Modul Ortodidakti Anak Tunanetra
A.
Kompetensi dasar
Kemampuan
untuk memahami tentang tunarungu, hambatan yang dialami dan mampu untuk
memahami metode pembelajaran yang sesuai untuk anak tunanetra tersebut.
B.
Indikator
1. Mampu
memahami strategi pembelajaran anak tunanetra
2.
Mampu memahami pola pembelajaran
bagi anak tunanetra
3.
Mampu pola
pembelajaran bagi anak tunanetra
4.
Mengerti macam-Macam Metode
Pengajaran yang Dapat diikuti oleh Tunanetra
5.
Mampu mengenal dampak-dampak yang disebabkan oleh
ketunanetraan
6.
Mampu mengenal alat bantu yang digunakan anak
tunanetra
C.
Materi
1.
Pendahuluan
Semua orang tua pastinya menginginkan anaknya terlahir secara normal, baik
normal secara fisik maupun normal secara psikis. Namun keinginan tersebut
hanyalah sekedar keinginan saja, karena pada kenyataannya tak jarang anak
terlahir dalam kondisi tak normal baik secara fisik maupun secara psikis.
Tapi bagaimana pun, mereka adalah seorang anak yang juga tidak ingin
dilahirkan sebagai anak cacat. Kita sebagai orang tua, mau tidak mau harus
menerimanya dengan ikhlas meskipun sangat sulit untuk mengikhlaskannya. Kita
harus memahami apa yang mereka butuhkan karena tidak semua kegiatan dapat
mereka lakukan, dan kita yang mempunya fisik yang normal hendaknyalah membantu
dan membimbing mereka.
Kita juga harus mendidik mereka agar mereka tumbuh tidak sebagai anak yang
cacat, melainkan seperti kebanyakan anak lainnya yang tumbuh berbeda, meskipun
pada kenyataanya berlainan. Seperti hal nya yang diatur dalam UUD 1945
pasal 31 ayat 1 bahwa : “Tiap-tiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan
pengajaran“, jelas disitu tertuang bahwa tidak ada kata diskriminasi dalam
proses pembelajaran, baik mereka anak normal maupun anak berkebutuhan khusus.
Pelayanan khusus ini juga diperlukan bagi mereka yang menyandang tunanetra,
tanpa adanya perbedaan satu sama lain. Anak dengan tunanetra juga bukan
menjadi keinginannya, banyak faktor yang dapat menyebabkan itu. Mereka pastinya
ada rasa berbeda dengan teman lainnya. Maka dari itu Pemerintah sudah
selayaknya memberi perhatian penuh bagi pendidikan anak berkebutuhan khusus
contohnya tunanetra. Agar mereka tidak merasa terasingkan dan didiskriminasi
dalam hal pendidikan di lingkungan formal khususnya. Anak tunanetra pastinya
mempunyai kharakterstik tertentu yang menyebabkan mereka berbeda dengan teman
sebayanya, mereka tidak bisa bermain sesuka mereka. Dibutuhkannya pendampingan
khusus bagi mereka yang menyandang tunanetra.
2. Strategi Pembelajaran bagi Anak Tunanetra
Permasalahan strategi pembelajaran dalam pendidikan
anak tunanetra didasarkan pada dua pemikiran, yaitu :
1. Upaya
memodifikasi lingkungan agar sesuai dengan kondisi anak (di satu sisi).
2. Upaya
pemanfaatan secara optimal indera-indera yang masih berfungsi, untuk
mengimbangi kelemahan yang disebabkan hilangnya fungsi penglihatan (di sisi
lain).
Strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra
pada hakekatnya adalah strategi pembelajaran umum yang diterapkan dalam
kerangka dua pemikiran di atas. Pertama-tama guru harus menguasai
karakteristik/strategi pembelajaran yang umum pada anak-anak awas,
meliputi tujuan, materi, alat, cara, lingkungan, dan aspek-aspek lainnya.
