Friday, April 10, 2015

MAKALAH TENTANG PSIKOLOGI ANAK TUNAGRAHITA

CONTOH MAKALAH TENTANG PSIKOLOGI ANAK TUNAGRAHITA




BAB I
PENDAHULUAN
1.1       LATAR BELAKANG
Pemahaman masyarakat umum mengenai anak berkebutuhan khusus masih sangat minim, kebanyakan mereka menganggap bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang tidak memiliki kemampuan apapun. Salah satu dari mereka adalah  anak Tuna Grahita. Anak Tuna Grahita adalah kondisi anak yang kecerdasannya jauh dibawah rata-rata yang ditandai oleh keterbatasan intelejensi dan ketidak cakapan dalam  interaksi social. Anak tuna grahita atau dikenal juga dengan istilah terbelakan mental karena keterbatasan kecerdasannya sukar untuk mengikuti program pendidikan disekolah biasa secara klasikal.
Namun walaupun begitu anak Tuna Grahita juga memiliki hak yang sama dengan anak normal lainnya. Salah satu hak itu adalah mendapatkan pendidikan. Karena selain memiliki hambatan intelektual, mereka juga masih memiliki potensi yang dapat dikembangkan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh mereka dan sesuai denga kebutuhan mereka. Hal tersebut diatur dalam UUD’45 pasal 31 ayat 1, yang menyatakan bahwa “Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan”. Hal tersebut lebih diperjelas lagi dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 5 ayat 2,dan pasal 33 ayat 1, menyatakan bahwa warga Negara yang memiliki kelainan fisik, emosional,mental, dan atau social berhak memperoleh pendidikan khusus. Oleh karena itu sangat diperlukan pendidikan khusus bagi anak Tuna Grahita.

1.2       RUMUSAN MASALAH
1.      Siapa anak Tuna Grahita itu?
2.      Bagaimana kehidupan anak Tuna Grahita ?
3.      Bagaimna cara berkomunikasi dengan anak Tuna Grahita?
1.3       TUJUAN
1.      Mengetahui siapa anak Tuna Grahita
2.      Memahami kehidupan anak tuna grahita sehari-hari
3.      Mengetahui cara berkomunikasi dengan Tuna Grahita






BAB II
PEMBAHASAN
2.1       SEJARAH
SEJARAH PENDIDIKAN ANAK TUNA GRAHITA
A.    Sejarah Umum pendidikan  Anak Tuna Grahita
Sejarah ortopedagogik (pendidikan) anak Tuna Grahita merupakan sebagian sejarah dari pendidikan anak-anak berkelainan pada umumnya, baik yang berkelainan jasmani maupun rohani atau mental. Di Eropa, perkembangan pendidikan anak berkelainan termasuk anak Tuna Grahita dalam garis besarnya telah menjalani 3 periode (Frampton and Gall, 1955:4):
Ø  Periode Zaman Primitif dan Purbakala (1950 SM-476 M)
Ø  Zaman Pertengahan (500-1500 M)
Ø  Zaman Modern (1500 M- sekarang)

1.      Zaman Primitif, Purbakala, dan Abad pertengahan
Pada zaman prasejarah mereka dipandang tak ubahnya dengan “hewan”, dilenyapkan dari muka bumi melalui hukum “the survival of the fittest”; karena tak sanggup mengatasi kekerasan alam dan musnah. Pada zaman Plato (427-347 SM), orang-orang Atena senang sekali memperlakukan orang cacat sebagai bahan tontonan, bahkan sering dibunuh. Hukum Lycurgus adalah hukum yang membaharui hukum lama di Sparta delapan abad sebelum masehi. Hukum Yunani mendorong orang-orang membantu para janda, yatim, buta, tuli, dan jompo. Dalam hukum ini orang-orang berkelainan mendapat batasan kesempatan sosial, orang cacat dianggap berdosa dan dijauhkan dari tempat ibadah.

