BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Pemahaman masyarakat umum mengenai anak berkebutuhan
khusus masih sangat minim, kebanyakan mereka menganggap bahwa anak berkebutuhan
khusus merupakan anak yang tidak memiliki kemampuan apapun. Salah satu dari
mereka adalah anak Tuna Grahita. Anak Tuna
Grahita adalah kondisi anak yang kecerdasannya jauh dibawah rata-rata yang
ditandai oleh keterbatasan intelejensi dan ketidak cakapan dalam interaksi social. Anak tuna grahita atau
dikenal juga dengan istilah terbelakan mental karena keterbatasan kecerdasannya
sukar untuk mengikuti program pendidikan disekolah biasa secara klasikal.
Namun walaupun begitu anak Tuna Grahita juga memiliki
hak yang sama dengan anak normal lainnya. Salah satu hak itu adalah mendapatkan
pendidikan. Karena selain memiliki hambatan intelektual, mereka juga masih
memiliki potensi yang dapat dikembangkan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki
oleh mereka dan sesuai denga kebutuhan mereka. Hal tersebut diatur dalam UUD’45
pasal 31 ayat 1, yang menyatakan bahwa “Tiap-tiap warga Negara berhak
mendapatkan pendidikan”. Hal tersebut lebih diperjelas lagi dalam UU No.20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 5 ayat 2,dan pasal 33
ayat 1, menyatakan bahwa warga Negara yang memiliki kelainan fisik,
emosional,mental, dan atau social berhak memperoleh pendidikan khusus. Oleh
karena itu sangat diperlukan pendidikan khusus bagi anak Tuna Grahita.
1.2 RUMUSAN
MASALAH
1.
Siapa anak Tuna
Grahita itu?
2.
Bagaimana
kehidupan anak Tuna Grahita ?
3.
Bagaimna cara
berkomunikasi dengan anak Tuna Grahita?
1.3 TUJUAN
1.
Mengetahui siapa
anak Tuna Grahita
2.
Memahami
kehidupan anak tuna grahita sehari-hari
3.
Mengetahui cara
berkomunikasi dengan Tuna Grahita
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 SEJARAH
SEJARAH PENDIDIKAN ANAK TUNA GRAHITA
A.
Sejarah
Umum pendidikan Anak Tuna
Grahita
Sejarah ortopedagogik (pendidikan) anak Tuna
Grahita merupakan sebagian sejarah dari pendidikan anak-anak berkelainan pada
umumnya, baik yang berkelainan jasmani maupun rohani atau mental. Di Eropa,
perkembangan pendidikan anak berkelainan termasuk anak Tuna Grahita dalam garis
besarnya telah menjalani 3 periode (Frampton and Gall, 1955:4):
Ø Periode Zaman
Primitif dan Purbakala (1950 SM-476 M)
Ø Zaman
Pertengahan (500-1500 M)
Ø Zaman Modern
(1500 M- sekarang)
1.
Zaman
Primitif, Purbakala, dan Abad pertengahan
Pada zaman
prasejarah mereka dipandang tak ubahnya dengan “hewan”, dilenyapkan dari muka
bumi melalui hukum “the survival of the fittest”; karena tak sanggup mengatasi
kekerasan alam dan musnah. Pada zaman Plato (427-347 SM), orang-orang Atena
senang sekali memperlakukan orang cacat sebagai bahan tontonan, bahkan sering
dibunuh. Hukum Lycurgus adalah hukum yang membaharui hukum lama di Sparta
delapan abad sebelum masehi. Hukum Yunani mendorong orang-orang membantu para
janda, yatim, buta, tuli, dan jompo. Dalam hukum ini orang-orang berkelainan
mendapat batasan kesempatan sosial, orang cacat dianggap berdosa dan dijauhkan
dari tempat ibadah.
2.
Zaman
Pertengahan
Pada
abad pertengahan, sekte-sekte agama banyak yang memberikan
pertolongan kepada warga yang lemah tetapi para bangsawan membuat orang cacat
menjadi bahan tontonan. Zaman ini berlangsung sekitar tahun
500-1500 M. pada zaman ini perhatian yang sifatnya filantrolis (kasih sayang)
terhadap yang Tuna Grahita telah ada
3.