Langkah berikutnya adalah menganalisis komponen-komponen mana saja yang perlu
atau tidak perlu dirubah/dimodifikasi dan bagaimana serta sejauh mana
modifikasi itu dilakukan jika perlu. Pada tahap berikutnya, pemanfaatan indera
yang masih berfungsi secara optimal dan terpadu dalam praktek/proses
pembelajaran memegang peran yag sangat penting dalam menentukan keberhasilan
belajar. Dalam pembelajaran anak tunanetra, terdapat prinsip-prinsip yang harus
diperhatikan, antara lain :
a.
Prinsip Individual
Prinsip individual adalah prinsip
umum dalam pembelajaran manapun (PLB maupun pendidikan umum) guru dituntut
untuk memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individu. Dalam pendidikan
tunanetra, dimensi perbedaan individu itu sendiri menjadi lebih luas dan
kompleks. Di samping adanya perbedaan-perbedaan umum seperti usia, kemampuan
mental, fisik, kesehatan, sosial, dan budaya, anak tunanetra menunjukkan
sejumlah perbedaan khusus yang terkait dengan ketunanetraannya (tingkat
ketunanetraan, masa terjadinya kecacatan, sebab-sebab ketunanetraan, dampak
sosial-psikologis akibat kecacatan, dll). Secara umum, harus ada beberapa
perbedaan layanan pendidikan antara anak low vision dengan anak yang buta
total. Prinsip layanan individu ini lebih jauh mengisyaratkan perlunya
guru untuk merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan anak.
Inilah alasan dasar terhadap perlunya (Individual
Education Program-IEP)
b.
Prinsip kekonkritan/pengalaman penginderaan
Strategi pembelajaran yangdigunakan
oleh guru harus memungkinkan anak tunanetra mendapatkanpengalaman secara nyata
dari apa yang dipelajarinya. Dalam bahasa Bower (1986) disebut sebagai
pengalaman penginderaan langsung. Anak tunanetra tidak dapat belajar melalui
pengamatan visual yang memiliki dimensi jarak, bunga yang sedang mekar, pesawat
yang sedang terbang, atau seekor semut yang sedang mengangkut makanan. Strategi
pembelajaran harus memungkinkan adanya akses langsung terhadap objek,
atau situasi. Anak tunanetra harus dibimbing untuk meraba, mendengar, mencium,
mengecap, mengalami situasi secara langsung dan juga melihat bagi anaklow
vision. Prinsip ini sangat erat kaitannya dengan komponen alat/media dan
lingkungan pembelajaran. Untuk memenuhi prinsip kekonkritan, perlu tersedia
alat atau media pembelajaran yang mendukung dan relevan. Pembahasan mengenai
alat pembelajaran akan disampaikan pada bagian khusus.
c.
Prinsip totalitas
Strategi pembelajaran yang dilakukan
guru haruslah memungkinkan siswa untuk memperoleh pengalaman objek maupun
situasi secara utuh dapat terjadi apabila guru mendorong siswa untuk melibatkan
semua pengalaman penginderaannya secara terpadu dalam memahami sebuah konsep.
Dalam bahasa Bower (1986) gagasan ini disebut sebagaimulti sensory
approach, yaitu penggunaan semua alat indera yang masih berfungsi secara
menyeluruh mengenai suatu objek. Untuk mendapatkan gambaran mengenai burung,
anak tunanetra harus melibatkan perabaan untuk mengenai ukuran bentuk, sifat
permukaan, kehangatan. Dia juga harus memanfaatkan pendengarannya untuk
mengenali suara burung dan bahkan mungkin juga penciumannya agar mengenali bau
khas burung. Pengalaman anak mengenai burung akan menjadi lebih luas dan
menyeluruh dibandingkan dengan anak yang hanya menggunakan satu inderanya dalam
mengamati burung tersebut. Hilangnya penglihatan pada anak tunanetra
menyebabkan dirinya menjadi sulit untuk mendapatkan gambaran yang
utuh/menyeluruh mengenai objek-objek yang tidak bisa diamati secara seretak
(suatu situasi atau benda berukuran besar). Oleh sebab itu, perabaan dengan
beberapa tekhnik penggunaannya menjadi sangatlah penting.
d.