2.      Zaman Pertengahan
Pada abad pertengahan, sekte-sekte agama banyak yang memberikan pertolongan kepada warga yang lemah tetapi para bangsawan membuat orang cacat menjadi bahan tontonan. Zaman ini berlangsung sekitar tahun 500-1500 M. pada zaman ini perhatian yang sifatnya filantrolis (kasih sayang) terhadap yang Tuna Grahita telah ada

3.      Zaman Modern
Zaman modern ditandai semakin meluasnya usaha pemeliharaan, pendidikan dan penelitian terhadap anak berkelainan. Pada tahun 1811 Napoleon memerintahkan untuk melakukan sensus bagi penderita cacat mental (Tuna Grahita). Pada tahun 1816 didirikan oleh Gotthard Guggenmos yayasan yang membuka sekolah pertama untuk anak Tuna Grahita di Wildber, Wurtenberg di bawah pimpinan Haldenwang. Sekolah ini ditutup pada tahun 1835 tanpa mencapai hasil yang banyak. Negeri Swiss adalah negara pertama yang memberikan pendidikan dan pengajaran anak Tuna Grahita. Pada tahun 1841 didirikan institut Guggenbuhl. Ia telah menciptakan prototype bagi lembaga-lembaga yang merawat Tuna Grahita. Hal ini menarik minat negara lain sehingga pada abad ke 19 berdirilah berbagai institut untuk anak-anak Tuna Grahita di negara-negara eropa barat dan Amerika. Dokter J.M.G Itart mendapat penghargaan dari akademi ilmu Pengetahuan Prancis dan mendapat gelar Bapak Pendidikan anak-anak Tuna Grahita. Pengalaman-pengalaman Itart tersebut ditulisnya dalam buku “anak liar dari Aveyron”. Karyanya menginspirasi Edward Seguin untuk mendirikan “sekolah” pada institut Bicetre di Paris pada tahun 1837 dan berhasil dengan baik. Seguin mempunyai pandangan yang sifatnya medis dan melahirkan teori pendidikan yang dikenal dengan physiological training. Menurut teori ini, pendidikan anak Tuna Grahita harus menitik beratkan: latihan otot, pendengaran, suara, dan perhatian dan kemudian maju kepada perkembangan gagasan yang umum pada akhirnya kepada berpikir abstrak dan asas-asas moralitas. Teori ini banyak dikritik orang karena bersifat mekanistis. Pada tahun 1848 Seguin pindah ke Amerika Serikat untuk memimpin berbagai lembaga anak Tuna Grahita dan menjadi peletak dasar studi anak-anak Tuna Grahita di zaman modern. Lembaga pendidikan anak Tuna Grahita yang pertama di Amerika Serikat didirikan di Massachussetts pada tahun 1848. Pada akhir abad ke 19 bentuk layanan pendidikan bagi anak berkelainan termasuk Tuna Grahita dari sistem segregasi di sekolah-sekolah khusus pada munculnya kelas-kelas khusus di sekolah biasa, ini upaya untuk menghindarkan isolasi anak-anak berkelainan. Pada pertengahan abad 20, bentuk pelayanan pendidikan khusus yang terpisah dari pendidikan anak normal dipertanyakan. Diketahui bahwa pandangan masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus mengalami perubahan dari masa kemasa. Konsep baru ini dimulai sejak tahun 1968 di Scandinavia, kemudian berkembang ke negara-negara lain. Pada tahun 1981, PBB memasyarakatkan konsep baru ini dengan mencanangkan tahun itu sebagai tahun penyandang cacat internasional.

B.     Sejarah Pendidikan Anak Tuna Grahita di Indonesia
Pendidikan anak Tuna Grahita di Indonesia ditinjau dalam tiga fase
Ø  Masa sebelum abad ke-20
Ø  Masa sebelum perang dunia ke-2 dan
Ø  Masa sesudah Indonesia merdeka 