Zaman
Modern
Zaman modern
ditandai semakin meluasnya usaha pemeliharaan, pendidikan dan penelitian
terhadap anak berkelainan. Pada tahun 1811 Napoleon memerintahkan untuk
melakukan sensus bagi penderita cacat mental (Tuna Grahita). Pada tahun 1816
didirikan oleh Gotthard Guggenmos yayasan yang membuka sekolah pertama untuk
anak Tuna Grahita di Wildber, Wurtenberg di bawah pimpinan Haldenwang. Sekolah
ini ditutup pada tahun 1835 tanpa mencapai hasil yang banyak. Negeri Swiss
adalah negara pertama yang memberikan pendidikan dan pengajaran anak Tuna
Grahita. Pada tahun 1841 didirikan institut Guggenbuhl. Ia telah menciptakan
prototype bagi lembaga-lembaga yang merawat Tuna Grahita. Hal ini menarik minat
negara lain sehingga pada abad ke 19 berdirilah berbagai institut untuk anak-anak
Tuna Grahita di negara-negara eropa barat dan Amerika. Dokter J.M.G Itart
mendapat penghargaan dari akademi ilmu Pengetahuan Prancis dan mendapat gelar
Bapak Pendidikan anak-anak Tuna Grahita. Pengalaman-pengalaman Itart tersebut
ditulisnya dalam buku “anak liar dari Aveyron”. Karyanya menginspirasi Edward
Seguin untuk mendirikan “sekolah” pada institut Bicetre di Paris pada tahun
1837 dan berhasil dengan baik. Seguin mempunyai pandangan yang sifatnya medis
dan melahirkan teori pendidikan yang dikenal dengan physiological training.
Menurut teori ini, pendidikan anak Tuna Grahita harus menitik beratkan: latihan
otot, pendengaran, suara, dan perhatian dan kemudian maju kepada perkembangan
gagasan yang umum pada akhirnya kepada berpikir abstrak dan asas-asas
moralitas. Teori ini banyak dikritik orang karena bersifat mekanistis. Pada
tahun 1848 Seguin pindah ke Amerika Serikat untuk memimpin berbagai lembaga
anak Tuna Grahita dan menjadi peletak dasar studi anak-anak Tuna Grahita di
zaman modern. Lembaga pendidikan anak Tuna Grahita yang pertama di Amerika
Serikat didirikan di Massachussetts pada tahun 1848. Pada akhir abad ke 19
bentuk layanan pendidikan bagi anak berkelainan termasuk Tuna Grahita dari
sistem segregasi di sekolah-sekolah khusus pada munculnya kelas-kelas khusus di
sekolah biasa, ini upaya untuk menghindarkan isolasi anak-anak berkelainan.
Pada pertengahan abad 20, bentuk pelayanan pendidikan khusus yang terpisah dari
pendidikan anak normal dipertanyakan. Diketahui bahwa pandangan masyarakat
terhadap anak berkebutuhan khusus mengalami perubahan dari masa kemasa. Konsep baru
ini dimulai sejak tahun 1968 di Scandinavia, kemudian berkembang ke
negara-negara lain. Pada tahun 1981, PBB memasyarakatkan konsep baru ini dengan
mencanangkan tahun itu sebagai tahun penyandang cacat internasional.
B.
Sejarah
Pendidikan Anak Tuna Grahita di Indonesia
Pendidikan
anak Tuna Grahita di Indonesia ditinjau dalam tiga fase
Ø Masa sebelum
abad ke-20
Ø Masa sebelum
perang dunia ke-2 dan
Ø Masa sesudah
Indonesia merdeka
1.
Masa
sebelum abad ke-20
Orang-orang
zaman dahulu percaya pada hal-hal yang bersifat supranatural. Menurut
kepercayaan ini segala sesuatu berlangsung menurut kehendak roh, kekuatan gaib,
dan para dewa. Kedatangan agama islam dan nasrani membawa ajaran baru kepada
orang Indonesia, diantarannya:
a.)
Yang
mengatur segala sesuatu bukan roh, kekuatan gaib, atau para dewa melainkan
Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT)
b.)
Setiap
orang mempunyai kewajiban moral dan hendaklah menolong orang-orang yang lemah.
Pada zaman pemerintahan
Hindia-Belanda,
Indonesia mengenal dua jenis pendidikan yaitu:
1.)
Yang
diselenggarakan oleh pemerintah (Sekolah Negeri)
2.)
Yang
diselenggarakan oleh masyarakat (Sekolah Swasta)
Pendidikan
di pesantren menganut 2 ciri yang penting yaitu:
Ø Beranggapan
bahwa setiap orang wajib belajar
Ø Mempergunakan
tutor dalam melaksanakan prinsip individualisme pengajaran. Kedua prinsip
pesantren itu penting bagi Pendidikan Anak Luar Biasa, karena pada prinsip
pertama dinyatakan bahwa setiap orang berhak mendapat pendidikan, termasuk
penyandang cacat.
2.
