itu sebabnya, peralatan musik bisa menjadi perantara dalam membangun hubungan
antara anak autistik dengan orang lain. Terapi musik juga
mampu menstimulasi aktivitas otak dalam memahami dan mengenali proses yang
terjadi di sekeliling anak. Caranya? Mempelajari hubungan sebab akibat antara
tindakan dengan bunyi yang dihasilkan alat musik. Anak juga memiliki kebebasan
untuk mengekspresikan diri, seperti memukul atau meniup instrumen, berteriak,
mengekspresikan rasa senang, dll.
Tidak hanya itu, para
peneliti menemukan bahwa musik sendiri memang mampu meningkatkan pertumbuhan
otak anak karena musik itu sendiri merangsang pertumbuhan sel
otak. Musik bisa membuat kita rileks dan senang hati, yang merupakan emosi
positif. Emosi positif inilah membuat fungsi berfikir seseorang menjadi
maksimal. Selain diperkenalkan dengan instrument musik, terapi musik juga dapat
dilakukan dengan memutar musik saat anak tidur dan bangun atau
berkativitas dengan volume pelan yang cukup didengar oleh semua orang
disekitar. Ketika memutar musik ini anak tidak harus
konsentrasi atau sengaja mendengarkan. Mereka bisa tidur atau bermain sesuka
hati mereka selama 30 hingga 60 menit.
Terapi musik mampu menstimulasi aktivitas otak dalam memahami dan mengenali proses yang terjadi di sekeliling anak. Bagaimana caranya?
Terapi musik mampu menstimulasi aktivitas otak dalam memahami dan mengenali proses yang terjadi di sekeliling anak. Bagaimana caranya?
Perkembangan kecerdasan
emosional dan intelegensi anak autis yang diberi terapi musik
sejak dini lebih baik dibandingkan anak autis tidak
mendapatkan terapi musik. Seperti apa terapi ini?
Anak-anak autistik
menganggap alat musik sebagai media menyenangkan, karena bentuk serta bunyinya.
Itu sebabnya, peralatan musik bisa menjadi perantara dalam membangun hubungan
antara anak autistik dengan orang lain. Terapi musik juga
mampu menstimulasi aktivitas otak dalam memahami dan mengenali proses yang
terjadi di sekeliling anak. Caranya? Mempelajari hubungan sebab akibat antara
tindakan dengan bunyi yang dihasilkan alat musik. Anak juga memiliki kebebasan
untuk mengekspresikan diri, seperti memukul atau meniup instrumen, berteriak,
mengekspresikan rasa senang, dll.
Tidak hanya itu, para peneliti menemukan bahwa musik sendiri memang mampu meningkatkan pertumbuhan otak anak karena musik itu sendiri merangsang pertumbuhan sel otak. Musik bisa membuat kita rileks dan senang hati, yang merupakan emosi positif. Emosi positif inilah membuat fungsi berfikir seseorang menjadi maksimal. Selain diperkenalkan dengan instrument musik, terapi musik juga dapat dilakukan dengan memutar musik saat anak tidur dan bangun atau berkativitas dengan volume pelan yang cukup didengar oleh semua orang disekitar. Ketika memutar musik ini anak tidak harus konsentrasi atau sengaja mendengarkan. Mereka bisa tidur atau bermain sesuka hati mereka selama 30 hingga 60 menit.
Tidak hanya itu, para peneliti menemukan bahwa musik sendiri memang mampu meningkatkan pertumbuhan otak anak karena musik itu sendiri merangsang pertumbuhan sel otak. Musik bisa membuat kita rileks dan senang hati, yang merupakan emosi positif. Emosi positif inilah membuat fungsi berfikir seseorang menjadi maksimal. Selain diperkenalkan dengan instrument musik, terapi musik juga dapat dilakukan dengan memutar musik saat anak tidur dan bangun atau berkativitas dengan volume pelan yang cukup didengar oleh semua orang disekitar. Ketika memutar musik ini anak tidak harus konsentrasi atau sengaja mendengarkan. Mereka bisa tidur atau bermain sesuka hati mereka selama 30 hingga 60 menit.
b.