1.      Masa sebelum abad ke-20
Orang-orang zaman dahulu percaya pada hal-hal yang bersifat supranatural. Menurut kepercayaan ini segala sesuatu berlangsung menurut kehendak roh, kekuatan gaib, dan para dewa. Kedatangan agama islam dan nasrani membawa ajaran baru kepada orang Indonesia, diantarannya:
a.)    Yang mengatur segala sesuatu bukan roh, kekuatan gaib, atau para dewa melainkan Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT)
b.)    Setiap orang mempunyai kewajiban moral dan hendaklah menolong orang-orang yang lemah. Pada zaman pemerintahan
Hindia-Belanda, Indonesia mengenal dua jenis pendidikan yaitu:
1.)    Yang diselenggarakan oleh pemerintah (Sekolah Negeri)
2.)    Yang diselenggarakan oleh masyarakat (Sekolah Swasta)
Pendidikan di pesantren menganut 2 ciri yang penting yaitu:
Ø  Beranggapan bahwa setiap orang wajib belajar
Ø  Mempergunakan tutor dalam melaksanakan prinsip individualisme pengajaran. Kedua prinsip pesantren itu penting bagi Pendidikan Anak Luar Biasa, karena pada prinsip pertama dinyatakan bahwa setiap orang berhak mendapat pendidikan, termasuk penyandang cacat.

2.      Masa Sebelum Perang Dunia ke-2
Pada permulaan abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda membangun sekolah untuk anak-anak bumi putera. Selain itu juga berkembang sekolah-sekolah swasta yang diselenggrakan oleh Perkumpulan-perkumpulan atau yaysan misalnya Sekolah Taman Siswa, sekolah-sekolah yang diselenggrakan organisasi keagaman misalnya Sekolah Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Natla’ul Anwar, Al Wasiyah dan sebagainnya. Badan yang pertama mengusahan Pendidikan Luar Biasa untuk Anak Tuna Grahita di Indonesia ialah Perkumpulan Pengajaran Luar Biasa “Vereniging voor Buitengewoon Lager Onderwijs” didirikan tanggal 31 Mei 1927 atas inisiatif dr. A. Kits Van Heiningen dan W. Akkersdijk, berkedudukan di Bandung. Dalam anggaran dasar perkumpulan tersebut pasal 2 (maksud dan tujuan) :
Perkumpulan bermaksud, mengusahakan dan menyelenggarakan pendidikan dan pemgajaran khusus untuk anak-anak yang “Terbelakang” atau “Lemah Pikiran” yang kurang mampu atau tidak sanggup mengikuti pendidikan dan pengajaran di sekolah biasa sebagai akibat kelambatan atau gangguan psikis di dalam perkembangan daya pikir. Perkumpulan bertujuan, memberikan pendidikan dan pengajaran dengan kebutuhan dan kesanggupan anak-anak yang tersebut pada pasal 2 ayat a, agar mereka dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna serta diharapkan secara ekonomis dapat berdiri sendiri.

3.      Sesudah Indonesia Merdeka
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat1 dinyatakan “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”. Pada ayat 2 dinyatakan: Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. Sebagai tindaklanjutnya pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan undang-undang nomor 4 tahun 1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah (UU pokok pendidikan dan pengajaran nomor 12 tahun 1954). Dalam undang-undang tersebut pada bab V pasal 6 ayat 2 dinyatakan “Pendidikan dan pengajaran luar biasa diberikan dengan khusus untuk mereka yang membutuhkan”. Dari catatan sejarah, selama pemerintahan Hindia Belanda dan pendudukan Jepang sampai tahun 1952 belum seorangpun bangsa Indonesia yang mendapat pendidikan khusus untuk menjadi guru pendidikan bagi anak-anak cacat termasuk menjadi guru pendidikan anak Tuna Grahita. Pada tahun 1952 dengan surat keputusan nomor 24954 tertanggal 26 Juli 1952. Pemerintah Republik Indonesia membuka Sekolah Guru Pengajaran Luar Biasa (SGPLB) yang pertama di Bandung. Tamatan Sekolah Guru Pengajaran Luar Biasa (SGPLB) yang pertama ini sebagian di tempatkan di Sekolah Luar Biasa di Bandung. Kemudian SRLB dirubah menjadi SLB (Sekolah Luar Biasa). Pada kondisi waktu itu SGLB membuka tiga jurusan yaitu jurusan A untuk anak tunanetr, B untuk anak tuna rungu, C untuk anak Tuna Grahita. Kemudian berkembang menjadi SLB A untuk tunanetra, SLB B untuk tunarungu, SLB C dan C1 untuk Tuna Grahita ringan dan sedang. Penjurusan SGPLB Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa berkembang menjadi A, B, C, D, E. Jurusan D untuk anak tunadaksa dan E untuk anak tunalaras. Demikian pula dengan SLB A, B, C kemudian menjadi SLB-A, SLB-B, SLB-C, SLB-D, SLB-E dan SLB-G cacat ganda

