PENGARUH MEDIA PERMAINAN MAZE TERHADAP KEMAMPUAN
MEMBACA PERMULAAN ANAK TUNARUNGU KELAS 1
DI SDLB NEGERI SUGIHWARAS KAB. BOJONEGORO
Dosen pembimbing :
Dr. Yuliati, M.Pd
Disusun
dalam rangka memenuhi sebagian tugas akhir mata kuliah
“Metodologi
Penelitian”
PLB 2014
Oleh :
Muhammad Imam
Rofi’i (14010044041)
PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Desember 2016
KATA PENGANTAR
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang. Syukur Alhamdulillah kami panjatkan Kehadirat Allah SWT,
atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyusun Proposal ini dengan judul “Pengaruh
Media Permainan Maze Terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Anak Tunarungu Kelas
1 Di SDLB Negeri Sugihwaras Kab. Bojonegoro ” dapat
terselesaikan.
Terselesaekannya penulisan
Proposal ini tentunya tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini saya ucapkan terima kasih
kepada Dr. Yuliati, M.Pd selaku Dosen pengampu mata kuliah metodelogi
penelitian dan seluruh teman-teman PLB FIP UNESA angkatan 2014 atas dukungan
dan semangatnya.
Semoga penulisan Proposal
ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, khususnya pendidikan luar biasa.
Surabaya,
21 Desember 2016
Penulis
DAFTAR
ISI
COVER................................................................................................................
KATA
PENGANTAR.........................................................................................
DAFTAR
ISI
.......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
B.
Indikasi
Masalah...........................................................................................
C.
Batasan Masalah............................................................................................
D.
Rumusan Masalah
E.
Tujuan Penelitian
F.
Manfaat Penelitian
G.
Batasan Penelitian
H. Asumsi Penelitian
BAB II KAJIAN
PUSTAKA
A.
Kajian Tentang Anak Tunarungu...............................................................
B.
Kajian Mengenai Pembelajaran Membaca
Permulaan...............................
C. Kajian mengenai
Media Pembelajaran........................................................
D. Kajian Mengenai
Media Permainan Maze..................................................
E. Membaca Permulaan
Anak Tunarungu Dengan
Media
Permainan Maze...............................................................................
F.
Hasil
Penelitian Yang Relevan.....................................................................
G. Kerangka Berfikir..........................................................................................
BAB
III METODELOGI PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian ...................................................................................................
B.
Rancangan
Penelitian .......................................................................................
C.
Variabel
Penelitian.............................................................................................
D.
Lokasi,
dan Subyek penelitian..........................................................................
E.
Teknik
Pengumpulan data................................................................................
F.
Teknik
Analisis
Data..........................................................................................
G.
Cara
penafsiran...................................................................................................
H.
penarikan kesimpulan....................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan
luar biasa yaitu pendidikan yang ditujukan kepada anak yang mempunyai hambatan,
baik itu hambatan fisik, intelektual, maupun hambatan sosial dan emosi. Salah satu anak yang mengalami hambatan atau
yang biasa disebut anak berkebutuhan khusus yaitu anak tunarungu. Suparno
(2001:8) mengumumkan tunarungu merupakan adanya ketidakmampuan seseorang dalam
menerima informasi melalui pendengaran,
dari yang mengalami ketidakmampuan taraf ringan hingga taraf yang sangat
berat. Sedangkan menurut mores (Haryanto, 2012:117), tunarungu merupakan suatu
kondisi dimana fungsi pendengarannya tidak berjalan secara optimal dan ada dua
kelompok. Pada kelompok pertama, derajat ketunarunguan yang sudah sama sekali
tidak mendengar disebut tuli ,
yakni pada tingkat 70dB atau
lebih baik tanpa menggunakan alat bantu dengar. Sedangkn kelompok kedua, yakni
derajat ketunarunguan yang masih mempunyai sisa pendengaran yang biasa disebut
kurang dengar. Dan biasanya pada ketunarunguan kurang dengar ini lebih baik
menggunakan alat bantu dengar. Menurut Murni Winarsih
(2007: 23), menyatakan anak
tunarungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan
kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan oleh tidak fungsinya
sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga anak tersebut tidak dapat
menggunakan alat pendengarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketidak
mampuan anak tunarungu dalam memperoleh informasi melalui indera pendengaran
nya sangat berpengaruh dalam bebrapa aspek perkembangannya. Aspek perkembangan
anak tunarungu yang paling menonjol yang mengalami masalah atau hamabatan
adalah dalam aspek bahasa. Ketidak mampuan anak tunarungu dalam mendengar
menjadikan anak tidak mampu untuk melakukan eksplorasi bunyi atau suara yang
ada di lingkungannya. Akibat kesulitan menerima rangsangan bunyi atau suara
tersebut anak tunarungu juga akan mengalami kesulitan dalam memproduksi suara
atau bunyi bahasa yang ada di lingkungannya.