Prinsip aktivitas mandiri (selfactivity)
Strategi pembelajaran haruslah memungkinkan atau
mendorong anak tunanetra belajar secara aktif dan mandiri. Anak belajar mencari
dan menemukan, sementara guru adalah fasilitator yang membantu memudahkan siswa
untuk belajar dan motivator yang membangkitkan keinginannya untuk
belajar. Prinsip ini pun mengisyaratkan bahwa strategi pembelajaran harus
memungkinkan siswa untuk bekerja dan mengalami, bukan mendengar dan mencatat.
Keharusan ini memiliki implikasi terhadap perlunya siswa mengetahui, menguasai,
dan menjalani proses dalam memperoleh fakta atau konsep. Isi pelajaran (fakta,
konsep) adalah penting bagi anak, tetapi akan lebih penting lagi bila anak
menguasai dan mengalami guna mendapatkan isi pelajaran tersebut.
3. Pola Pembelajaran bagi Anak Tunanetra
Permasalahan
pembelajaran dalam pendidikan tunanetra adalah masalah penyesuaian.
Penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran pada anak tunanetra lebih banyak
berorientasi pada pendidikan umum, terutama menyangkut tujuan dan muatan
kurikulum. Dalam strategi pembelajaran, tugas guru adalah mencermati setiap
bagian dari kurikulum, mana yang bisa disampaikan secara utuh tanpa harus
mengalami perubahan, mana yang harus dimodifikasi, dan mana yang harus
dihilangkan sama sekali.
4.
Macam-Macam Metode Pengajaran yang Dapat diikuti oleh Tunanetra
Metode-metode pengajaran yang
diterapkan dalam proses belajar mengajar mengalami perkembangan dari waktu ke
waktu, sehingga variasi metode pengajaran bertambah.
Pada dasarnya metode yang digunakan
untuk siswa tunanetra hampir sama dengan siswa normal, hanya yang membedakan
ialah adanya beberapa modifikasi dalam pelaksanaannya, sehingga para tunanetra
mampu mengikuti kegiatan pembelajaran yang bisa mereka ikuti dengan pendengaran
ataupun perabaan.
Di bawah
ini, ada beberapa metode yang dapat di laksanakan dengan menggunakan fungsi
pendengaran dan perabaan, tanpa harus menggunakan penglihatan. Adapun
metode-metode tersebut ialah:
a. Metode
Ceramah
Yang dimaksud dengan metode ceramah
ialah cara penyampaian sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan
kepada siswa atau khalayak ramai.
Zuhairini dkk mendefinisikan metode
ceramah ialah suatu metode di dalam pendidikan di mana cara penyampaian
pengertian-pengertian materi kepada anak didik dengan jalan penerangan dan
penuturan secara lisan. Untuk penjelasan uraiannya, guru dapat mempergunakan
alat-alat bantu mengajar yang lain, misalnya gambar, peta, denah dan alat
peraga lainnya.
Metode ceramah dapat diikuti oleh
tunanetra karena dalam pelaksanaan metode ini guru menyampaikan materi
pelajaran dengan penjelasan lisan dan siswa mendengar penyampaian materi dari
guru.
b. Metode Tanya
jawab
Metode tanya jawab ialah penyampaian
pelajaran dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab atau suatu
metode di dalam pendidikan di mana guru bertanya sedangkan murid menjawab
tentang materi yang ingin diperolehnya.