2.2              PENGERTIAN TUNA GRAHITA
Description: C:\Users\user\Downloads\images.jpg
TUNA GRAHITA adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual dibawah rata-rata. Tuna Grahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:
A.    Lemah pikiran (Feeble Minded)
B.     Terbelakang mental (Mentally Retarded)
C.     Bodoh atau dungu (Idiot)
D.    Pandir (Imbecile)
E.     Tolol (Moron)
F.      Oligofrenia (Oligophrenia)
G.    Mampu Didik (Educable)
H.    Mampu Latih (Trainable)
I.       Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau butuh rawat
J.       Mental Subnormal
K.    Defisit Mental
L.     Defisit Kognitif
M.   Cacat Mental
N.    Defisiensi Mental
O.    Gangguan Intelektual
Tuna Grahita dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainnya. Namun demikian, penyandang Tuna Grahita bisa mengalami semua gangguan jiwa yang ada, dan prevalensi dari gangguan jiwa lainnya sekurang-kurangnya tiga sampai empat kali lipat pada populasi umum. Selain itu, penyandang Tuna Grahita mempunyai resiko lebih besar untuk di eksploitasi untuk diperlakukan salah secara fisik atau seksual (physic or sexual abuse).
2.3       JENIS-JENIS TUNA GRAHITA
1. Tuna Grahita Ringan
Anak yang tergolong dalam Tuna Grahita ringan memiliki banyak kelebihan dan kemampuan. Mereka mampu dididikdan dilatih. Misalnya, membaca, menulis, berhitung, menjahit, memasak, bahkan berjualan. Tuna Grahita ringan lebih mudah diajak berkomunikasi. Selain itu kondisi fisik mereka tidak begitu mencolok. Mereka mampu berlindung dari bahaya apapun. Karena itu anak Tuna Grahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra.
2. Tuna Grahita Sedang
Tidak jauh berbeda dengan anak Tuna Grahita ringan. Anak Tuna Grahita sedang pun mampu diajak berkomunikasi. Namun, kelemahannya mereka tidak begitu mahir dalam menulis, membaca, dan berhitung. Tetapi, ketika ditanya siapa nama dan alamat rumahnya akan dengan jelas dijawab. Mereka dapat bekerja di lapangan namun dengan sedikit pengawasan. Begitu pula dengan perlindungan diri dari bahaya. Sedikit perhatian dan pengawasan dibutuhkan untuk perkembangan mental dan sosial anak Tuna Grahita sedang.
3. Tuna Grahita Berat
Anak Tuna Grahita berat disebut juga idiot. karena dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan pengawasan, perhatian, bahkan pelayanan yang maksimal. Mereka tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dair bahaya. Asumsi anak Tuna Grahita sama dengan anak Idiot tepat digunakan jika anak Tuna Grahita yang dimaksud tergolong dalam tungrahita berat.
Melalui sedikit penjelasan tentang anak Tuna Grahita, semoga pembaca yang masih menganggap semua anak Tuna Grahita itu anak idiot dan tidak memiliki kemampuan apa-apa tidak lagi berpikiran semacam itu. Setelah mengetahui hal ini pula kiranya dapat disosialisasikan kepada siapa saja yang masih belum tahu.
Menurut para ahli jika di simpulkan :
Pengertian Tuna grahita menurut American Asociation on Mental Deficiency/AAMD: yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes; yang muncul sebelum usia 16 tahun; yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif. Sedangkan pengertian Tuna Grahita menurut Japan League for Mentally Retarded sebagai berikut: Fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku.Kekurangan dalam perilaku adaptif. Terjadi pada masa perkembangan, yaitu anatara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.
2.4       FAKTOR TUNA GRAHITA
Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi Tuna Grahita. Para ahli dari berbagai ilmu telah berusaha membagi faktor-faktor penyebab ini diantaranya adalah sebagai berikut:

a.       Faktor keturunan
Adanya kelainan kromosom baik autosom (mempunyai kromosom 3 ekor pada kromosom nomor 21 sehingga anak mengalami Langdon Down’s S yndrome dan pada trisomi kromosom nomor 15 anak akan menderita Patau’s Syndrome dengan cicri-ciri berkepala kecil, mata kecil, berkuping aneh, sumbing, dan kantung empedu yang besar . Adanya kegagalan meiosis sehingga menimbulkan duplikasi dan translokasi) maupun kelainan pada gonosom (gonosom yang seharusnya XY, karena kegagalan menjadi XXY atau XXXY. Ciri yang menonjol adalah nampak laki-laki dan Tuna Grahita. Setelah mencapai masa puber tubuhnya menjadi panjang, gayanya mirip wanita, berpayudara besar).

b.      Gangguan metabolisme dan Gizi
Metabolisme dan gizi merupakan hal yang penting bagi perkembangan individu terutama perkembangan sel-sel otak. Beberapa kelainan yang disebabkan oleh kegagalan metabolisme dan kekurangan gizi diantaranya adalah sebagai berikut:

·         Phenylketonuria
Salah satu akibat gangguan metabolisme asam amino juga kelainan gerakan enzym phenylalanine hydroxide. Gejala umum yang nampak adalah Tuna Grahita, kekurangan pigmen, microcephaly, serta kelainan tingkah laku.
·         Cretinisme
Disebabkan oleh keadaan hypohyroidism kronik yang terjadi selama masa janin atau segera setelah melahirkan. Berat ringan kelainan tergantung pada tingkat kekurangan thyroxin. Gejala utama yang tampak adalah adanya ketidaknormalan fisik yang khas dan keTuna Grahitaan dan awal gejalanya dengan kurangnya nafsu makan, anak menjadi sangat pendiam, jarang tersenyum dan tidur yang berlebihan.


c.       Infeksi dan keracunan
Adanya infeksi dan keracunan terjangkitnya penyakit-penyakit selama janin masih berada dalam kandungan ibunya yang menyebabkan anak lahir menjadi Tuna Grahita.

·         Rubella
Penyakit ini menjangkiti ibu pada dua belas minggu pertama kehamilan. Selain Tuna Grahita, ketidaknormalan yang disebabkan penyakit ini adalah kelainan pendengaran, penyakit jantung bawaan, berat badan yang sangat rendah pada waktu lahir dan lain-lain.
·         Syphilis bawaan
Kondisi bayi yang terkena Syphilis adalah kesulitan pendengaran, hidungnya tampak seperti hidung kuda.
·         Syndrome Gravidity Beracun
KeTuna Grahitaan yang timbul dari Syndrome Gravidity Beracun terjadi pada sebagian bayi yang lahir prematur, kerusakan janin yang disebabkan oleh zat beracun, dan berkurangnya aliran darah pada rahim dan plasenta

d.      Trauma dan zat radioaktif
Trauma otak yang terjadi dikepala dapat menimbulkan pendarahan intracranial terjadinya kecacatan pada otak. Ini biasanya disebabkan karena kelahiran yang sulit sehingga memerlukan alat bantu (tang). Selain itu penyinaran atau radiasi sinar X selama bayi dalam kandungan mengakibatkan cacat mental microcephaly.

e.       Masalah pada kelahiran
Adanya kelahiran yang disertai hypoxia (kejang dan nafas pendek) dipastikan bahwa bayi yang akan dilahirkan menderita kerusakan otak.
f.       Faktor lingkungan
Latar belakang pendidikan orang tua sering juga dihubngkan dengan masalah-masalah perkembangan. Kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan dini serta kurangnya pengetahuan dalam memberikan rangsang-rangsang positif dalam masa perkembangan anak dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya gangguan atau hambatan dalam perkembangan anak. Kurangnya kontak pribadi dangan anak, misalnya dengan tidak mengajaknya berbicara, tersenyum, bermain yang mengakibatkan timbulnya sikap tegang, dingin dan menutup diri. Kondisi demikian akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak baik fisik maupun mental intelektualnya.

