Friday, March 6, 2015

PSIKOLOGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


MATERI : AUTIS



A.     PENYESUAIAN SOSIAL  ANAK AUTIS

Dalam hal penyesuaian sosial anak autis ini, kita tidak bisa memaksa mereka untuk mengikuti  aktivitas-aktivitas seperti anak-anak  pada umumnya. “Mereka Istimewa”, jadi keluarga, guru atau orang-orang terdekat mereka  yang harus memahami mereka ketika mereka berada dalam lingkungan sosial.
            Anak autis perlu lebih sering diajarkan mengenai kontak mata agar mereka terbiasa berkomunikasi dengan orang lain dalam lingkungan sosial mereka, juga agar mereka bisa mengurangi pemikiran mereka yang cenderung hidup dalam dunianya sendiri.
            Untuk penyesuaian dalam kegiatan-kegiatan dalam lingkungan sosial seperti  proses belajar, bermain atau yang lainnya anak autis perlu bimbingan tersendiri. Maka dari itu di sekolah-sekolah inklusi selalu melibatkan orang tua atau guru pembimbing yang selalu menemani disamping mereka ketika kegiatan belajar berlangsung. Hal itu bertujuan agar anak autis bisa mendengarkan guru yang sedang mendengarkan, dan tidak  termenung dan sibuk dalam dunianya sendiri, melainkan terfokus pada dunia sosial mereka.

B.     Kepribadian Anak Autis
Biasanya gejala Autisme mulai terlihat sebelum usia 3 tahun dan ditandai dengan kegagalan dalam interaksi sosial karena kegagalan perkembangan berbahasa dan kegagalan dalam menjalin hubungan dengan orang tuanya.Kondisi ini biasanya yang menyebabkan orang tua mencari pertolongan kepada tenaga profesional.
Perkembangan psikososial anak dengan Autisme terganggu karena terdapat berbagai hambatan pada awal kehidupan anak yang  akan  mempengaruhi proses.
tumbuh kembang anak selanjutnya,  Kepribadian anak dengan Autisme sangat unik, antara lain :
1)    Dalam interaksi sosial :

•    Semua anak  Autisme tidak mampu berhubungan  secara normal baik dengan orang tua maupun dengan orang lain. Ia seakan akan tidak mengenali ataupun membedakan orang orang penting dalam kehidupannya,seperti orang tua, saudara, dan pengasuh. Juga tampak tidak ada cemas perpisahan walau ia ditinggalkan sendiri di dalam suatu lingkungan dan orang  yang masih asing baginya.
•    Saat bayi, anak  Autisme mungkin akan terbaring asyik di boksnya atau asyik bermain sendiri selama berjam-jam tanpa menangis ataupun membutuhkan orang tuanya, sehingga awalnya orang tua mengira ia anak yang manis dan mudah diatur. Namun ada  juga  yang  sebaliknya, justru sangat rewel dan sering menangis / cengeng.
Anak menolak untuk dipeluk dan disayang, lebih senang menyendiri, tidak tertarik kepada anak lain,tidak mampu untuk memahami aturan aturan yang berlaku, kurang responsif terhadap isyarat  sosial seperti kontak mata atau senyuman.
•    Saat memasuki usia sekolah, mungkin perilaku menarik dirinya  akan berkurang  atau menjadi tidak nyata lagi, terutama pada anak Autisme yang mempunyai fungsi lebih baik. Namun ia masih sulit  untuk dapat  bermain  dengan anak sebayanya, tidak dapat berteman, sosialisasinya buruk dan tidak sesuai, serta yang utama ia tidak dapat berempati.
•    Saat remaja akhir, anak Autisme yang berkembang baik, sering menunjukkan keinginan untuk berteman, namun pendekatannya yang aneh dan ketidak mampuannya untuk bereaksi terhadap keinginan, emosi, dan perasaan orang lain merupakan kendala besar dalam membina hubungan dengan teman. Saat remaja dan saat dewasa,individu  dengan Autisme, mempunyai keinginan seksual, tapi kemampuannya untuk bersosialisasi merupakan hambatan dalam mengembangkan hubungan yang bersifat seksual. Sangat jarang individu dengan Autisme menikah.

2)    Dalam komunikasi dan bahasa

•    Kekurangan dan penyimpangan yang nyata dalam perkembangan berbahasa merupakan  salah satu kriteria utama untuk menegakan diagnosis Autisme.
•    Komunikasi : kemampuan berbahasa berkembang sangat lambat atau tidak sama sekali. Mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti orang lain, meniru (membeo), nada suara yang monoton, tidak dapat bereaksi timbal balik dalam pembicaraan.
•    Mengoceh pada tahun pertama kehidupan tampak kurang dibanding anak lain seusianya.
•    Biasanya mereka tidak menunjuk atau memakai gerakkan tubuh untuk menyampaikan keinginannya, tapi dengan mengambil tangan orangtuanya / orang lain untuk mengambil objek yang dimaksud.
•    Sukar untuk memahami arti kata-kata dan sukar menggunakan bahasa dalam konteks yang benar.
•    Berbeda dengan anak normal seusianya yang kemampuan dan pemahaman bahasa reseptifnya telah berkembang dengan baik sebelum mereka bisa bicara, pada anak autisme yang verbal tampaknya mereka berbicara tanpa memahami arti kata tersebt.
•    Anak autisme sering mengulang kata-kata yang baru saja mereka dengar atau yang pernah ia dengar sebelumnya tanpa maksud untuk berkomunikasi.
•    Namun ada kata-kata atu kalimat yang kadang-kadang muncul, kadang-kadang menghilang dari perbendaharaan katanya.
•    Bila bertanya sering menggunakan kata ganti orang dengan terbalik, ‘saya’ jadi ‘kamu;, dan menyebut diri sendiri sebagai “kamu”.
•    Dalam tahun pertama kehidupan mungkin menurun atau abnormal banyaknya dan frekuensi celoteh anak dengan Autisme. Beberapa anak mengeluarkan bunyi – bunyi klik, suara, pekikan , dan suku kata tanpa arti dalam cara stereotipik tanpa terlihat minat untuk berkomunikasi.
•    Anak dengan Autisme mungkin lebih banyak berkata dari pada yang dimengertinya. Kata kata bahkan hampir seluruh kalimat mungkin didalam atau diluar pembendaharaan anak, anak dengan Autisme mungkin menggunakan suatu kata dan tidak mengatakannya lagi dalam seminggu, sebulan atau beberapa tahun. Mereka dapat bicara ekolalia baik segera atau terlambat, atau frase stereotipik diluar konteks.
•    Kadang pada anak dengan Autisme terdapat kesulitan dalam artikulasi, terdapat kualitas dan irama suara yang aneh.50 % anak dengan Autisme tidak pernah menggunakan pembicaraan yang berguna.