Masa
Sebelum Perang Dunia ke-2
Pada permulaan
abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda membangun sekolah untuk anak-anak bumi
putera. Selain itu juga berkembang sekolah-sekolah swasta yang diselenggrakan
oleh Perkumpulan-perkumpulan atau yaysan misalnya Sekolah Taman Siswa,
sekolah-sekolah yang diselenggrakan organisasi keagaman misalnya Sekolah
Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Natla’ul Anwar, Al Wasiyah dan sebagainnya. Badan
yang pertama mengusahan Pendidikan Luar Biasa untuk Anak Tuna Grahita di
Indonesia ialah Perkumpulan Pengajaran Luar Biasa “Vereniging voor Buitengewoon
Lager Onderwijs” didirikan tanggal 31 Mei 1927 atas inisiatif dr. A. Kits Van
Heiningen dan W. Akkersdijk, berkedudukan di Bandung. Dalam anggaran dasar
perkumpulan tersebut pasal 2 (maksud dan tujuan) :
Perkumpulan
bermaksud, mengusahakan dan menyelenggarakan pendidikan dan pemgajaran khusus
untuk anak-anak yang “Terbelakang” atau “Lemah Pikiran” yang kurang mampu atau
tidak sanggup mengikuti pendidikan dan pengajaran di sekolah biasa sebagai
akibat kelambatan atau gangguan psikis di dalam perkembangan daya pikir.
Perkumpulan bertujuan, memberikan pendidikan dan pengajaran dengan kebutuhan
dan kesanggupan anak-anak yang tersebut pada pasal 2 ayat a, agar mereka dapat
menjadi anggota masyarakat yang berguna serta diharapkan secara ekonomis dapat
berdiri sendiri.
3.
Sesudah
Indonesia Merdeka
Dalam
Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat1 dinyatakan “Tiap-tiap warga negara
berhak mendapat pengajaran”. Pada ayat 2 dinyatakan: Pemerintah mengusahakan
dan menyelenggarakan satu system pengajaran nasional yang diatur dengan
undang-undang. Sebagai tindaklanjutnya pemerintah Republik Indonesia
mengeluarkan undang-undang nomor 4 tahun 1950 tentang dasar-dasar pendidikan
dan pengajaran di sekolah (UU pokok pendidikan dan pengajaran nomor 12 tahun
1954). Dalam undang-undang tersebut pada bab V pasal 6 ayat 2 dinyatakan
“Pendidikan dan pengajaran luar biasa diberikan dengan khusus untuk mereka yang
membutuhkan”. Dari catatan sejarah, selama pemerintahan Hindia Belanda dan
pendudukan Jepang sampai tahun 1952 belum seorangpun bangsa Indonesia yang
mendapat pendidikan khusus untuk menjadi guru pendidikan bagi anak-anak cacat
termasuk menjadi guru pendidikan anak Tuna Grahita. Pada tahun 1952 dengan
surat keputusan nomor 24954 tertanggal 26 Juli 1952. Pemerintah Republik
Indonesia membuka Sekolah Guru Pengajaran Luar Biasa (SGPLB) yang pertama di
Bandung. Tamatan Sekolah Guru Pengajaran Luar Biasa (SGPLB) yang pertama ini sebagian
di tempatkan di Sekolah Luar Biasa di Bandung. Kemudian SRLB dirubah menjadi
SLB (Sekolah Luar Biasa). Pada kondisi waktu itu SGLB membuka tiga jurusan
yaitu jurusan A untuk anak tunanetr, B untuk anak tuna rungu, C untuk anak Tuna
Grahita. Kemudian berkembang menjadi SLB A untuk tunanetra, SLB B untuk
tunarungu, SLB C dan C1 untuk Tuna Grahita ringan dan sedang. Penjurusan SGPLB
Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa berkembang menjadi A, B, C, D, E. Jurusan D
untuk anak tunadaksa dan E untuk anak tunalaras. Demikian pula dengan SLB A, B,
C kemudian menjadi SLB-A, SLB-B, SLB-C, SLB-D, SLB-E dan SLB-G cacat ganda
2.2
PENGERTIAN TUNA GRAHITA

TUNA GRAHITA
adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan
intelektual dibawah rata-rata. Tuna Grahita sering disepadankan dengan
istilah-istilah, sebagai berikut:
A. Lemah
pikiran (Feeble Minded)
B.
Terbelakang mental (Mentally Retarded)
C.
Bodoh atau dungu (Idiot)
D.
Pandir (Imbecile)
E.
Tolol (Moron)
F.
Oligofrenia (Oligophrenia)
G.
Mampu Didik (Educable)
H.
Mampu Latih (Trainable)
I.
Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau
butuh rawat
J.
Mental Subnormal
K.