Terapi
Anak Autis di Rumah
Ada beberapa persyaratan yang
diperlukan untuk menjalankan terapi anak autis di rumah, yaitu :
a. Pengetahuan orang tua akan metode terapi
b. Pengelolaan proses terapi yang menyangkut pengawasan dan pembinaan terapis
c. Ruangan yang bebas distraksi, cukup sejuk dan cukup penerangan
d. Dibutuhkan meja dan kursi anak
e. Alat peraga dan peralatan latihan motorik dan sensoris yang sesuai dengan materi yang akan diberikan
f. Evaluasi proses terapi secara periodik
g. Dana yang cukup untuk membayar 2 – 3 orang terapis
h. Terapis yang handal dalam melakukan terapi perilaku.
a. Pengetahuan orang tua akan metode terapi
b. Pengelolaan proses terapi yang menyangkut pengawasan dan pembinaan terapis
c. Ruangan yang bebas distraksi, cukup sejuk dan cukup penerangan
d. Dibutuhkan meja dan kursi anak
e. Alat peraga dan peralatan latihan motorik dan sensoris yang sesuai dengan materi yang akan diberikan
f. Evaluasi proses terapi secara periodik
g. Dana yang cukup untuk membayar 2 – 3 orang terapis
h. Terapis yang handal dalam melakukan terapi perilaku.
Apabila semua syarat di atas
dapat disediakan, maka terapi di rumah dapat menjadi pilihan utama. Tetapi
apabila tidak mungkin menyediakan persyaratan minimal ini, maka terapi
sebaiknya dilakukan di institusi, terapi di rumah dijadikan sebagai kelanjutan
terapi di sekolah.
Mengajarkan Kemampuan Merawat /
Bantu Diri Anak Autisme, pengertiannya adalah Kemampuan merawat diri adalah
kecakapan atau keterampilan untuk mengurus atau menolong diri sendiri dalam
kehidupan sehari-hari sehingga tidak tergantung pada orang lain. Dimana Tujuan
Latihan Merawat Diri ini adalah sbb :
Bagi anak autis, tujuan latihan merawat diri adalah :a. Agar dapat melakukan sendiri keperluannya sehari-hari
b. Menumbuhkan rasa percaya diri dan meminimalkan bantuan yang diberikan
c. Memiliki kebiasaan tertib dan teratur
d. Dapat menjaga kebersihan dan kesehatan badannya
e. Dapat beradaptasi dengan lingkungannya pada kondisi atau situasi di mana ia berada
f. Dapat menjaga diri dan menghindar dari hal-hal yang membahayakan.
E.
KISAH INSPIRATIF PENDERITA AUTIS
Kisah ini dituturkan oleh seorang
ibu yang mempunyai anak yang tergolong anak autis.
Saat anak pertama saya lahir, yang ada dalam benak saya dan suami
adalah kebahagiaan yang tiada tara. Fikri lahir sebagai bayi mungil yang lucu, tampan, juga
sehat. Di mataku, anak laki-laki mungilku nyaris sempurna. Namun saya
sempat merasa bimbang, Fikri hampir tak pernah menangis di hari-hari pertama
kelahirannya. Dia menghabiskan waktunya dengan tidur, kecuali saat mandi dan
ganti popok. Bahkan untuk minum ASI pun harus saya bangunkan. Pernah setumpuk
baskom jatuh tepat di depan kamar tidurnya dan menimbulkan suara keras, namun
dia tetap tertidur pulas. Tak pernah saya bercanda dengannya, mendengar
tangisnya atau ocehannya. Waktu itu saya menghibur diri, mungkin karena saya
tinggal di Solo dengan udara yang sejuk dan lingkungannya nyaman.
Saat Fikri berumur satu bulan, saya pindah ke Semarang. Hari pertama
di Semarang, Fikri mampu menangis keras. Hingga hari-hari berikutnya dia tak
lagi menghabiskan waktu untuk tidur sepanjang hari. Dia mampu mengangkat
kepala, tengkurap, mengoceh dan sebagainya. Saya pun sedikit lega. Jelang usianya
yang pertama, Fikri mampu berjalan tanpa berpegangan. Badannya pun gemuk,
sehat, kulitnya putih bersih, wajahnya semakin kelihatan tampan, siapapun pasti
gemas melihatnya. Namun kembali saya dibuat bimbang, tingkah laku Fikri sedikit
berbeda dengan anak satu tahun kebanyakan. Dia tidak menoleh sedikitpun ketika
dipanggil, padahal dia bisa mendengar. Matanya tidak pernah fokus terhadap
sesuatu, tidak ada kontak mata. Dia seperti berada dalam dunianya sendiri.
Tanda-tanda anak autis ada pada diri Fikri. Kebimbangan semakin merayapi
benakku.