3)    Dalam bermain :

•    Abnormalitas dalam bermain seperti stereotipik, diulang-ulang dan tidak kreatif. Tidak menggunakan mainan sesuai fungsinya. Lebih menyukai benda-benda yang bukan mainan (toys), misal : botol bekas shampoo, minyak wangi, kaleng bekas, kotak bekas makanan, dan lain-lain.
•    Kurang dapat bermain spontan atau imajinatif.
•    Tidak meniru orang lain / imitasi.
•    Sulit untuk bermain berpura-pura.
•    Anak dengan Autisme tidak dapat meniru atau menggunakan pantomim abstrak. Aktivitas dan permainan anak Autisme jika ada biasanya kaku, berulang dan monoton.Anak Autisme biasanya tidak tahan terhadap transisi dan perubahan, bila merupakan kebalikan dari rutinitas mungkin menyebabkan panik atau temper tantrum. Kondisi yang berubah tersebut seperti pindah kerumah baru, memindahkan perabotan didalam ruangan, merubah arah jalan yang biasa dilalui
•    Pada anak dengan Autisme pada tahun pertama kehidupan tidak menunjukan  atau sedikit menunjukan permainan yang dieksplorasi yang biasa diperlihatkan oleh anak normal. Mainan dan benda  benda sering dimanipulasi    dengan  cara yang tidak seharusnya, sedikit variasi, sedikit kreativitas dan imaginasi, dan sedikit ciri simbolik.

4)    Perilaku motorik :

•    Stereotipik (gerakan-gerakan badan yang berulang) seperti bertepuk-tepuk tangan, hand-flapping (mengepak-ngepakkan tangan), rocking (duduk sambil mengayun-ayunkan badan ke depan – ke belakang).
•    Hiperaktivitas biasa terjadi pada anak usia pra-sekolah atau sebaliknya justru sangat pasif.
•    Koordinasi motorik yang terganggu, misal tiptoe walking, clumsiness, kesulitan belajar mengikat tali sepatu, menyikat gigi, memotong makanan, mengancing baju.
•    Tantrum (mengamuk) tanpa sebab yang jelas.
•    Agresif atau self-injury.
•    Kesulitan berubah terhadap rutinitas.

5)    Respon abnormal terhadap perangsangan indera :

•    Mungkin hiper/hipo sensitif (dengan bermacam tingkatan) pada penglihatan, pendengaran, perabaan/sentuhan, penciuman dan pengecapan.

6)    Gangguan emosi/ alam perasaan dan afektif:

•    Beberapa anak menunjukkan perubahan perasaan yang tiba-tiba, mungkin menangis atau tertawa tanpa alasan yang jelas atau  tidak mengekspresikan sesuai dengan keadaan
•    Rasa takut yang sangat kadang-kadang muncul terhadap objek yang sebenarnya tidak menakutkan.
•    Keterikatan pada benda-benda tertentu.
•    Cemas perpisahan yang berat, juga depresi berat bisa timbul.

7)    Fungsi intelektual :

•    Sekitar 40 % anak dengan autisme masa kanak mempunyai IQ di bawah skor 50 – 55 (retardasi mental sedang, berat, atau sangat berat).
•    30 % mempunyai skor 50 – 70 (retardasi mental ringan).
•    30 % mempunyai skor 70 atau lebih.
•    Penelitian epidemiologik dan klinik menunjukkan seperlima dari anak autisme mempunyai intelegensi non-verbal yang normal.
•    Skor IQ pada anak autisme lebih mencerminkan adanya problem pada kemampuan berbicara verbal dengan runtun dan abstraksi.
•    Kemampuan kognitif atau visuomotor yang tidak biasa atau precocious dapat terjadi pada beberapa anak autisme, misal yang disebut idiot or autistic savants, yang mempunyai daya ingat dan kemampuan berhitung luar biasa, di atas kemampuan anak sebayanya. Kemampuan precocious lain pada anak autistik adalah yang disebut hyperlexia, suatu kemampuan membaca awal yang baik (walaupun mereka tidak memahami apa yang dibacanya), kemampuan mengingat dan menceritakan kembali/membaca puisi, kemampuan musikal (menyanyi atau memainkan alat musik).

C.    DAMPAK AUTIS

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dampak psikologis pada orang tua yang mempunyai anak autis, antara lain ketidakberdayaan, kecemasan, rasa malu, penyesalan atau perasaan bersalah, self-esteem yang rendah, peningkatan perilaku beragama, stres, frustrasi, shock dan jengkel. Ketidakberdayaan terjadi pada orang tua yang mempunyai anak autis karena orang tua tidak memiliki ketrampilan dan pengetahuan mengenai penanganan anak autis.
Orang tua yang memiliki anak autis juga merasa cemas akan masa depan anaknya apabila mereka tua nanti. Selain itu kecemasan juga dirasakan pada orang tua yang memiliki penyakit menurun, seperti diabetes. Penyakit tersebut dapat menurun kepada anaknya, terutama yang autis karena anak autis tidak memiliki olah raga yang rutin. Malu ketika anaknya yang autis bertingkah laku aneh di tempat umum juga dirasakan oleh orang tua. Walaupun malu orang tua yang mempunyai anak autis tetap membawa anaknya jalan-jalan ke tempat-tempat yang disukai anaknya yang autis. Merasa bersalah karena tidaC. k bisa menjaga anaknya dengan baik juga dirasakan oleh orang tua. Apalagi bila sebelumnya anaknya sehat namun karena terjatuh anak tersebut menjadi autis maka orang tua akan merasa menyesal.
 Shock mendengar diagnosis autis dirasakan orang tua, terutama karena fisik anak autis yang biasa saja. Tidak adanya riwayat dalam keluarga yang menderita autis juga menyebabkan orang tua shock ketika mengetahui anaknya menderita autis.
Sedangkan dampak bagi  anak autis sendiri, ia menjadi lebih sulit berkomunikasi dengan lingkungannya, lebih suka menyendiri dan cenderung sibuk dengan dunianya sendiri. Namun anak autis lebih peka terhadap orang-orang di sekitarnya dalam hal perasaan, ia akan lebih mudah mengetahui mana orang-orang yang benar-benar tulus padanya dan mana yang tidak. Emosi anak autis lebih tidak bisa dikontrol daripada anak pada umumnya, apalagi ketika ia sedang tantrum, ia akan lepas kendali.
Dalam masyarakat keberadaan anak autis sering menjadi hal yang sering menjadi perbincangan, entah itu dalam hal positif ataupun negatif. Banyak orang yang meragukan masa depan anak-anak autis, karena banyak dari mereka yang menganggap bahwa anak autis ini tidak bisa melakukan apa-apa.
Dan hal yang paling berperan dalam mengatasi dampak- dampak ini adalah penerimaan yang baik dalam keluarga, serta dukungan dengan cinta dan kasih sayang yang tulus terhadap anak autis. Karena mereka akan lebih mamahami hal-hal yang di ungkapkan melalui perasaan yang tulus.

D.    MEDIA DAN TERAPI UNTUK ANAK AUTIS

a.       Terapi dengan media musik
Anak-anak autis menganggap alat musik sebagai media menyenangkan, karena bentuk serta bunyinya. Itu sebabnya, peralatan musik bisa menjadi perantara dalam membangun hubungan antara anak autistik dengan orang lain. Terapi musik juga mampu menstimulasi aktivitas otak dalam memahami dan mengenali proses yang terjadi di sekeliling anak. Caranya? Mempelajari hubungan sebab akibat antara tindakan dengan bunyi yang dihasilkan alat musik. Anak juga memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri, seperti memukul atau meniup instrumen, berteriak, mengekspresikan rasa senang, dll.