Defisit Mental
L.
Defisit Kognitif
M.
Cacat Mental
N.
Defisiensi Mental
O.
Gangguan Intelektual
Tuna Grahita
dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainnya.
Namun demikian, penyandang Tuna Grahita bisa mengalami semua gangguan jiwa yang
ada, dan prevalensi dari gangguan jiwa lainnya sekurang-kurangnya tiga sampai
empat kali lipat pada populasi umum. Selain itu, penyandang Tuna Grahita
mempunyai resiko lebih besar untuk di eksploitasi untuk diperlakukan salah
secara fisik atau seksual (physic or sexual abuse).
2.3 JENIS-JENIS
TUNA GRAHITA
1. Tuna Grahita Ringan
Anak
yang tergolong dalam Tuna Grahita ringan memiliki banyak kelebihan dan
kemampuan. Mereka mampu dididikdan dilatih. Misalnya, membaca, menulis,
berhitung, menjahit, memasak, bahkan berjualan. Tuna Grahita ringan lebih mudah
diajak berkomunikasi. Selain itu kondisi fisik mereka tidak begitu mencolok.
Mereka mampu berlindung dari bahaya apapun. Karena itu anak Tuna Grahita ringan
tidak memerlukan pengawasan ekstra.
2. Tuna Grahita Sedang
Tidak jauh berbeda
dengan anak Tuna Grahita ringan. Anak Tuna Grahita sedang pun mampu diajak
berkomunikasi. Namun, kelemahannya mereka tidak begitu mahir dalam menulis,
membaca, dan berhitung. Tetapi, ketika ditanya siapa nama dan alamat rumahnya
akan dengan jelas dijawab. Mereka dapat bekerja di lapangan namun dengan sedikit
pengawasan. Begitu pula dengan perlindungan diri dari bahaya. Sedikit perhatian
dan pengawasan dibutuhkan untuk perkembangan mental dan sosial anak Tuna
Grahita sedang.
3. Tuna Grahita Berat
Anak Tuna Grahita berat disebut juga idiot.
karena dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan pengawasan,
perhatian, bahkan pelayanan yang maksimal. Mereka tidak dapat mengurus dirinya
sendiri apalagi berlindung dair bahaya. Asumsi anak Tuna Grahita sama dengan
anak Idiot tepat digunakan jika anak Tuna Grahita yang dimaksud tergolong dalam
tungrahita berat.
Melalui sedikit penjelasan tentang anak Tuna
Grahita, semoga pembaca yang masih menganggap semua anak Tuna Grahita itu anak
idiot dan tidak memiliki kemampuan apa-apa tidak lagi berpikiran semacam itu.
Setelah mengetahui hal ini pula kiranya dapat disosialisasikan kepada siapa
saja yang masih belum tahu.
Menurut para ahli jika di simpulkan
:
Pengertian Tuna grahita menurut American Asociation
on Mental Deficiency/AAMD: yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah
rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes; yang muncul
sebelum usia 16 tahun; yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.
Sedangkan pengertian Tuna Grahita menurut Japan League for Mentally Retarded
sebagai berikut: Fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 kebawah
berdasarkan tes inteligensi baku.Kekurangan dalam perilaku adaptif. Terjadi
pada masa perkembangan, yaitu anatara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.
2.4 FAKTOR TUNA GRAHITA
Terdapat
banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi Tuna Grahita. Para ahli
dari berbagai ilmu telah berusaha membagi faktor-faktor penyebab ini
diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Faktor keturunan
Adanya kelainan kromosom baik autosom (mempunyai kromosom 3 ekor pada kromosom nomor 21 sehingga anak mengalami Langdon Down’s S yndrome dan pada trisomi kromosom nomor 15 anak akan menderita Patau’s Syndrome dengan cicri-ciri berkepala kecil, mata kecil, berkuping aneh, sumbing, dan kantung empedu yang besar . Adanya kegagalan meiosis sehingga menimbulkan duplikasi dan translokasi) maupun kelainan pada gonosom (gonosom yang seharusnya XY, karena kegagalan menjadi XXY atau XXXY. Ciri yang menonjol adalah nampak laki-laki dan Tuna Grahita. Setelah mencapai masa puber tubuhnya menjadi panjang, gayanya mirip wanita, berpayudara besar).