2.5      KEMAMPUAN ANAK TUNA GRAHITA
Kemampuan anak Tuna Grahita dapat diungkap berdasarkan beberapa gejala yang tampak, antara lain:
1.      Gejala Fisik Pada Anak Tuna Grahita:
a.       Tubuh kecil, pendek, kulit dan rambut kasar (cretine)
b.       Kepala lebih kecil dari ukuran kepala pada anak umumnya yang seusia (microcephal)
c.       Kepala lebih besar dari ukuran kepala pada anak umumnya yang seusia (macrocephal/hidrocephal)
d.      Mata sipit, hidung pesek, kepala agak kecil, otot tangan lemas, jari tangan
pendek-pendek, lidah tebal, garis-garis tangan tidak jelas, kulit kering dan
sensitive terhadap penyakit kulit (mongoloid/down syndrome
)
e.        Kelayuan otak sehingga timbul disfungsi otak Cerebral Palsy (CP)
Hambatan aktivitas anak Tuna Grahita yang disebabkan oleh gejala pisik:
a.       Anak cretin, gerak-geriknya lambat, tapi ada pula yang hiperaktif, muka kosong, bertindak tanpa dipikir/dipertimbangkan dulu, bicara sukar dan tidak sempurna
b.      Anak microcephal, bergerak ada yang lamban dan ada yang lincah, terhuyung, muka kosong, melakukan aktivitas tanpa pikir panjang dan bicaranya tidak sempurna
c.       Anak macrocephal/hidrocephal, mengalami ketidak seimbangan dalam dalam berjalan, gerakan tangan agak lemas.
d.      Anak mongoloid/down syndrome, aktivitas kurang lincah, muka kosong, tidak ada kematangan berfikir, mata kurang awas sehingga mengganggu penglihatannya, bicara tidak jelas, kulit sensitive terhadap penyakit kulit seperti gatal-gatal sehingga mengganggu konsentrasi belajarnya
e.       Anak Cerebral Palsy (CP), gangguan motorik seperti spastic (gerak tidak terkontrol) dan atetoid (otot-otot kaku saat digerakkan)
2.      Gejala Psikis Anak Tuna Grahita:

a.       Mudah dipengaruhi (tidak mempunyai pendirian yang kuat)
b.      Kurang dapat menahan diri (keinginan harus segera terpenuhi)
c.       Melanggar ketentuan (tingkah laku anak cenderung melanggar aturan / norma / etika)
d.      Kecenderungan merusak (jika anak mempunyai barang apa pun maka tidak mampu merawat bahkan merusaknya)
e.       Ketakutan yang berlebihan (jika takut sesuatu akan tampak berlebihan, bahkan sampai keluar keringat dingin)
f.       Tidak dapat dipercaya, (anak tidak dapat bertanggungjawab sepenuhnya terhadap kepercayaan yang dibebankan)
g.      Menyendiri, (anak sering menyendiri tidak mau bergaul dengan temannya)
h.      Ceroboh, dalam mengerjakan sesuatu dikerjakannya dengan asal, tanpa berhati-hati
i.        Konsentrasi mudah terpecah, konsentrasi yang kurang menyebabkan pekerjaannya tidak diselesaikan karena perhatiannya beralih pada hal-hal yang lain

3.      Gejala Bahasa Anak Tuna Grahita:

a.       Bicaranya terlambat
b.      Perbendaharaan kata / bahasa terbatas
c.       Bicara gagap / tidak jelas
d.      Tidak bias mengungkapkan keinginannya melalui bahasa / bicara
e.       Tidak bias memahami pembicaraan orang lain
f.       Daya fantasinya kurang
g.      Sering membeo
h.      Bahasa reseptifnya kurang berkembang