Tidak hanya itu, para peneliti menemukan bahwa musik sendiri memang mampu meningkatkan pertumbuhan otak anak karena musik itu sendiri merangsang pertumbuhan sel otak. Musik bisa membuat kita rileks dan senang hati, yang merupakan emosi positif. Emosi positif inilah membuat fungsi berfikir seseorang menjadi maksimal. Selain diperkenalkan dengan instrument musik, terapi musik juga dapat dilakukan dengan memutar musik saat anak tidur dan bangun atau berkativitas dengan volume pelan yang cukup didengar oleh semua orang disekitar. Ketika memutar musik ini anak tidak harus konsentrasi atau sengaja mendengarkan. Mereka bisa tidur atau bermain sesuka hati mereka selama 30 hingga 60 menit.

Terapi musik mampu menstimulasi aktivitas otak dalam memahami dan mengenali proses yang terjadi di sekeliling anak. Bagaimana caranya?
Perkembangan kecerdasan emosional dan intelegensi anak autis yang diberi terapi musik sejak dini lebih baik dibandingkan anak autis tidak mendapatkan terapi musik. Seperti apa  terapi ini?
Anak-anak autistik menganggap alat musik sebagai media menyenangkan, karena bentuk serta bunyinya. Itu sebabnya, peralatan musik bisa menjadi perantara dalam membangun hubungan antara anak autistik dengan orang lain. Terapi musik juga mampu menstimulasi aktivitas otak dalam memahami dan mengenali proses yang terjadi di sekeliling anak. Caranya? Mempelajari hubungan sebab akibat antara tindakan dengan bunyi yang dihasilkan alat musik. Anak juga memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri, seperti memukul atau meniup instrumen, berteriak, mengekspresikan rasa senang, dll.

            Tidak hanya itu, para peneliti menemukan bahwa musik sendiri memang mampu meningkatkan pertumbuhan otak anak karena musik itu sendiri merangsang pertumbuhan sel otak. Musik bisa membuat kita rileks dan senang hati, yang merupakan emosi positif. Emosi positif inilah membuat fungsi berfikir seseorang menjadi maksimal. Selain diperkenalkan dengan  instrument musik, terapi musik juga dapat dilakukan dengan memutar musik saat anak tidur dan bangun atau berkativitas dengan volume pelan yang cukup didengar oleh semua orang disekitar. Ketika memutar musik ini anak tidak harus konsentrasi atau sengaja mendengarkan. Mereka bisa tidur atau bermain sesuka hati mereka selama 30 hingga 60 menit.

b.    Terapi Anak Autis di Rumah

Ada beberapa persyaratan yang diperlukan untuk menjalankan terapi anak autis di rumah, yaitu :
a. Pengetahuan orang tua akan metode terapi
b. Pengelolaan proses terapi yang menyangkut pengawasan dan pembinaan terapis
c. Ruangan yang bebas distraksi, cukup sejuk dan cukup penerangan
d. Dibutuhkan meja dan kursi anak
e. Alat peraga dan peralatan latihan motorik dan sensoris yang sesuai dengan materi yang akan diberikan
f. Evaluasi proses terapi secara periodi
k
g. Dana yang cukup untuk membayar 2 – 3 orang terapis
h. Terapis yang handal dalam melakukan terapi perilaku.
Apabila semua syarat di atas dapat disediakan, maka terapi di rumah dapat menjadi pilihan utama. Tetapi apabila tidak mungkin menyediakan persyaratan minimal ini, maka terapi sebaiknya dilakukan di institusi, terapi di rumah dijadikan sebagai kelanjutan terapi di sekolah.
Mengajarkan Kemampuan Merawat / Bantu Diri Anak Autisme, pengertiannya adalah Kemampuan merawat diri adalah kecakapan atau keterampilan untuk mengurus atau menolong diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak tergantung pada orang lain. Dimana Tujuan Latihan Merawat Diri ini adalah sbb :
Bagi anak autis, tujuan latihan merawat diri adalah :
a. Agar dapat melakukan sendiri keperluannya sehari-hari
b. Menumbuhkan rasa percaya diri dan meminimalkan bantuan yang diberikan
c. Memiliki kebiasaan tertib dan teratur
d. Dapat menjaga kebersihan dan kesehatan badannya
e. Dapat beradaptasi dengan lingkungannya pada kondisi atau situasi di mana ia berada
f. Dapat menjaga diri dan menghindar dari hal-hal yang membahayakan.