Adanya kelainan kromosom baik autosom (mempunyai kromosom 3 ekor pada kromosom nomor 21 sehingga anak mengalami Langdon Down’s S yndrome dan pada trisomi kromosom nomor 15 anak akan menderita Patau’s Syndrome dengan cicri-ciri berkepala kecil, mata kecil, berkuping aneh, sumbing, dan kantung empedu yang besar . Adanya kegagalan meiosis sehingga menimbulkan duplikasi dan translokasi) maupun kelainan pada gonosom (gonosom yang seharusnya XY, karena kegagalan menjadi XXY atau XXXY. Ciri yang menonjol adalah nampak laki-laki dan Tuna Grahita. Setelah mencapai masa puber tubuhnya menjadi panjang, gayanya mirip wanita, berpayudara besar).
b. Gangguan
metabolisme dan Gizi
Metabolisme dan gizi merupakan hal yang penting bagi perkembangan individu terutama perkembangan sel-sel otak. Beberapa kelainan yang disebabkan oleh kegagalan metabolisme dan kekurangan gizi diantaranya adalah sebagai berikut:
Metabolisme dan gizi merupakan hal yang penting bagi perkembangan individu terutama perkembangan sel-sel otak. Beberapa kelainan yang disebabkan oleh kegagalan metabolisme dan kekurangan gizi diantaranya adalah sebagai berikut:
·
Phenylketonuria
Salah satu akibat gangguan metabolisme asam amino juga kelainan gerakan enzym phenylalanine hydroxide. Gejala umum yang nampak adalah Tuna Grahita, kekurangan pigmen, microcephaly, serta kelainan tingkah laku.
Salah satu akibat gangguan metabolisme asam amino juga kelainan gerakan enzym phenylalanine hydroxide. Gejala umum yang nampak adalah Tuna Grahita, kekurangan pigmen, microcephaly, serta kelainan tingkah laku.
·
Cretinisme
Disebabkan oleh keadaan hypohyroidism kronik yang terjadi selama masa janin atau segera setelah melahirkan. Berat ringan kelainan tergantung pada tingkat kekurangan thyroxin. Gejala utama yang tampak adalah adanya ketidaknormalan fisik yang khas dan keTuna Grahitaan dan awal gejalanya dengan kurangnya nafsu makan, anak menjadi sangat pendiam, jarang tersenyum dan tidur yang berlebihan.
Disebabkan oleh keadaan hypohyroidism kronik yang terjadi selama masa janin atau segera setelah melahirkan. Berat ringan kelainan tergantung pada tingkat kekurangan thyroxin. Gejala utama yang tampak adalah adanya ketidaknormalan fisik yang khas dan keTuna Grahitaan dan awal gejalanya dengan kurangnya nafsu makan, anak menjadi sangat pendiam, jarang tersenyum dan tidur yang berlebihan.
c. Infeksi dan
keracunan
Adanya infeksi dan keracunan terjangkitnya penyakit-penyakit selama janin masih berada dalam kandungan ibunya yang menyebabkan anak lahir menjadi Tuna Grahita.
Adanya infeksi dan keracunan terjangkitnya penyakit-penyakit selama janin masih berada dalam kandungan ibunya yang menyebabkan anak lahir menjadi Tuna Grahita.
·
Rubella
Penyakit ini menjangkiti ibu pada dua belas minggu pertama kehamilan. Selain Tuna Grahita, ketidaknormalan yang disebabkan penyakit ini adalah kelainan pendengaran, penyakit jantung bawaan, berat badan yang sangat rendah pada waktu lahir dan lain-lain.
Penyakit ini menjangkiti ibu pada dua belas minggu pertama kehamilan. Selain Tuna Grahita, ketidaknormalan yang disebabkan penyakit ini adalah kelainan pendengaran, penyakit jantung bawaan, berat badan yang sangat rendah pada waktu lahir dan lain-lain.
·
Syphilis
bawaan
Kondisi bayi yang terkena Syphilis adalah kesulitan pendengaran, hidungnya tampak seperti hidung kuda.
Kondisi bayi yang terkena Syphilis adalah kesulitan pendengaran, hidungnya tampak seperti hidung kuda.
·
Syndrome
Gravidity Beracun
KeTuna Grahitaan yang timbul dari Syndrome Gravidity Beracun terjadi pada sebagian bayi yang lahir prematur, kerusakan janin yang disebabkan oleh zat beracun, dan berkurangnya aliran darah pada rahim dan plasenta
KeTuna Grahitaan yang timbul dari Syndrome Gravidity Beracun terjadi pada sebagian bayi yang lahir prematur, kerusakan janin yang disebabkan oleh zat beracun, dan berkurangnya aliran darah pada rahim dan plasenta
d. Trauma dan zat
radioaktif
Trauma otak yang terjadi dikepala dapat menimbulkan pendarahan intracranial terjadinya kecacatan pada otak. Ini biasanya disebabkan karena kelahiran yang sulit sehingga memerlukan alat bantu (tang). Selain itu penyinaran atau radiasi sinar X selama bayi dalam kandungan mengakibatkan cacat mental microcephaly.