Vonis
Autisme
Sempat saya menepis kegundahan hati, Fikri baru berusia satu tahun,
terlalu dini jika memberi diagnosis dia autis atau bukan. Namun saat berusia
dua tahun, gejala-gejala itu semakin jelas. Tingkah laku Fikri semakin
hiperaktif, tubuhnya bagaikan dikendalikan oleh mesin dia seperti tak punya
rasa lelah. Diperparah pula dia belum bisa mengucap kata satu pun. Padahal
seumuran itu paling tidak harus sudah bisa menyusun dua kata.
Saya membawa Fikri ke dokter spesialis ahli pediatrik. Dokter
menyatakan Fikri mengalami gangguan perkembangan. Sang dokter curiga Fikri
adalah penyandang autis, beliau pun menyarankan kami mendatangi tempat
rehabilitasi anak untuk observasi dan terapi. Tak puas dengan pernyataan dokter
tersebut, saya pergi ke ahli pediatrik lain yang lebih senior. Kali ini dokter
langsung memberi vonis Fikri positif autis. Apa yang saya takutkan terjadi.
Hampir setiap malam saya menangis di samping tubuh mungil Fikri yang
sedang tertidur pulas. Saya menyesali diri sendiri. Hampir saya menyalahkan
Tuhan. Kenapa harus Fikri? Kenapa harus anakku? Semua teori ilmu tentang
bagaimana mendidik dan mengasuh anak yang selalu saya pelajari semenjak saya
hamil sia-sia. Semua harapan dan mimpi-mimpi indahku untuk memiliki anak yang
membanggakan terhapus. Fikri bagaikan mutiaraku yang hilang.
Saya
Bangkit Dari Kesedihan
Beberapa hari saya sempat mengalami masa-masa shock yang luar biasa.
Namun kemudian saya sadar, saya harus berbuat sesuatu untuk kesembuhan Fikri.
Kembali saya dan suami mendatangi ahli pediatrik. Sekali lagi dokter pediatrik
menyatakan Fikri adalah pengidap autis namun masih dalam taraf ringan. Kami pun
membawa Fikri ke rehabilitasi anak yayasan Talitakum. Di sana adalah tempat
anak-anak berkebutuhan khusus diterapi dan bersekolah.
Di rumah, saya harus meluangkan lebih banyak waktu untuk bersama
Fikri. Apa yang Fikri pelajari di tempat terapi saya terapkan di rumah. Saya
buat kartu-kartu bergambar, puzzle, saya beli balok-balokan dan mainan edukatif
lain yang tak saya pedulikan harganya. Setiap hari ingin saya ajak Fikri
menatapku, berbicara, bernyanyi, bermain, menatap dunia, supaya dia terbangun
dari dunianya sendiri. Selain itu, Fikri harus diet makanan yang mengandung gluten dan
kasein, atau tidak boleh mengonsumsi gandum, susu sapi dan olahannya. Termasuk
makanan yang mengandung pengawet atau penyedap. Hal ini juga menjadi tantangan
yang tak mudah, karena kebanyakan jajanan dan snack ringan berasal dari
bahan-bahan tersebut. Untuk kebutuhan susu, Fikri mengonsumsi susu kedelai yang
setiap hari saya buat sendiri, karena susu kedelai buatan pabrik harganya
sangatlah mahal. Untung Fikri mau meminum susu kedelai buatanku.
Tiba saatnya Fikri masuk TK dan SD, ada banyak hal mengagumkan. Di usianya yang ke lima
Fikri sudah duduk di TK besar, TK untuk anak-anak normal. Walau kadang masih
tampak perilaku autistiknya namun dia telah mengalami kemajuan perkembangan
yang luar biasa. Dia sudah bisa membaca. Mampu mengerjakan matematika penjumlahan
dan pengurangan dengan lancar. Dia pun hafal surat-surat pendek hingga surat Al
Qoriah, juga surat Al Ghasiyah. Dia juga hafal beberapa doa sehari-hari. Dia
hafal nama-nama jalan kota Semarang, dan juga hafal rute-rute beberapa tempat,
walaupun dia jarang melewatinya.
Fikri yang dulu sempat saya sesali kehadirannya di dunia ini, kini
mampu mengingatkanku akan Sang Maha Segalanya. Misalnya saat siang hari kami
berjalan-jalan di mall, Fikri sering berkata “Ma, kita sholat Dzuhur dulu ya,
Ma!” Kalau saya berkata, “Fikri, kita sholatnya nanti saja di rumah
bagaimana?”. Dia menyangkal ,”Jangan Ma, sekarang saja. Kan sudah adzan!”. Atau
saat saya menyesali turunnya hujan karena saya jadi terlambat masuk kerja,
Fikri berkata, ”Ma, hujan itu kan rahmat dari Allah.”