E.     KISAH INSPIRATIF PENDERITA AUTIS
Kisah ini dituturkan oleh seorang ibu yang mempunyai anak yang tergolong anak autis.
Saat anak pertama saya lahir, yang ada dalam benak saya dan suami adalah kebahagiaan yang tiada tara. Fikri lahir sebagai bayi mungil yang lucu, tampan, juga sehat. Di mataku, anak laki-laki mungilku nyaris sempurna. Namun saya sempat merasa bimbang, Fikri hampir tak pernah menangis di hari-hari pertama kelahirannya. Dia menghabiskan waktunya dengan tidur, kecuali saat mandi dan ganti popok. Bahkan untuk minum ASI pun harus saya bangunkan. Pernah setumpuk baskom jatuh tepat di depan kamar tidurnya dan menimbulkan suara keras, namun dia tetap tertidur pulas. Tak pernah saya bercanda dengannya, mendengar tangisnya atau ocehannya. Waktu itu saya menghibur diri, mungkin karena saya tinggal di Solo dengan udara yang sejuk dan lingkungannya nyaman.
Saat Fikri berumur satu bulan, saya pindah ke Semarang. Hari pertama di Semarang, Fikri mampu menangis keras. Hingga hari-hari berikutnya dia tak lagi menghabiskan waktu untuk tidur sepanjang hari. Dia mampu mengangkat kepala, tengkurap, mengoceh dan sebagainya. Saya pun sedikit lega. Jelang usianya yang pertama, Fikri mampu berjalan tanpa berpegangan. Badannya pun gemuk, sehat, kulitnya putih bersih, wajahnya semakin kelihatan tampan, siapapun pasti gemas melihatnya. Namun kembali saya dibuat bimbang, tingkah laku Fikri sedikit berbeda dengan anak satu tahun kebanyakan. Dia tidak menoleh sedikitpun ketika dipanggil, padahal dia bisa mendengar. Matanya tidak pernah fokus terhadap sesuatu, tidak ada kontak mata. Dia seperti berada dalam dunianya sendiri. Tanda-tanda anak autis ada pada diri Fikri. Kebimbangan semakin merayapi benakku.
Vonis Autisme
Sempat saya menepis kegundahan hati, Fikri baru berusia satu tahun, terlalu dini jika memberi diagnosis dia autis atau bukan. Namun saat berusia dua tahun, gejala-gejala itu semakin jelas. Tingkah laku Fikri semakin hiperaktif, tubuhnya bagaikan dikendalikan oleh mesin dia seperti tak punya rasa lelah. Diperparah pula dia belum bisa mengucap kata satu pun. Padahal seumuran itu paling tidak harus sudah bisa menyusun dua kata.
Saya membawa Fikri ke dokter spesialis ahli pediatrik. Dokter menyatakan Fikri mengalami gangguan perkembangan. Sang dokter curiga Fikri adalah penyandang autis, beliau pun menyarankan kami mendatangi tempat rehabilitasi anak untuk observasi dan terapi. Tak puas dengan pernyataan dokter tersebut, saya pergi ke ahli pediatrik lain yang lebih senior. Kali ini dokter langsung memberi vonis Fikri positif autis. Apa yang saya takutkan terjadi.
Hampir setiap malam saya menangis di samping tubuh mungil Fikri yang sedang tertidur pulas. Saya menyesali diri sendiri. Hampir saya menyalahkan Tuhan. Kenapa harus Fikri? Kenapa harus anakku? Semua teori ilmu tentang bagaimana mendidik dan mengasuh anak yang selalu saya pelajari semenjak saya hamil sia-sia. Semua harapan dan mimpi-mimpi indahku untuk memiliki anak yang membanggakan terhapus. Fikri bagaikan mutiaraku yang hilang.
Saya Bangkit Dari Kesedihan
Beberapa hari saya sempat mengalami masa-masa shock yang luar biasa. Namun kemudian saya sadar, saya harus berbuat sesuatu untuk kesembuhan Fikri. Kembali saya dan suami mendatangi ahli pediatrik. Sekali lagi dokter pediatrik menyatakan Fikri adalah pengidap autis namun masih dalam taraf ringan. Kami pun membawa Fikri ke rehabilitasi anak yayasan Talitakum. Di sana adalah tempat anak-anak berkebutuhan khusus diterapi dan bersekolah.
Di rumah, saya harus meluangkan lebih banyak waktu untuk bersama Fikri. Apa yang Fikri pelajari di tempat terapi saya terapkan di rumah. Saya buat kartu-kartu bergambar, puzzle, saya beli balok-balokan dan mainan edukatif lain yang tak saya pedulikan harganya. Setiap hari ingin saya ajak Fikri menatapku, berbicara, bernyanyi, bermain, menatap dunia, supaya dia terbangun dari dunianya sendiri. Selain itu, Fikri harus diet makanan yang mengandung gluten dan kasein, atau tidak boleh mengonsumsi gandum, susu sapi dan olahannya. Termasuk makanan yang mengandung pengawet atau penyedap. Hal ini juga menjadi tantangan yang tak mudah, karena kebanyakan jajanan dan snack ringan berasal dari bahan-bahan tersebut. Untuk kebutuhan susu, Fikri mengonsumsi susu kedelai yang setiap hari saya buat sendiri, karena susu kedelai buatan pabrik harganya sangatlah mahal. Untung Fikri mau meminum susu kedelai buatanku.
Tiba saatnya Fikri masuk TK dan SD, ada banyak hal mengagumkan. Di usianya yang ke lima Fikri sudah duduk di TK besar, TK untuk anak-anak normal. Walau kadang masih tampak perilaku autistiknya namun dia telah mengalami kemajuan perkembangan yang luar biasa. Dia sudah bisa membaca. Mampu mengerjakan matematika penjumlahan dan pengurangan dengan lancar. Dia pun hafal surat-surat pendek hingga surat Al Qoriah, juga surat Al Ghasiyah. Dia juga hafal beberapa doa sehari-hari. Dia hafal nama-nama jalan kota Semarang, dan juga hafal rute-rute beberapa tempat, walaupun dia jarang melewatinya.
Fikri yang dulu sempat saya sesali kehadirannya di dunia ini, kini mampu mengingatkanku akan Sang Maha Segalanya. Misalnya saat siang hari kami berjalan-jalan di mall, Fikri sering berkata “Ma, kita sholat Dzuhur dulu ya, Ma!” Kalau saya berkata, “Fikri, kita sholatnya nanti saja di rumah bagaimana?”. Dia menyangkal ,”Jangan Ma, sekarang saja. Kan sudah adzan!”. Atau saat saya menyesali turunnya hujan karena saya jadi terlambat masuk kerja, Fikri berkata, ”Ma, hujan itu kan rahmat dari Allah.”
Perjuangan Terus Berjalan
Kini di usianya yang ke tujuh, Fikri duduk di kelas 1 SD di Semarang, sebuah sekolah favorit. Alhamdulillah semenjak Fikri SD dia tidak perlu terapi lagi. Saya dan suamiku sungguh sangat berterima kasih kepada para terapis yang telah lama membantu kami. Walau begitu, perjuangan tetap berjalan, Fikri masih anak yang polos dan susah untuk menerima penjelasan yang butuh analisa. Dia hanya mampu berpikir sesuai dengan kenyataan yang ada. Sulit menjelaskan pelajaran tentang PKN, IPS dan ilmu-ilmu yang membutuhkan penalaran. Menjelaskan sesuatu pada Fikri akan lebih mudah jika ada sesuatu yang bisa dia lihat, dia rasakan.
Tak jarang teman-temannya sering menggoda karena sifatnya yang polos dan tidak bisa bermain pura-pura. Pernah sepatunya disembunyikan temannya dan dia harus pulang tanpa alas kaki, atau bekal makanya diambil teman. Kesabaran memang harus selalu tertanam dalam hati kami. Namun alhamdulillah para guru di sekolah Fikri sangat perhatian dengan Fikri, para guru sudah memahami karakter dan latar belakang perilaku dia.
Fikri tidak pernah takut untuk tampil di depan, dia selalu meminta yang pertama maju saat anak-anak yang lain ogah untuk tampil atau maju di depan kelas, sehingga kadang menjengkelkan. Namun Alhamdulillah seiring dengan perkembangan umurnya dia lebih mudah untuk diatur, emosinya juga lambat laun dapat terkontrol. Fikri juga selalu menanyakan apapun sampai detil hingga orang sulit untuk menjawab. Fikri senang sekali menggambar, dia mampu menggambar sesuatu hingga hal-hal detil kecil sekalipun. Dia paling suka menggambar lampu dan jalanan lengkap dengan lampu-lampunya hingga detil.
Fikri Adalah Karunia
Setiap jengkal perkembangan Fikri hingga kini harus selalu kami syukuri. Fikri adalah karunia yang tiada tandingannya. Walaupun saya dan suami telah berkorban banyak tenaga, pikiran, waktu, harta, karir dan apapun itu untuk kesembuhan Fikri. Hampir seluruh hidup ini tercurah untuk Fikri. Mengasuh dan mendidik seorang Fikri memang harus penuh kesabaran. Mengasuh seorang Fikri bagaikan mengasuh 5 orang anak normal.
Tapi semua itu tak pernah kusesali, semua itu tak sebanding atas karunia dan kasih sayang Allah SWT kepada kami. Allah Maha Tahu bagaimana cara menyayangi kami. Allah mengirim Fikri supaya kami mampu lebih banyak belajar tentang arti kesabaran, arti cinta kasih dan ketulusan.
Saya yakin autisme bisa disembuhkan. Autisme bukanlah penyakit, tetapi suatu keistimewaan yang disandang. Keistimewaan ini tidak diderita oleh seorang anak pilihan untuk orang tua pilihan. Mutiara yang dulu hilang, ternyata bukan hilang, tetapi hanya tersembunyi. Yang harus kami gali dengan penuh kesabaran. Menggali potensi yang dimilikinya, supaya bersinar seperti mutiara yang mahal harganya.
Penulis:Kisah ini dikirim oleh Ibu Afiana Rohmani Abdul Kohar. Saat ini beliau tinggal di Semarang