Trauma otak yang terjadi dikepala dapat menimbulkan pendarahan intracranial terjadinya kecacatan pada otak. Ini biasanya disebabkan karena kelahiran yang sulit sehingga memerlukan alat bantu (tang). Selain itu penyinaran atau radiasi sinar X selama bayi dalam kandungan mengakibatkan cacat mental microcephaly.
e. Masalah pada
kelahiran
Adanya kelahiran yang disertai hypoxia (kejang dan nafas pendek) dipastikan bahwa bayi yang akan dilahirkan menderita kerusakan otak.
Adanya kelahiran yang disertai hypoxia (kejang dan nafas pendek) dipastikan bahwa bayi yang akan dilahirkan menderita kerusakan otak.
f. Faktor
lingkungan
Latar belakang pendidikan orang tua sering juga dihubngkan dengan masalah-masalah perkembangan. Kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan dini serta kurangnya pengetahuan dalam memberikan rangsang-rangsang positif dalam masa perkembangan anak dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya gangguan atau hambatan dalam perkembangan anak. Kurangnya kontak pribadi dangan anak, misalnya dengan tidak mengajaknya berbicara, tersenyum, bermain yang mengakibatkan timbulnya sikap tegang, dingin dan menutup diri. Kondisi demikian akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak baik fisik maupun mental intelektualnya.
Latar belakang pendidikan orang tua sering juga dihubngkan dengan masalah-masalah perkembangan. Kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan dini serta kurangnya pengetahuan dalam memberikan rangsang-rangsang positif dalam masa perkembangan anak dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya gangguan atau hambatan dalam perkembangan anak. Kurangnya kontak pribadi dangan anak, misalnya dengan tidak mengajaknya berbicara, tersenyum, bermain yang mengakibatkan timbulnya sikap tegang, dingin dan menutup diri. Kondisi demikian akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak baik fisik maupun mental intelektualnya.
2.5 KEMAMPUAN
ANAK TUNA GRAHITA
Kemampuan anak Tuna
Grahita dapat diungkap berdasarkan beberapa gejala yang tampak, antara lain:
1.
Gejala Fisik
Pada Anak Tuna Grahita:
a.
Tubuh
kecil, pendek, kulit dan rambut kasar (cretine)
b.
Kepala lebih kecil dari ukuran kepala pada
anak umumnya yang seusia (microcephal)
c.
Kepala
lebih besar dari ukuran kepala pada anak umumnya yang seusia (macrocephal/hidrocephal)
d.
Mata
sipit, hidung pesek, kepala agak kecil, otot tangan lemas, jari tangan
pendek-pendek, lidah tebal, garis-garis tangan tidak jelas, kulit kering dan
sensitive terhadap penyakit kulit (mongoloid/down syndrome)
pendek-pendek, lidah tebal, garis-garis tangan tidak jelas, kulit kering dan
sensitive terhadap penyakit kulit (mongoloid/down syndrome)
e.
Kelayuan otak sehingga timbul disfungsi otak
Cerebral Palsy (CP)
Hambatan
aktivitas anak Tuna Grahita yang disebabkan oleh gejala pisik:
a.
Anak
cretin, gerak-geriknya lambat, tapi ada pula yang hiperaktif, muka kosong, bertindak
tanpa dipikir/dipertimbangkan dulu, bicara sukar dan tidak sempurna
b.
Anak
microcephal, bergerak ada yang lamban dan ada yang lincah, terhuyung, muka kosong,
melakukan aktivitas tanpa pikir panjang dan bicaranya tidak sempurna
c.
Anak
macrocephal/hidrocephal, mengalami ketidak seimbangan dalam dalam berjalan, gerakan
tangan agak lemas.
d.
Anak
mongoloid/down syndrome, aktivitas kurang lincah, muka kosong, tidak ada kematangan
berfikir, mata kurang awas sehingga mengganggu penglihatannya, bicara tidak
jelas, kulit sensitive terhadap penyakit kulit seperti gatal-gatal sehingga mengganggu
konsentrasi belajarnya
e.
Anak
Cerebral Palsy (CP), gangguan motorik seperti spastic (gerak tidak terkontrol)
dan atetoid (otot-otot kaku saat digerakkan)
2.
Gejala
Psikis Anak Tuna Grahita:
a.
Mudah
dipengaruhi (tidak mempunyai pendirian yang kuat)
b.
Kurang
dapat menahan diri (keinginan harus segera terpenuhi)
c.