Perjuangan
Terus Berjalan
Kini di usianya yang ke tujuh, Fikri duduk di kelas 1 SD di
Semarang, sebuah sekolah favorit. Alhamdulillah semenjak Fikri SD dia tidak
perlu terapi lagi. Saya dan suamiku sungguh sangat berterima kasih kepada para
terapis yang telah lama membantu kami. Walau begitu, perjuangan tetap berjalan,
Fikri masih anak yang polos dan susah untuk menerima penjelasan yang butuh
analisa. Dia hanya mampu berpikir sesuai dengan kenyataan yang ada. Sulit
menjelaskan pelajaran tentang PKN, IPS dan ilmu-ilmu yang membutuhkan
penalaran. Menjelaskan sesuatu pada Fikri akan lebih mudah jika ada sesuatu
yang bisa dia lihat, dia rasakan.
Tak jarang teman-temannya sering menggoda karena sifatnya yang polos
dan tidak bisa bermain pura-pura. Pernah sepatunya disembunyikan temannya dan
dia harus pulang tanpa alas kaki, atau bekal makanya diambil teman. Kesabaran
memang harus selalu tertanam dalam hati kami. Namun alhamdulillah para guru di
sekolah Fikri sangat perhatian dengan Fikri, para guru sudah memahami karakter
dan latar belakang perilaku dia.
Fikri tidak pernah takut untuk tampil di depan, dia selalu meminta
yang pertama maju saat anak-anak yang lain ogah untuk tampil atau maju di depan
kelas, sehingga kadang menjengkelkan. Namun Alhamdulillah seiring dengan
perkembangan umurnya dia lebih mudah untuk diatur, emosinya juga lambat laun
dapat terkontrol. Fikri juga selalu menanyakan apapun sampai detil hingga orang sulit
untuk menjawab. Fikri senang sekali menggambar, dia mampu menggambar sesuatu
hingga hal-hal detil kecil sekalipun. Dia paling suka menggambar lampu dan
jalanan lengkap dengan lampu-lampunya hingga detil.
Fikri
Adalah Karunia
Setiap jengkal perkembangan Fikri hingga kini harus selalu kami
syukuri. Fikri adalah karunia yang tiada tandingannya. Walaupun saya dan suami
telah berkorban banyak tenaga, pikiran, waktu, harta, karir dan apapun itu
untuk kesembuhan Fikri. Hampir seluruh hidup ini tercurah untuk Fikri. Mengasuh
dan mendidik seorang Fikri memang harus penuh kesabaran. Mengasuh seorang Fikri
bagaikan mengasuh 5 orang anak normal.
Tapi semua itu tak pernah kusesali, semua itu tak sebanding atas
karunia dan kasih sayang Allah SWT kepada kami. Allah Maha Tahu bagaimana cara
menyayangi kami. Allah mengirim Fikri supaya kami mampu lebih banyak belajar
tentang arti kesabaran, arti cinta kasih dan ketulusan.
Saya yakin autisme bisa disembuhkan. Autisme bukanlah penyakit,
tetapi suatu keistimewaan yang disandang. Keistimewaan ini tidak diderita oleh
seorang anak pilihan untuk orang tua pilihan. Mutiara yang dulu hilang,
ternyata bukan hilang, tetapi hanya tersembunyi. Yang harus kami gali dengan
penuh kesabaran. Menggali potensi yang dimilikinya, supaya bersinar seperti
mutiara yang mahal harganya.
DAFTAR PUSTAKA
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/03/dampak-autisme/
http://eprints.unika.ac.id/1091/
http://cae-indonesia.com/terapi-anak-autis-di-rumah/
http://www.parenting.co.id/article/usia.sekolah/terapi.musik.untuk.anak.autis/001/004/209
http://memahamidampakanakautismelebihdetail.blogspot.com/
http://www.vemale.com/inspiring/lentera/13214-kisah-seorang-ibu-dengan-anak-penyandang-autisme-ii.html
http://eprints.unika.ac.id/1091/
http://cae-indonesia.com/terapi-anak-autis-di-rumah/
http://www.parenting.co.id/article/usia.sekolah/terapi.musik.untuk.anak.autis/001/004/209
http://memahamidampakanakautismelebihdetail.blogspot.com/
http://www.vemale.com/inspiring/lentera/13214-kisah-seorang-ibu-dengan-anak-penyandang-autisme-ii.html