DAFTAR PUSTAKA

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/03/dampak-autisme/
http://eprints.unika.ac.id/1091/
http://cae-indonesia.com/terapi-anak-autis-di-rumah/
http://www.parenting.co.id/article/usia.sekolah/terapi.musik.untuk.anak.autis/001/004/209
http://memahamidampakanakautismelebihdetail.blogspot.com/
http://www.vemale.com/inspiring/lentera/13214-kisah-seorang-ibu-dengan-anak-penyandang-autisme-ii.html


Modul Ortodidakti Anak Tunanetra

   A.   Kompetensi dasar
Kemampuan untuk memahami tentang tunarungu, hambatan yang dialami dan mampu untuk memahami metode pembelajaran yang sesuai untuk anak tunanetra tersebut.
   B.   Indikator
1.      Mampu memahami strategi pembelajaran anak tunanetra
2.      Mampu memahami pola pembelajaran bagi anak tunanetra
3.      Mampu pola pembelajaran bagi anak tunanetra
4.      Mengerti macam-Macam Metode Pengajaran yang Dapat diikuti oleh Tunanetra
5.      Mampu mengenal dampak-dampak yang disebabkan oleh ketunanetraan
6.      Mampu mengenal alat bantu yang digunakan anak tunanetra

    C.   Materi

1.      Pendahuluan
Semua orang tua pastinya menginginkan anaknya terlahir secara normal, baik normal secara fisik maupun normal secara psikis. Namun keinginan tersebut hanyalah sekedar keinginan saja, karena pada kenyataannya tak jarang anak terlahir dalam kondisi tak normal baik secara fisik maupun secara psikis.
Tapi bagaimana pun, mereka adalah seorang anak yang juga tidak ingin dilahirkan sebagai anak cacat. Kita sebagai orang tua, mau tidak mau harus menerimanya dengan ikhlas meskipun sangat sulit untuk mengikhlaskannya. Kita harus memahami apa yang mereka butuhkan karena tidak semua kegiatan dapat mereka lakukan, dan kita yang mempunya fisik yang normal hendaknyalah membantu dan membimbing mereka.
Kita juga harus mendidik mereka agar mereka tumbuh tidak sebagai anak yang cacat, melainkan seperti kebanyakan anak lainnya yang tumbuh berbeda, meskipun  pada kenyataanya berlainan. Seperti hal nya yang diatur dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 bahwa : “Tiap-tiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pengajaran“, jelas disitu tertuang bahwa tidak ada kata diskriminasi dalam proses pembelajaran, baik mereka anak normal maupun anak berkebutuhan khusus.
Pelayanan khusus ini juga diperlukan bagi mereka yang menyandang tunanetra, tanpa adanya perbedaan satu sama lain. Anak dengan tunanetra  juga bukan menjadi keinginannya, banyak faktor yang dapat menyebabkan itu. Mereka pastinya ada rasa berbeda dengan teman lainnya. Maka dari itu Pemerintah sudah selayaknya memberi perhatian penuh bagi pendidikan anak  berkebutuhan khusus contohnya tunanetra. Agar mereka tidak merasa terasingkan dan didiskriminasi dalam hal pendidikan di lingkungan formal khususnya. Anak tunanetra pastinya mempunyai kharakterstik tertentu yang menyebabkan mereka berbeda dengan teman sebayanya, mereka tidak bisa bermain sesuka mereka. Dibutuhkannya pendampingan khusus bagi mereka yang menyandang tunanetra.
 