Menurut Zakiah Daradjat metode tanya
jawab adalah salah satu teknik mengajar yang dapat membantu
kekurangan-kekurangan yang terdapat pada metode ceramah. Ini disebabkan karena
guru dapat memperoleh gambaran sejauhmana murid dapat mengerti dan dapat
mengungkapkan apa yang telah diceramahkan.
Siswa tunanetra mampu mengikuti
pengajaran dengan menggunakan metode tanya jawab, karena metode ini merupakan
tambahan dari metode ceramah yang menggunakan indera pendengaran.
c. Metode
Diskusi
Metode diskusi adalah salah satu
alternatif metode yang dapat dipakai oleh seorang guru di kelas dengan tujuan
dapat memecahkan suatu masalah berdasarkan pendapat para siswa. Seiring dengan
itu metode diskusi berfungsi untuk merangsang murid berfikir atau mengeluarkan
pendapatnya sendiri mengenai persoalan-persolan yang kadang-kadang tidak dapat
dipecahkan oleh suatu jawaban atau suatu cara saja, tetapi memerlukan wawasan
atau ilmu pengetahuan yang mampu mencari jalan terbaik atau alternatif terbaik.
Anak tunanetra dapat mengikuti
kegiatan belajar mengajar yang menggunakan metode diskusi, mereka dapat ikut
berpartisipasi dalam kegiatan diskusi itu karena dalam metode dsikusi,
kemampuan daya fikir siswa untuk memecahkan suatu persoalan lebih diutamakan.
Dan metode ini bisa diikuti tanpa menggunakan indera penglihatan
d. Metode
Sorogan
Metode sorogan adalah metode
individual di mana murid mendatangi guru untuk mengkaji suatu kitab dan guru
membimbingnya secara secara langsung. Metode ini dalam sejarah pendidikan Islam
dikenal dengan sistem pendidikan ” Kuttai” sementara di dunia barat dikenal
dengan metode tutorship dan mentoring. Pada prakteknya si santri
diajari dan dibimbing bagaimana cara membacanya, menghafalnya, atau lebih jauh
lagi menerjemahkan atau menafsirkannya, semua itu dilakukan oleh guru,
sementara santri menyimak penuh perhatian dan ngesahi (mensahkan) dengan
memberi catatan pada kitabnya atau mensahkan bahwa ilmu itu telah diberikan
kepadanya.
Metode ini dapat diikuti oleh anak
tunanetra dan inti dari metode ini adalah adanya bimbingan langsung dari
guru kepada anak didik dan seorang guru dapat mengetahui langsung sejauhmana
kemampuan anak didiknya dalam memahami suatu materi pelajaran.
e. Metode
Bandongan
Metode bandongan adalah salah satu
metode pembelajaran dalam pendidikan islam dimana siswa atau santri tidak
menghadap guru atau kyai satu demi satu, tetapi semua peserta didik menghadap
guru dengan membawa buku atau kitab masing-masing kemudian guru membacakan,
menerjemahkan, menerangkan kalimat demi kalimat dari kitab yang dipelajarinya,
sementara santri secara cermat mengikuti penjelasan yang diberikan oleh kyai dengan
memberikan catatan-catatan tertentu. Cara belajar ini paling banyak dilakukan
di pesantren-pesantren tradisional.
Metode bandongan ini bisa di
pergunakan dalam pengajaran kitab atau al-Qur’an dan inti dari metode ini
adalah guru memberikan penjelasan materi kepada anak didik tidak secara
perorangan. Metode ini merupakan kebalikan dari metode sorogan.Tunanetra dapat
mengikuti metode ini, karena metode ini dapat diikuti dengan tanpa menggunakan
indera penglihatan.
f. Metode Drill
Metode Drill atau latihan adalah
suatu metode dalam menyampaikan pelajaran dengan menggunakan latihan secara
terus menerus sampai anak didik memiliki ketangkasan yang diharapkan.