Melanggar
ketentuan (tingkah laku anak cenderung melanggar aturan / norma / etika)
d.
Kecenderungan
merusak (jika anak mempunyai barang apa pun maka tidak mampu merawat
bahkan merusaknya)
e.
Ketakutan
yang berlebihan (jika takut sesuatu akan tampak berlebihan, bahkan sampai keluar
keringat dingin)
f.
Tidak
dapat dipercaya, (anak tidak dapat bertanggungjawab sepenuhnya terhadap kepercayaan
yang dibebankan)
g.
Menyendiri,
(anak sering menyendiri tidak mau bergaul dengan temannya)
h.
Ceroboh,
dalam mengerjakan sesuatu dikerjakannya dengan asal, tanpa berhati-hati
i.
Konsentrasi
mudah terpecah, konsentrasi yang kurang menyebabkan
pekerjaannya tidak diselesaikan karena perhatiannya beralih pada
hal-hal yang lain
3.
Gejala
Bahasa Anak Tuna Grahita:
a.
Bicaranya
terlambat
b.
Perbendaharaan
kata / bahasa terbatas
c.
Bicara
gagap / tidak jelas
d.
Tidak
bias mengungkapkan keinginannya melalui bahasa / bicara
e.
Tidak
bias memahami pembicaraan orang lain
f.
Daya
fantasinya kurang
g.
Sering
membeo
h.
Bahasa
reseptifnya kurang berkembang
4.
Gejala
Emosi Anak Tuna Grahita:
a.
Gejala
emosi positif:
1.)
Cinta
2.)
Girang
3.)
Simpatik
4.)
Semangat
mengerjakan sesuatu
b.
Gejala
emosi negative:
1.)
Takut
pada guntur
2.)
Takut
dokter
3.)
Takut
gelap
4.)
Takut
terhadap orang asing
5.)
Takut
kegagalan
6.)
Takut
diejek teman
7.)
Takut
terhadap tokoh film
8.)
Takut
pada lingkungan yang baru
9.)
Takut
berbicara / mengeluarkan kata-kata
10.)
Malu
dengan orang yang baru dikenal
Anak Tuna
Grahita memiliki kelemahan dalam hal komunikasi, interaksi, adaptasi, maupun
intelektual (berpikir). Karakteristik yang paling menonjol yang membedakan
antara anak Tuna Grahita dan non-Tuna Grahita umumnya mereka mengalami defisit
dalam keterampilan bahasa.
2.6
2.7
CARA BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK TUNA GRAHITA
Berkomunikasi
dengan anak Tuna Grahita layaknya seni melukis. Sang pelukis harus tahu kapan
menggabungkan warna dan kapan harus menggoreskan efek bayangan pada gambarnya.
Caranya :
1.) Tetap
memandang si anak sebagai lawan bicara yang perlu dihormati.
2.)
Menatap mata si anak, ketika ia sedang berbicara. Hal
ini akan memberikan rasa bahwa apa yang dikatakannya mendapat perhatian.
3.)
Jadilah pendengar yang baik dan aktif ketika si anak
sedang bercerita, jangan sesekalli memotong pembicaraannya.
4.)
Berubah menjadi penanya ketika ia selesai bercerita.
5.)
Jangan bosan-bosan mengulangn pertanyaan yang kita
lontarkan untuk mereka.
6.)
Berbicaralah dengan perlahan namun jelas. Usahakan
gerak bibir kita terbaca.
7.)
Jangan pernah menghilangkan senyum manis kita ketika
mendengar dan berbicara dengan mereka.
8.)
Sesekali, berikan kontak fisik sewajarnya sebagai
tanda akrab dan saling menerima.
9.)
JIka pembicaraan sudah selesai, ajaklah mereka untuk
ngobrol lagi lain kali.
10.)
Masuki dunia mereka sebagai dunia yang unik dan asik
2.8 CONTOH
KEJADIAN
Sidoarjo .Dinda Ajeng Pratiwi 14thn, ketika Ajeng
dalam kandungan ibunya 9bulan, tidak ada
tanda-tanda kecacatan fisik menurut pemeriksaan yang di lakukan dokter
spesialis kandungan ibunya. Kemudian beberapa hari sebelum kelahiran si ibu
mengalami kecelakaan dengan sepeda motor, dan kecelakaan itu menyebabkan kepala
bayi cidera, dan langsung dilarikan ke RS.
Si
dokter menyarankan prematurdan akan berakibat Ajeng akan mengalami tuna rungu
ataupun kecacatan dalam anggota geraknya dan juga gangguan saraf otak. Ketika
mengetahui akan hal tersebut, ibu Ajeng sangat shock,menyesal, dan tidak bisa
langsung menerima kenyataan, namun beradaptasi secara perlahan karena terbantu
oleh se sosok Ayah dan Nenek Ajeng yang sangat mencintai Ajeng.