2.      Strategi Pembelajaran bagi Anak Tunanetra

Permasalahan strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra didasarkan pada dua pemikiran, yaitu :
1. Upaya memodifikasi lingkungan agar sesuai dengan kondisi anak (di satu sisi).
2. Upaya pemanfaatan secara optimal indera-indera yang masih  berfungsi, untuk mengimbangi kelemahan yang disebabkan hilangnya fungsi penglihatan (di sisi lain).
Strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra pada hakekatnya adalah strategi pembelajaran umum yang diterapkan dalam kerangka dua  pemikiran di atas. Pertama-tama guru harus menguasai karakteristik/strategi  pembelajaran yang umum pada anak-anak awas, meliputi tujuan, materi, alat, cara, lingkungan, dan aspek-aspek lainnya. Langkah berikutnya adalah menganalisis komponen-komponen mana saja yang perlu atau tidak perlu dirubah/dimodifikasi dan bagaimana serta sejauh mana modifikasi itu dilakukan jika perlu. Pada tahap berikutnya, pemanfaatan indera yang masih  berfungsi secara optimal dan terpadu dalam praktek/proses pembelajaran memegang peran yag sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar. Dalam pembelajaran anak tunanetra, terdapat prinsip-prinsip yang harus diperhatikan, antara lain :
a.       Prinsip Individual
Prinsip individual adalah prinsip umum dalam pembelajaran manapun (PLB maupun pendidikan umum) guru dituntut untuk memperhatikan adanya  perbedaan-perbedaan individu. Dalam pendidikan tunanetra, dimensi perbedaan individu itu sendiri menjadi lebih luas dan kompleks. Di samping adanya perbedaan-perbedaan umum seperti usia, kemampuan mental, fisik, kesehatan, sosial, dan budaya, anak tunanetra menunjukkan sejumlah  perbedaan khusus yang terkait dengan ketunanetraannya (tingkat ketunanetraan, masa terjadinya kecacatan, sebab-sebab ketunanetraan, dampak sosial-psikologis akibat kecacatan, dll). Secara umum, harus ada  beberapa perbedaan layanan pendidikan antara anak low vision dengan anak yang buta total. Prinsip layanan individu ini lebih jauh mengisyaratkan  perlunya guru untuk merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan anak. Inilah alasan dasar terhadap perlunya (Individual Education  Program-IEP)
b.      Prinsip kekonkritan/pengalaman penginderaan
Strategi pembelajaran yangdigunakan oleh guru harus memungkinkan anak tunanetra mendapatkanpengalaman secara nyata dari apa yang dipelajarinya. Dalam bahasa Bower (1986) disebut sebagai pengalaman penginderaan langsung. Anak tunanetra tidak dapat belajar melalui pengamatan visual yang memiliki dimensi jarak, bunga yang sedang mekar, pesawat yang sedang terbang, atau seekor semut yang sedang mengangkut makanan. Strategi  pembelajaran harus memungkinkan adanya akses langsung terhadap objek, atau situasi. Anak tunanetra harus dibimbing untuk meraba, mendengar, mencium, mengecap, mengalami situasi secara langsung dan juga melihat  bagi anaklow vision. Prinsip ini sangat erat kaitannya dengan komponen alat/media dan lingkungan pembelajaran. Untuk memenuhi prinsip kekonkritan, perlu tersedia alat atau media pembelajaran yang mendukung dan relevan. Pembahasan mengenai alat pembelajaran akan disampaikan pada  bagian khusus.
c.       Prinsip totalitas
Strategi pembelajaran yang dilakukan guru haruslah memungkinkan siswa untuk memperoleh pengalaman objek maupun situasi secara utuh dapat terjadi apabila guru mendorong siswa untuk melibatkan semua pengalaman penginderaannya secara terpadu dalam memahami sebuah konsep. Dalam  bahasa Bower (1986) gagasan ini disebut sebagaimulti sensory approach, yaitu penggunaan semua alat indera yang masih berfungsi secara menyeluruh mengenai suatu objek. Untuk mendapatkan gambaran mengenai burung, anak tunanetra harus melibatkan perabaan untuk mengenai ukuran bentuk, sifat  permukaan, kehangatan. Dia juga harus memanfaatkan pendengarannya untuk mengenali suara burung dan bahkan mungkin juga penciumannya agar mengenali bau khas burung. Pengalaman anak mengenai burung akan menjadi lebih luas dan menyeluruh dibandingkan dengan anak yang hanya menggunakan satu inderanya dalam mengamati burung tersebut. Hilangnya  penglihatan pada anak tunanetra menyebabkan dirinya menjadi sulit untuk mendapatkan gambaran yang utuh/menyeluruh mengenai objek-objek yang tidak bisa diamati secara seretak (suatu situasi atau benda berukuran besar). Oleh sebab itu, perabaan dengan beberapa tekhnik penggunaannya menjadi sangatlah penting.
d.      Prinsip aktivitas mandiri (selfactivity)
Strategi pembelajaran haruslah memungkinkan atau mendorong anak tunanetra belajar secara aktif dan mandiri. Anak belajar mencari dan menemukan, sementara guru adalah fasilitator yang membantu memudahkan siswa untuk belajar dan motivator yang membangkitkan keinginannya untuk  belajar. Prinsip ini pun mengisyaratkan bahwa strategi pembelajaran harus memungkinkan siswa untuk bekerja dan mengalami, bukan mendengar dan mencatat. Keharusan ini memiliki implikasi terhadap perlunya siswa mengetahui, menguasai, dan menjalani proses dalam memperoleh fakta atau konsep. Isi pelajaran (fakta, konsep) adalah penting bagi anak, tetapi akan lebih penting lagi bila anak menguasai dan mengalami guna mendapatkan isi  pelajaran tersebut.

3.      Pola Pembelajaran bagi Anak Tunanetra
Permasalahan pembelajaran dalam pendidikan tunanetra adalah masalah  penyesuaian. Penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran pada anak tunanetra lebih banyak berorientasi pada pendidikan umum, terutama menyangkut tujuan dan muatan kurikulum. Dalam strategi pembelajaran, tugas guru adalah mencermati setiap bagian dari kurikulum, mana yang bisa disampaikan secara utuh tanpa harus mengalami perubahan, mana yang harus dimodifikasi, dan mana yang harus dihilangkan sama sekali.


4.      Macam-Macam Metode Pengajaran yang Dapat diikuti oleh Tunanetra
Metode-metode pengajaran yang diterapkan dalam proses belajar mengajar mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, sehingga variasi metode pengajaran  bertambah.
Pada dasarnya metode yang digunakan untuk siswa tunanetra hampir sama dengan siswa normal, hanya yang membedakan ialah adanya beberapa modifikasi dalam pelaksanaannya, sehingga para tunanetra mampu mengikuti kegiatan pembelajaran yang bisa mereka ikuti dengan pendengaran ataupun perabaan.
Di bawah ini, ada beberapa metode yang dapat di laksanakan dengan menggunakan fungsi pendengaran dan perabaan, tanpa harus menggunakan penglihatan. Adapun metode-metode tersebut ialah:
a.      Metode Ceramah
Yang dimaksud dengan metode ceramah ialah cara penyampaian sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa atau khalayak ramai.
Zuhairini dkk mendefinisikan metode ceramah ialah suatu metode di dalam pendidikan di mana cara penyampaian pengertian-pengertian materi kepada anak didik dengan jalan penerangan dan penuturan secara lisan. Untuk penjelasan uraiannya, guru dapat mempergunakan alat-alat bantu mengajar yang lain, misalnya gambar, peta, denah dan alat peraga lainnya.
Metode ceramah dapat diikuti oleh tunanetra karena dalam pelaksanaan metode ini guru menyampaikan materi pelajaran dengan penjelasan lisan dan siswa mendengar penyampaian materi dari guru.

b.      Metode Tanya jawab
Metode tanya jawab ialah penyampaian pelajaran dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab atau suatu metode di dalam pendidikan di mana guru bertanya sedangkan murid menjawab tentang materi yang ingin diperolehnya.
Menurut Zakiah Daradjat metode tanya jawab adalah salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan-kekurangan yang terdapat pada metode ceramah. Ini disebabkan karena guru dapat memperoleh gambaran sejauhmana murid dapat mengerti dan dapat mengungkapkan apa yang telah diceramahkan.
Siswa tunanetra mampu mengikuti pengajaran dengan menggunakan metode tanya jawab, karena metode ini merupakan tambahan dari metode ceramah yang menggunakan indera pendengaran.

c.       Metode Diskusi
Metode diskusi adalah salah satu alternatif metode yang dapat dipakai oleh seorang guru di kelas dengan tujuan dapat memecahkan suatu masalah berdasarkan pendapat para siswa. Seiring dengan itu metode diskusi berfungsi untuk merangsang murid berfikir atau mengeluarkan pendapatnya sendiri mengenai persoalan-persolan yang kadang-kadang tidak dapat dipecahkan oleh suatu jawaban atau suatu cara saja, tetapi memerlukan wawasan atau ilmu pengetahuan yang mampu mencari jalan terbaik atau alternatif terbaik.
Anak tunanetra dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar yang menggunakan metode diskusi, mereka dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan diskusi itu karena dalam metode dsikusi, kemampuan daya fikir siswa untuk memecahkan suatu persoalan lebih diutamakan. Dan metode ini bisa diikuti tanpa menggunakan indera penglihatan

d.      Metode Sorogan
Metode sorogan adalah metode individual di mana murid mendatangi guru untuk mengkaji suatu kitab dan guru membimbingnya secara secara langsung. Metode ini dalam sejarah pendidikan Islam dikenal dengan sistem pendidikan ” Kuttai” sementara di dunia barat dikenal dengan metode tutorship dan mentoring. Pada prakteknya si santri diajari dan dibimbing bagaimana cara membacanya, menghafalnya, atau lebih jauh lagi menerjemahkan atau menafsirkannya, semua itu dilakukan oleh guru, sementara santri menyimak penuh perhatian dan ngesahi (mensahkan) dengan memberi catatan pada kitabnya atau mensahkan bahwa ilmu itu telah diberikan kepadanya.
Metode ini dapat diikuti oleh anak tunanetra dan inti dari metode ini  adalah adanya bimbingan langsung dari guru kepada anak didik dan seorang guru dapat mengetahui langsung sejauhmana kemampuan anak didiknya dalam memahami suatu materi pelajaran.