4.      Gejala Emosi Anak Tuna Grahita:
a.       Gejala emosi positif:
1.)     Cinta
2.)    Girang
3.)    Simpatik
4.)    Semangat mengerjakan sesuatu 
b.      Gejala emosi negative:
1.)    Takut pada guntur
2.)    Takut dokter
3.)    Takut gelap
4.)    Takut terhadap orang asing
5.)    Takut kegagalan
6.)    Takut diejek teman
7.)    Takut terhadap tokoh film
8.)    Takut pada lingkungan yang baru
9.)    Takut berbicara / mengeluarkan kata-kata
10.)            Malu dengan orang yang baru dikenal

Anak Tuna Grahita memiliki kelemahan dalam hal komunikasi, interaksi, adaptasi, maupun intelektual (berpikir). Karakteristik yang paling menonjol yang membedakan antara anak Tuna Grahita dan non-Tuna Grahita umumnya mereka mengalami defisit dalam keterampilan bahasa.
2.6                

2.7              CARA BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK TUNA GRAHITA
Berkomunikasi dengan anak Tuna Grahita layaknya seni melukis. Sang pelukis harus tahu kapan menggabungkan warna dan kapan harus menggoreskan efek bayangan pada gambarnya. Caranya :
1.)    Tetap memandang si anak sebagai lawan bicara yang perlu dihormati.
2.)    Menatap mata si anak, ketika ia sedang berbicara. Hal ini akan memberikan rasa bahwa apa yang dikatakannya mendapat perhatian.
3.)    Jadilah pendengar yang baik dan aktif ketika si anak sedang bercerita, jangan sesekalli memotong pembicaraannya.
4.)    Berubah menjadi penanya ketika ia selesai bercerita.
5.)    Jangan bosan-bosan mengulangn pertanyaan yang kita lontarkan untuk mereka.
6.)    Berbicaralah dengan perlahan namun jelas. Usahakan gerak bibir kita terbaca.
7.)    Jangan pernah menghilangkan senyum manis kita ketika mendengar dan berbicara dengan mereka.
8.)    Sesekali, berikan kontak fisik sewajarnya sebagai tanda akrab dan saling menerima.
9.)    JIka pembicaraan sudah selesai, ajaklah mereka untuk ngobrol lagi lain kali.
10.)            Masuki dunia mereka sebagai dunia yang unik dan asik
2.8       CONTOH KEJADIAN
Sidoarjo .Dinda Ajeng Pratiwi 14thn, ketika Ajeng dalam kandungan  ibunya 9bulan, tidak ada tanda-tanda kecacatan fisik menurut pemeriksaan yang di lakukan dokter spesialis kandungan ibunya. Kemudian beberapa hari sebelum kelahiran si ibu mengalami kecelakaan dengan sepeda motor, dan kecelakaan itu menyebabkan kepala bayi cidera, dan langsung dilarikan ke RS.
            Si dokter menyarankan prematurdan akan berakibat Ajeng akan mengalami tuna rungu ataupun kecacatan dalam anggota geraknya dan juga gangguan saraf otak. Ketika mengetahui akan hal tersebut, ibu Ajeng sangat shock,menyesal, dan tidak bisa langsung menerima kenyataan, namun beradaptasi secara perlahan karena terbantu oleh se sosok Ayah dan Nenek Ajeng yang sangat mencintai Ajeng.
            Karena adanya pekerjaan, kedua orang tua Ajeng berangkat bekerja hingga ia di asuh oleh Neneknya. Nenek yang selalu mendampingi dan mengajarkan proses perkembangannya. Setelah tumbuh menjadi anak-anak Ajeng pun masuk sekolah SD, lebih tepatnya SDN 1 PEKARUNGAN Sukodono, Sidoarjo. Tentunya dengan pengawasan oleh seseorang yaitu tante dari Ajeng.
            Kemudian perkembangan Ajeng, ketika masih balita ia mengalami obesitas, kecatatan tangan dan kaki yang belum begitu Nampak, dan si nenek selalu brusaha untuk menerapikan, mulai dari tradisional hingga modern. Selain itu pula terdapat gangguan-gangguan seperti:
1.      Komnikasi yang mengalami keterlambatan 3thn hingga sampai sekarang menjadi gagap
2.      5 atau 6 tahun,kaki kirinya berjalan menyeret
3.      Ketika masuk SD perkembangan tangan kiri terganggu, kaki kiri agak jinjit pada saat ia berjalan, dan mulai timbul step jika mendengar Sesuatu yang tiba-tiba.
4.      Emosi berlebihan dan tidak terkontrol
5.      Terjadi gangguan pada fungsi otak
Perkembangan psikologi Ajeng cukup baik Karena ia selalu di kelilingi oleh orang-orang tersayang mulai dari keluarga hingga tetangga,namun ada pula respon negative oleh teman-teman sekolah Ajeng,karena menurut teman Ajeng. Bahwa Ajeng anak aneh yang berbeda, hingga ia mampun beradaptasi kemudian mendapat sahabat. Karena ketebatasan pendamping untuk Ajeng, ia berhenti sekolah setelah lulus SD.
Meski keadaan Ajeng seperti itu, ia tidak patah semangat. Ajeng selalu membantu neneknya seperti, menyapu halaman, menyiram bunga hingga menata pakaian.
Dari beberapa hal diatas telah terketahui bahwa Ajeng mengalami tuna grahita ringan.