Metode Drill merupakan salah satu
bentuk dari berbagai macam metode yang banyak digunakan oleh para pendidik
dalam proses belajar mengajar agar tujuan pembelajaran tercapai. Metode ini
lebih menitikberatkan kepada keterampilam siswa secara kecakapan motoris,
mental, asosiasi yang dibuat dan sebagainya.
Metode Drill dapat disebut juga
dengan metode latihan atau praktek secara langsung. Anak tunanetra mampu
mengikuti metode ini jika materi yang disampaikan dan media yang digunakan
mampu mendukung mereka untuk memahami materi pelajaran.
5. Dampak Ketunanetraan
Penglihatan
merupakan salah satu saluran informasi yang sangat penting bagi manusia
selain pendengaran, pengecap, pembau, dan perabaan. Pengalaman manusia
kira-kira 80 persen dibentuk berdasarkan informasi dari penglihatan. Di
bandingkan dengan indera yang lain indera penglihatan mempunyai jangkauan yang
lebih luas. Pada saat seseorang melihat sebuah mobil maka ada banyak informasi
yang sekaligus diperoleh seperti misalnya warna mobil, ukuran mobil, bentuk
mobel, dan lain-lain termasuk detail bagian-bagiannya. Informasi semacam
itu tidak mudah diperoleh dengan indera selain penglihatan. Kehilangan indera
penglihatan berarti kehilangan saluran informasi visual. Sebagai akibatnya
menyandang kelainan penglihatan akan kekuarangan atau kehilangan informasi yang
bersifat visual. Seseorang yang kehilangan atau mengalami kelainan penglihatan,
sebagai kompensasi, harus berupaya untuk meningkatkan indera lain yang masih
berfungsi. Seberapa jauh dampak kehilangan atau kelainan penglihatan terhadap
kemampuan seseorang tergantung pada banyak faktor misalnya kapan (sebelum atau
sesudah lahir, masa balita atau sesudah lima tahun) terjadinya kelainan, berat
ringannya kelainan, jenis kelainan dan lain-lain. Seseorang yang kehilangan
penglihatan sebelum lahir sering sampai usia lima tahun pengalaman
visualnya sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Sedangkan yang
kehilangan penglihatan setelah usia lima tahun atau lebih dewasa biasanya masih
memiliki pengalaman visual yang lebih baik tetapi memiliki dampak yang lebih
buruk terhadap penerimaan diri.
a)
Dampak terhadap Kognisi
Kognisi
adalah persepsi individu tentang orang lain dan obyek-obyek yang
diorganisasikannya secara selektif. Respon individu terhadap orang dan obyek
tergantung pada bagaimana orang dan obyek tersebut tampak dalam dunia
kognitifnya ,dan citra atau “peta” dunia setiap orang itu bersifat individual.
Setiap orang mempunyai citra dunianya masing-masing karena citra tersebut
merupakan produk yang ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan fisik dan
sosisalnya, struktur fisiologisnya, keinginan dan tujuannya, dan
pengalaman- pengalaman masa lalunya. Dari keempat faktor yang menentukan
kognisi individu tunanetra menyandang kelainan dalam struktur fisiologisnya,
dan mereka harus menggantikan fungsi indera penglihatan dengan indera-indera
lainnya untuk mempersepsi lingkungannya. Banyak di antara mereka tidak
pernah mempunyai pengalaman visual, sehingga konsepsi mereka tentang
dunia ini mungkin berbeda dari konsepsi orang normal pada umumnya.