e.       Metode Bandongan
Metode bandongan adalah salah satu metode pembelajaran dalam pendidikan islam dimana siswa atau santri tidak menghadap guru atau kyai satu demi satu, tetapi semua peserta didik menghadap guru dengan membawa buku atau kitab masing-masing kemudian guru membacakan, menerjemahkan, menerangkan kalimat demi kalimat dari kitab yang dipelajarinya, sementara santri secara cermat mengikuti penjelasan yang diberikan oleh kyai dengan memberikan catatan-catatan tertentu. Cara belajar ini paling banyak dilakukan di pesantren-pesantren tradisional.
Metode bandongan ini bisa di pergunakan dalam pengajaran kitab atau al-Qur’an dan inti dari metode ini adalah guru memberikan penjelasan materi kepada anak didik tidak secara perorangan. Metode ini merupakan kebalikan dari metode sorogan.Tunanetra dapat mengikuti metode ini, karena metode ini dapat diikuti dengan tanpa menggunakan indera penglihatan.

f.       Metode Drill
Metode Drill atau latihan adalah suatu metode dalam menyampaikan pelajaran dengan menggunakan latihan secara terus menerus sampai anak didik memiliki ketangkasan yang diharapkan.
Metode Drill merupakan salah satu bentuk dari berbagai macam metode yang banyak digunakan oleh para pendidik dalam proses belajar mengajar agar tujuan pembelajaran tercapai. Metode ini lebih menitikberatkan kepada keterampilam siswa secara kecakapan motoris, mental, asosiasi yang dibuat dan sebagainya.
Metode Drill dapat disebut juga dengan metode latihan atau praktek secara langsung. Anak tunanetra mampu mengikuti metode ini jika materi yang disampaikan dan media yang digunakan mampu mendukung mereka untuk memahami materi pelajaran.

5.      Dampak Ketunanetraan
Penglihatan merupakan salah satu saluran informasi yang sangat penting  bagi manusia selain pendengaran, pengecap, pembau, dan perabaan. Pengalaman manusia kira-kira 80 persen dibentuk berdasarkan informasi dari  penglihatan. Di bandingkan dengan indera yang lain indera penglihatan mempunyai jangkauan yang lebih luas. Pada saat seseorang melihat sebuah mobil maka ada banyak informasi yang sekaligus diperoleh seperti misalnya warna mobil, ukuran mobil, bentuk mobel, dan lain-lain termasuk detail  bagian-bagiannya. Informasi semacam itu tidak mudah diperoleh dengan indera selain penglihatan. Kehilangan indera penglihatan berarti kehilangan saluran informasi visual. Sebagai akibatnya menyandang kelainan penglihatan akan kekuarangan atau kehilangan informasi yang bersifat visual. Seseorang yang kehilangan atau mengalami kelainan penglihatan, sebagai kompensasi, harus berupaya untuk meningkatkan indera lain yang masih berfungsi. Seberapa jauh dampak kehilangan atau kelainan penglihatan terhadap kemampuan seseorang tergantung pada banyak faktor misalnya kapan (sebelum atau sesudah lahir, masa balita atau sesudah lima tahun) terjadinya kelainan, berat ringannya kelainan, jenis kelainan dan lain-lain. Seseorang yang kehilangan penglihatan sebelum lahir sering sampai usia lima tahun  pengalaman visualnya sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Sedangkan yang kehilangan penglihatan setelah usia lima tahun atau lebih dewasa biasanya masih memiliki pengalaman visual yang lebih baik tetapi memiliki dampak yang lebih buruk terhadap penerimaan diri.
a)      Dampak terhadap Kognisi
Kognisi adalah persepsi individu tentang orang lain dan obyek-obyek yang diorganisasikannya secara selektif. Respon individu terhadap orang dan obyek tergantung pada bagaimana orang dan obyek tersebut tampak dalam dunia kognitifnya ,dan citra atau “peta” dunia setiap orang itu bersifat individual. Setiap orang mempunyai citra dunianya masing-masing karena citra tersebut merupakan produk yang ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan fisik dan sosisalnya, struktur fisiologisnya, keinginan dan tujuannya, dan pengalaman- pengalaman masa lalunya. Dari keempat faktor yang menentukan kognisi individu tunanetra menyandang kelainan dalam struktur fisiologisnya, dan mereka harus menggantikan fungsi indera penglihatan dengan indera-indera lainnya untuk mempersepsi lingkungannya. Banyak di antara mereka tidak  pernah mempunyai pengalaman visual, sehingga konsepsi mereka tentang dunia ini mungkin berbeda dari konsepsi orang normal pada umumnya.
b)      Dampak terhadap Keterampilan Sosial
Orang tua memainkan peranan yang penting dalam perkembangan sosial anak. Perlakuan orang tua terhadap anaknya yang tunanetra sangat ditentukan oleh sikapnya terhadap ketunanetraan itu, dan emosi merupakan satu komponen dari sikap di samping dua komponen lainnya yaitu kognisi dan kecenderungan tindakan. Ketunanetraan yang terjadi pada seorang anak selalu menimbulkan masalah emosional pada orang tuanya. Ayah dan ibunya akan merasa kecewa, sedih, malu dan berbagai bentuk emosi lainnya. Mereka mungkin akan merasa  bersalah atau saling menyalahkan, mungkin akan diliputi oleh rasa marah yang dapat meledak dalam berbagai cara, dan dalam kasus yang ekstrem bahkan dapat mengakibatkan perceraian. Persoalan seperti ini terjadi pada banyak keluarga yang mempunyai anak cacat. Pada umumnya orang tua akan mengalami masa duka akibat kehilangan anaknya yang “normal” itu dalam tiga tahap; tahap penolakan, tahap penyesalan, dan akhirnya tahap penerimaan, meskipun untuk orang tua tertentu penerimaan itu mungkin akan tercapai setelah bertahun-tahun. Proses“dukacita” ini merupakan proses yang umum terjadi pada orang tua anak penyandang semua jenis kecacatan. Sikap orang tua tersebut akan berpengaruh terhadap hubungan di antara mereka (ayah dan ibu) dan hubungan mereka dengan anak itu, dan hubungan tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi perkembangan emosi dan sosial anak.
c)      Dampak terhadap Bahasa
Pada umumnya para ahli yakin bahwa kehilangan penglihatan tidak  berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan memahami dan menggunakan bahasa, dan secara umum mereka berkesimpulan bahwa tidak terdapat defisiensi dalam bahasa anak tunanetra. Mereka mengacu pada banyak studi yang menunjukkan bahwa siswa-siswa tunanetra tidak berbeda dari siswa-siswa yang normal dalam hasil tes intelegensi verbal. Mereka juga mengemukakan bahwa berbagai studi yang membandingkan anak-anak tunanetra dan normal tidak menemukan perbedaan dalam aspek-aspek utama  perkembangan bahasa. Karena persepsi auditif lebih berperan daripada persepsi visual sebagai media belajar bahasa, maka tidaklah mengherankan bila berbagai studi telah menemukan bahwa anak tunanetra relatif tidak terhambat dalam fungsi bahasanya. Banyak anak tunanetra bahkan lebih termotivasi daripada anak normal untuk menggunakan bahasa karena bahasa merupakan saluran utama komunikasinya dengan orang lain. Secara konseptual sama bagi anak tunanetra maupun anak normal, karena makna kata-kata dipelajarinya melalui konteksnya dan penggunaannya di dalam bahasa. Sebagaimana halnya dengan semua anak, anak tunanetra belajar kata-kata yang didengarnya meskipun kata-kata itu tidak terkait dengan pengalaman nyata dan tak ada makna baginya. Kalaupun anak tunanetra mengalami hambatan dalam perkembangan  bahasanya, hal itu bukan semata-mata akibat langsung dari ketunanetraannya melainkan terkait dengan cara orang lain memperlakukannya. Ketunanetraan tidak menghambat pemrosesan informasi ataupun pemahaman kaidah-kaidah bahasa.
d)     Dampak terhadap Orientasi dan Mobilitas
Mungkin kemampuan yang paling terpengaruh oleh ketunanetraan untuk  berhasil dalam penyesuaian social individu tunanetra adalamh kemampuan mobilitas yaitu keterampilan untuk bergerak secara leluasa di dalam lingkungannya. Ketrampilan mobilitas ini sangat terkait dengan kemampuan orientasi, yaitu kemampuan untuk memahami hubungan lokasi antara satu obyek dengan obyek lainnya di dalam lingkungan. Untuk membentuk mobilitas itu, alat bantu yang umum dipergunakan oleh orang tuna netra di Indonesia adalamh tongkat, sedangkan di banyak negara barat penggunaan anjing  penuntun (guide dog) juga populer. Dan penggunaan alat elektronik untuk membantu orientasi dan mobilitas individu tunanetra masih terus dikembangkan. Agar anak tuna netra memiliki rasa percaya diri untuk bergerak secara leluasa di dalam lingkungannya dalam bersosialisasi, mereka harus memperoleh latihan orientasi dan mobilitas. Program latihan orientasi dan mobilitas tersebut harus mencakup sejumlah komponen, termasuk kebugaran fisik, koordinasi motor, postur, keleluasaan gerak, dan latihan untuk mengembangkan fungsi indera-indera yang masih berfungsi.