Sumber: Ayu Setiya Dewi mahasiswa plb UNESA 2014(tante dari Ajeng)
Sesungguhnya dibalik sesuatu yang terlihat kurang seseorang mempunyai kelebihan besar, seperti halnya salah satu anak dari orang ternam di Indonesia. Anak dari Ruhut Sitompul. Christian Husein Sitompul, anak lelaki dari Ruhut Sitompul dan Anna Rudhiantiana Legawati, merupakan anak yang istimewa. Penyandang Tuna Grahita ini baru saja mendapatkan medali emas dalam Olimpiade Tuna Grahita Dunia yang dilaksanakan pekan lalu di Athena, Yunani.





BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
Anak Tuna Grahita merupakan anak yang mempunyai IQ  dibawah rata-rata, mereka dibagi menjadi 3 yaitu,tuna grahita ringan(12),tuna grahita sedang,dan tuna grahita berat(3 tahun). Tuna grahita disebabkan oleh factor internal dan eksternal. Setiap memiliki potensi untuk menjadi seseorang yang tuna grahita. Ketunaan dapat diperoleh baik waktu pre-natal(sebelum lahir),natal(waktu lahir),atau post-natal(sebelum lahir).
3.2       Saran
Bagi orang tua hendaknya menjaga kandungan dengan baik. Cukupi asupan gizi yang dibutuhkan  saat bayi masih dalam kandungan. Serta jangan melakukan hal-hal yang dapat memicu kecelakaan sehingga akan berpengaruh pada bayi. Siapkan diri ibu dengan baik sebelum melahirkan. Petugas kesehatan  adalah petugas yang benar-benar terlatih untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan ketika proses melahirkan. Dan setelah bayi lahir lengkapi kebutuhan gizinya dengan baik agar otak mampu berkembang dengan optimal. Awasi pula kegiatan yang dilakukan oleh anak agar tidak terjadi kecelakaan yang dapat menyebabkan anak mengalami ketuna grahitaan. Dan bagi keluarga serta orang disekitarnya mampu mendukung anak yang tuna grahita baik dari segi interaksi social maupun psikologinya.













Daftar Pustaka
Muhamad, Anwar (2013) Ciri-ciri karakteristikAnak Tunagrahita Ringan, Saturday, 25 Mei

Chotimah, Ainun (2013) Klasifikasi Anak Tunagrahita Menurut IQ [online]. Tersedia: http://ainun-k5113003-plbuns13.blogspot.com/2013/10/klasifikasi-anak-tunagrahita.html [30 Oktober 2013]



No comments:

Post a Comment