b)
Dampak terhadap Keterampilan
Sosial
Orang tua
memainkan peranan yang penting dalam perkembangan sosial anak. Perlakuan orang
tua terhadap anaknya yang tunanetra sangat ditentukan oleh sikapnya terhadap
ketunanetraan itu, dan emosi merupakan satu komponen dari sikap di samping dua
komponen lainnya yaitu kognisi dan kecenderungan tindakan. Ketunanetraan yang
terjadi pada seorang anak selalu menimbulkan masalah emosional pada orang
tuanya. Ayah dan ibunya akan merasa kecewa, sedih, malu dan berbagai bentuk
emosi lainnya. Mereka mungkin akan merasa bersalah atau saling
menyalahkan, mungkin akan diliputi oleh rasa marah yang dapat meledak dalam
berbagai cara, dan dalam kasus yang ekstrem bahkan dapat mengakibatkan
perceraian. Persoalan seperti ini terjadi pada banyak keluarga yang mempunyai
anak cacat. Pada umumnya orang tua akan mengalami masa duka akibat kehilangan
anaknya yang “normal” itu dalam tiga tahap; tahap penolakan, tahap penyesalan,
dan akhirnya tahap penerimaan, meskipun untuk orang tua tertentu penerimaan itu
mungkin akan tercapai setelah bertahun-tahun. Proses“dukacita” ini merupakan
proses yang umum terjadi pada orang tua anak penyandang semua jenis kecacatan.
Sikap orang tua tersebut akan berpengaruh terhadap hubungan di antara mereka
(ayah dan ibu) dan hubungan mereka dengan anak itu, dan hubungan tersebut pada
gilirannya akan mempengaruhi perkembangan emosi dan sosial anak.
c)
Dampak terhadap Bahasa
Pada umumnya
para ahli yakin bahwa kehilangan penglihatan tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap kemampuan memahami dan menggunakan bahasa, dan secara umum
mereka berkesimpulan bahwa tidak terdapat defisiensi dalam bahasa anak
tunanetra. Mereka mengacu pada banyak studi yang menunjukkan bahwa siswa-siswa
tunanetra tidak berbeda dari siswa-siswa yang normal dalam hasil tes
intelegensi verbal. Mereka juga mengemukakan bahwa berbagai studi yang
membandingkan anak-anak tunanetra dan normal tidak menemukan perbedaan dalam
aspek-aspek utama perkembangan bahasa. Karena persepsi auditif lebih
berperan daripada persepsi visual sebagai media belajar bahasa, maka tidaklah
mengherankan bila berbagai studi telah menemukan bahwa anak tunanetra relatif
tidak terhambat dalam fungsi bahasanya. Banyak anak tunanetra bahkan lebih
termotivasi daripada anak normal untuk menggunakan bahasa karena bahasa
merupakan saluran utama komunikasinya dengan orang lain. Secara konseptual sama
bagi anak tunanetra maupun anak normal, karena makna kata-kata dipelajarinya
melalui konteksnya dan penggunaannya di dalam bahasa. Sebagaimana halnya dengan
semua anak, anak tunanetra belajar kata-kata yang didengarnya meskipun
kata-kata itu tidak terkait dengan pengalaman nyata dan tak ada makna baginya.
Kalaupun anak tunanetra mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya,
hal itu bukan semata-mata akibat langsung dari ketunanetraannya melainkan
terkait dengan cara orang lain memperlakukannya. Ketunanetraan tidak menghambat
pemrosesan informasi ataupun pemahaman kaidah-kaidah bahasa.
d)
Dampak terhadap Orientasi dan
Mobilitas
Mungkin
kemampuan yang paling terpengaruh oleh ketunanetraan untuk berhasil dalam
penyesuaian social individu tunanetra adalamh kemampuan mobilitas yaitu
keterampilan untuk bergerak secara leluasa di dalam lingkungannya. Ketrampilan
mobilitas ini sangat terkait dengan kemampuan orientasi, yaitu kemampuan untuk
memahami hubungan lokasi antara satu obyek dengan obyek lainnya di dalam
lingkungan. Untuk membentuk mobilitas itu, alat bantu yang umum dipergunakan
oleh orang tuna netra di Indonesia adalamh tongkat, sedangkan di banyak negara
barat penggunaan anjing penuntun (guide dog) juga populer. Dan penggunaan
alat elektronik untuk membantu orientasi dan mobilitas individu tunanetra masih
terus dikembangkan. Agar anak tuna netra memiliki rasa percaya diri untuk
bergerak secara leluasa di dalam lingkungannya dalam bersosialisasi, mereka
harus memperoleh latihan orientasi dan mobilitas. Program latihan orientasi dan
mobilitas tersebut harus mencakup sejumlah komponen, termasuk kebugaran fisik,
koordinasi motor, postur, keleluasaan gerak, dan latihan untuk mengembangkan
fungsi indera-indera yang masih berfungsi.