6.      Alat bantu untuk anak tunanetra
Alat Bantu untuk Melihat
Inovasi dalam teknologi merupakan sebuah jalan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Namun, tidak semua orang dapat menikmatinya karena keterbatasan yang dimiliki oleh mereka, seperti kebutaan. Banyak penemuan saat ini yang ditujukan untuk para tunanetra untuk membantu penglihatan mereka. Berikut merupakan 5 alat bantu tunanetra untuk melihat.

1. Assisted Vision Smart Glasses
Merupakan kacamata yang ditujukan bagi orang yang masih bisa sedikit melihat. Kacamata ini dibuat menggunakan tampilan OLED yang transparan, dua kamera kecil, giroskop, kompas, GPS, dan headphone. Cara kerja kacamata ini adalah dengan meningkatkan tingkat kecerahan objek yang dekat dengan pemakainya, sehingga mereka dapat membedakan orang dan rintangan. Alat ini juga dapat mengenali nomor bus, membaca tanda, memberikan arah melalui GPS, dan giroskop yang membantu kacamata untuk menghitung perubahan dalam perspektif si pemakai ketika bergerak. Semua informasi tersebut diucapkan melalui speaker yang dibenamkan pada alat ini.

2. Al Glasses
Merupakan kacamata pintar yang dikembangkan oleh CINVESTAV di Meksiko. Alat ini menggabungkan geometri komputasi, kecerdasan artifisial, dan teknik ultrasound yang dapat membantu tunanetra. Kacamata ini menggabungkan kaca dengan sensor suara dan teknologi GPS yang melekat pada tablet yang dapat membacakan arah, mengenali mata uang, membaca tanda-tanda, mengindentifikasi warna, dan mengenali berbagai tempat dan objek. Alat ini memiliki bobot yang ringan dengan model ergonomis yang terlihat seperti kacamata biasa dan dapat digunakan selama 4 jam terus menerus.

3. Braille eBook Reader
Alat ini menggunakan thermo-hydraulic micro-actuation untuk mengaktifkan titik-titik Braille melalui radiasi laser inframerah melalui sistem scanning micro-mirror. Alat ini dapat membantu para tunanetra untuk membaca buku secara digital.

4. FingerReader
Dikembangkan oleh MIT Media Labs yang berbentuk cincin yang sangat tebal yang menjadikan jari sebagai alat scan dan mampu mendeteksi dan menafsirkan 12 titik teks yang tercetak. Alat ini memiliki getaran kecil yang dapat mengingatkan pemakai untuk setiap penyimpangan dari baris. Alat ini memiliki potensial untuk mengajarkan anak-anak tunanetra untuk membaca atau menerjemahkan bahasa.

5. Arianna App
Merupakan aplikasi yang dibenamkan pada smartphone untuk membantu tunanetra. Alat ini bekerja dengan cara membaca pita berwarna di tanah yang digunakan untuk menandai rute tertentu.Pengguna mengarahkan smartphone mereka ke tanah dan memberikan getaran sebagi tanda mereka menemukan garis tersebut. Aplikasi ini juga dapat digunakan bagi mereka yang mengalami masalah pendengaran. Sampai saat ini, ARIANNA app masih dalam tahap penggembangan, khususnya dalam penggunaan pita berwarna sebagai penuntun arah. Para peneliti sedang mencoba sebuah inovasi baru, yaitu menggunakan jalur inframerah yang dapat ditangkap oleh kamera smartphone, namun tetap terlihat oleh mata biasa.

Alat Bantu untuk baca tulis
Fasilitas pendidikan bagi anak tunanetra antara lain adalah Huruf Braille Huruf Braille merupakan fasilitas utama penyelenggaraan pendidikan bagi anak tunanetra. Huruf Braille ditemukan pertama kali oleh Louis Braille. Cara membaca huruf Braille sama seperti pada umumnya yaitu dari kiri ke kanan. Sedangkan untuk menulis, prinsip kerjanya berbeda dengan membaca. Ada tiga cara untuk menulis Braille, yaitu dengan : (1) reglet dan pen atau stilus, (2) mesin tik Braille, dan (3) computer yang dilengkapi dengan printer Braille. Media yang digunakan berupa kertas tebal yang tahan lama (manila, atau yang lain). Kertas standar untuk Braille adalah kertas braillon.






Daftar pustaka