Karena
adanya pekerjaan, kedua orang tua Ajeng berangkat bekerja hingga ia di asuh
oleh Neneknya. Nenek yang selalu mendampingi dan mengajarkan proses
perkembangannya. Setelah tumbuh menjadi anak-anak Ajeng pun masuk sekolah SD,
lebih tepatnya SDN 1 PEKARUNGAN Sukodono, Sidoarjo. Tentunya dengan pengawasan
oleh seseorang yaitu tante dari Ajeng.
Kemudian
perkembangan Ajeng, ketika masih balita ia mengalami obesitas, kecatatan tangan
dan kaki yang belum begitu Nampak, dan si nenek selalu brusaha untuk
menerapikan, mulai dari tradisional hingga modern. Selain itu pula terdapat
gangguan-gangguan seperti:
1.
Komnikasi yang
mengalami keterlambatan 3thn hingga sampai sekarang menjadi gagap
2.
5 atau 6
tahun,kaki kirinya berjalan menyeret
3.
Ketika masuk SD
perkembangan tangan kiri terganggu, kaki kiri agak jinjit pada saat ia
berjalan, dan mulai timbul step jika mendengar Sesuatu yang tiba-tiba.
4.
Emosi berlebihan
dan tidak terkontrol
5.
Terjadi gangguan
pada fungsi otak
Perkembangan psikologi Ajeng
cukup baik Karena ia selalu di kelilingi oleh orang-orang tersayang mulai dari
keluarga hingga tetangga,namun ada pula respon negative oleh teman-teman
sekolah Ajeng,karena menurut teman Ajeng. Bahwa Ajeng anak aneh yang berbeda,
hingga ia mampun beradaptasi kemudian mendapat sahabat. Karena ketebatasan
pendamping untuk Ajeng, ia berhenti sekolah setelah lulus SD.
Meski keadaan Ajeng seperti
itu, ia tidak patah semangat. Ajeng selalu membantu neneknya seperti, menyapu
halaman, menyiram bunga hingga menata pakaian.
Dari beberapa hal diatas
telah terketahui bahwa Ajeng mengalami tuna grahita ringan.
Sumber: Ayu Setiya Dewi mahasiswa plb UNESA 2014(tante dari Ajeng)
Sesungguhnya dibalik sesuatu yang terlihat kurang
seseorang mempunyai kelebihan besar, seperti halnya salah satu anak dari orang
ternam di Indonesia. Anak dari Ruhut Sitompul. Christian Husein Sitompul, anak lelaki dari Ruhut Sitompul dan Anna Rudhiantiana Legawati,
merupakan anak yang istimewa. Penyandang Tuna Grahita ini baru saja mendapatkan
medali emas dalam Olimpiade Tuna
Grahita Dunia yang dilaksanakan pekan lalu di Athena, Yunani.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Anak Tuna Grahita
merupakan anak yang mempunyai IQ dibawah
rata-rata, mereka dibagi menjadi 3 yaitu,tuna grahita ringan(12),tuna grahita
sedang,dan tuna grahita berat(3 tahun). Tuna grahita disebabkan oleh factor
internal dan eksternal. Setiap memiliki potensi untuk menjadi seseorang yang
tuna grahita. Ketunaan dapat diperoleh baik waktu pre-natal(sebelum
lahir),natal(waktu lahir),atau post-natal(sebelum lahir).
3.2 Saran
Bagi orang
tua hendaknya menjaga kandungan dengan baik. Cukupi asupan gizi yang
dibutuhkan saat bayi masih dalam
kandungan. Serta jangan melakukan hal-hal yang dapat memicu kecelakaan sehingga
akan berpengaruh pada bayi. Siapkan diri ibu dengan baik sebelum melahirkan.
Petugas kesehatan adalah petugas yang
benar-benar terlatih untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan ketika
proses melahirkan. Dan setelah bayi lahir lengkapi kebutuhan gizinya dengan
baik agar otak mampu berkembang dengan optimal. Awasi pula kegiatan yang
dilakukan oleh anak agar tidak terjadi kecelakaan yang dapat menyebabkan anak
mengalami ketuna grahitaan. Dan bagi keluarga serta orang disekitarnya mampu
mendukung anak yang tuna grahita baik dari segi interaksi social maupun
psikologinya.
Daftar Pustaka
Muhamad, Anwar (2013) Ciri-ciri karakteristikAnak Tunagrahita Ringan, Saturday, 25 Mei
No comments:
Post a Comment