6. Alat bantu untuk anak tunanetra
Alat
Bantu untuk Melihat
Inovasi dalam
teknologi merupakan sebuah jalan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Namun, tidak semua orang dapat menikmatinya karena keterbatasan yang dimiliki
oleh mereka, seperti kebutaan. Banyak penemuan saat ini yang ditujukan untuk
para tunanetra untuk membantu penglihatan mereka. Berikut merupakan 5
alat bantu tunanetra untuk melihat.
1.
Assisted Vision Smart Glasses
Merupakan kacamata yang ditujukan bagi orang yang masih bisa sedikit melihat. Kacamata ini dibuat menggunakan tampilan OLED yang transparan, dua kamera kecil, giroskop, kompas, GPS, dan headphone. Cara kerja kacamata ini adalah dengan meningkatkan tingkat kecerahan objek yang dekat dengan pemakainya, sehingga mereka dapat membedakan orang dan rintangan. Alat ini juga dapat mengenali nomor bus, membaca tanda, memberikan arah melalui GPS, dan giroskop yang membantu kacamata untuk menghitung perubahan dalam perspektif si pemakai ketika bergerak. Semua informasi tersebut diucapkan melalui speaker yang dibenamkan pada alat ini.
Merupakan kacamata yang ditujukan bagi orang yang masih bisa sedikit melihat. Kacamata ini dibuat menggunakan tampilan OLED yang transparan, dua kamera kecil, giroskop, kompas, GPS, dan headphone. Cara kerja kacamata ini adalah dengan meningkatkan tingkat kecerahan objek yang dekat dengan pemakainya, sehingga mereka dapat membedakan orang dan rintangan. Alat ini juga dapat mengenali nomor bus, membaca tanda, memberikan arah melalui GPS, dan giroskop yang membantu kacamata untuk menghitung perubahan dalam perspektif si pemakai ketika bergerak. Semua informasi tersebut diucapkan melalui speaker yang dibenamkan pada alat ini.
2.
Al Glasses
Merupakan kacamata pintar yang dikembangkan oleh CINVESTAV di Meksiko. Alat ini menggabungkan geometri komputasi, kecerdasan artifisial, dan teknik ultrasound yang dapat membantu tunanetra. Kacamata ini menggabungkan kaca dengan sensor suara dan teknologi GPS yang melekat pada tablet yang dapat membacakan arah, mengenali mata uang, membaca tanda-tanda, mengindentifikasi warna, dan mengenali berbagai tempat dan objek. Alat ini memiliki bobot yang ringan dengan model ergonomis yang terlihat seperti kacamata biasa dan dapat digunakan selama 4 jam terus menerus.
Merupakan kacamata pintar yang dikembangkan oleh CINVESTAV di Meksiko. Alat ini menggabungkan geometri komputasi, kecerdasan artifisial, dan teknik ultrasound yang dapat membantu tunanetra. Kacamata ini menggabungkan kaca dengan sensor suara dan teknologi GPS yang melekat pada tablet yang dapat membacakan arah, mengenali mata uang, membaca tanda-tanda, mengindentifikasi warna, dan mengenali berbagai tempat dan objek. Alat ini memiliki bobot yang ringan dengan model ergonomis yang terlihat seperti kacamata biasa dan dapat digunakan selama 4 jam terus menerus.
3.
Braille eBook Reader
Alat ini menggunakan thermo-hydraulic micro-actuation untuk mengaktifkan titik-titik Braille melalui radiasi laser inframerah melalui sistem scanning micro-mirror. Alat ini dapat membantu para tunanetra untuk membaca buku secara digital.
Alat ini menggunakan thermo-hydraulic micro-actuation untuk mengaktifkan titik-titik Braille melalui radiasi laser inframerah melalui sistem scanning micro-mirror. Alat ini dapat membantu para tunanetra untuk membaca buku secara digital.
4.
FingerReader
Dikembangkan oleh MIT Media Labs yang berbentuk cincin yang sangat tebal yang menjadikan jari sebagai alat scan dan mampu mendeteksi dan menafsirkan 12 titik teks yang tercetak. Alat ini memiliki getaran kecil yang dapat mengingatkan pemakai untuk setiap penyimpangan dari baris. Alat ini memiliki potensial untuk mengajarkan anak-anak tunanetra untuk membaca atau menerjemahkan bahasa.
Dikembangkan oleh MIT Media Labs yang berbentuk cincin yang sangat tebal yang menjadikan jari sebagai alat scan dan mampu mendeteksi dan menafsirkan 12 titik teks yang tercetak. Alat ini memiliki getaran kecil yang dapat mengingatkan pemakai untuk setiap penyimpangan dari baris. Alat ini memiliki potensial untuk mengajarkan anak-anak tunanetra untuk membaca atau menerjemahkan bahasa.
5.
Arianna App
Merupakan aplikasi yang dibenamkan pada smartphone untuk membantu tunanetra. Alat ini bekerja dengan cara membaca pita berwarna di tanah yang digunakan untuk menandai rute tertentu.Pengguna mengarahkan smartphone mereka ke tanah dan memberikan getaran sebagi tanda mereka menemukan garis tersebut. Aplikasi ini juga dapat digunakan bagi mereka yang mengalami masalah pendengaran. Sampai saat ini, ARIANNA app masih dalam tahap penggembangan, khususnya dalam penggunaan pita berwarna sebagai penuntun arah. Para peneliti sedang mencoba sebuah inovasi baru, yaitu menggunakan jalur inframerah yang dapat ditangkap oleh kamera smartphone, namun tetap terlihat oleh mata biasa.
Merupakan aplikasi yang dibenamkan pada smartphone untuk membantu tunanetra. Alat ini bekerja dengan cara membaca pita berwarna di tanah yang digunakan untuk menandai rute tertentu.Pengguna mengarahkan smartphone mereka ke tanah dan memberikan getaran sebagi tanda mereka menemukan garis tersebut. Aplikasi ini juga dapat digunakan bagi mereka yang mengalami masalah pendengaran. Sampai saat ini, ARIANNA app masih dalam tahap penggembangan, khususnya dalam penggunaan pita berwarna sebagai penuntun arah. Para peneliti sedang mencoba sebuah inovasi baru, yaitu menggunakan jalur inframerah yang dapat ditangkap oleh kamera smartphone, namun tetap terlihat oleh mata biasa.
Alat
Bantu untuk baca tulis
Fasilitas pendidikan bagi anak tunanetra antara lain
adalah Huruf Braille Huruf Braille merupakan fasilitas utama penyelenggaraan
pendidikan bagi anak tunanetra. Huruf Braille ditemukan pertama kali oleh Louis
Braille. Cara membaca huruf Braille sama seperti pada umumnya yaitu dari kiri
ke kanan. Sedangkan untuk menulis, prinsip kerjanya berbeda dengan membaca. Ada
tiga cara untuk menulis Braille, yaitu dengan : (1) reglet dan pen atau stilus,
(2) mesin tik Braille, dan (3) computer yang dilengkapi dengan printer Braille.
Media yang digunakan berupa kertas tebal yang tahan lama (manila, atau yang
lain). Kertas standar untuk Braille adalah kertas braillon.
No comments:
Post a Comment