Berangkat
dari dampak yang ditimbulkan dari adanya kekurangan pendengaran pada diri
seseorang. Seseorang tersebut akan merasa kehilangan sesuatu hal yang sangat
penting di dalam hidupnya. Pendengaran sendiri merupakan salah satu hal
terpenting bagi manusia, agar bisa meniti tugas perkembangannya sescara
optimal. Seperti halnya peranan pendengaran, bahasa, dan bicara merupakan tiga
serangkaian dalam proses komunikasi yang tidap dapat terpisahkan. Ketika
kehilangan satu komponen tersebut maka akan menjadikan proses komunikasi
menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Yang mana nantinya akan terjadi kesulitan dalam memproduksi atau
mengakap proses komunikasi tersebut.
Bahasa
merupakan hal terpenting dalam kehidupan manusi. Jika perkembangan bahasa
terhambat maka akan berdampak pada aspek lainnya. Seperti anak tunarungu yang mengalami
hambatan dalam perkembangan bahasa yang disebabkan oleh hambatan pendengaran
yang mereka alami. Bahasa menurut Furth
(1996) merupakan alat yang harus ada
dalam komunikasi dan bukan alat mutlak dalam berfikir, namun kecakapan bahasa
seseorang tergantung pada kecerdasan seseorang tersebut. Demikian pula Whors (1956) juga mnyatakan bahwa perkembangan
intelektual sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh pengalamanna terutama dalam
aspek bahasa, karena bahasa dapat digunakan untuk menerima konsep-konsep ilmu
pengetahuan ( dalam Mohammad Efendi, 2009:76).
Betapa
peran bahasa yang begitu penting dalam kehidupan manusia , sehingga manusia
menggunakan bahasa dari sejak manusia lahir hingga akhir kehidupan manusia. Dengan bahasa,
seseorang akan memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat digunakan untuk
mengasah kemampuan berfikir maupun mengungkapkan segala ide yang ada
dipikirannya. Manusia selain menggunakan bahasa, mereka juga memperlajari
bahasa dibangku sekolah. Belajar bahasa
erat kaitannya dengan pembelajaran bahasa. Pemblajaran bahasa merupakan
pelajaran terpenting yang menjadi pokok sebekum mempelajari materi atau
pelajaran selanjutnya, seperti mata
pelajaran IPA. IPS, Agama dll. Dalam
pembelajaran bahasa dikenal aspek ketrampilan bahasa , dimana isinya yaitu
menyimak berbicara, membaca dan menulis. Aspek ketrampilan berbahasa tersebut
merupakan aspek yang penting, dimana salah satunya adalah aspek membaca.
Kemampuan
membaca merupakan salah satu kunci dari keberhasilan anak dalam meraih kemajuan
dan prestasinya. Karena jika anak memiliki kemampuan membaca yang memadai, anak
akan lebih mudah menggali informasi dari berbagai referensi seperti sember
tertulis. Oleh karena itu kemampuan dan kemauan membaca anak hendaknya
ditekankan sejak jenjang pendidikan dasar yaitu saat anak masih berada di
bangkus sekolah dasar. Upaya pengembangan dan peningkatan kemampuan membaca
dilakukan melalui pembelajaran disekolah dasar sebagai pengalaman pertama,
biasanya diajarkan pada kelas I, II, dan, III.
Darmiyati Zuchdi dan Budiasih k (1997:50) menyatakan bahwa kemampuan
membaca permulaan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca pemahaman anak.
sebagai kemampuan yang mendasar maka kemampuan membaca permulaan
benar-benar harus diperhatikan oleh para guru.
Karena, apabila kemampuan membaca permulaan /dasar dari suatu pondasi
kemampuan membaca tidak kuat, maka tahap
membaca lanjut anak akan akan mengalami kesulitan untuk memiliki kemampuan
membaca yang memadai.
Membaca
permulaan merupakan tahap awal anak dalam proses belajar membaca, dimana
membaca permulaan sebagai kemampuan dasar dalam kegiatan membaca dan sebagai
alat bagi anak untuk mengetahui makna dari isi mata pelajaran yang
dipelajarinya disekolah. Semakin cepat anak
dapat membaca maka semakin besar peluang anak untuk memahami isi makna mata
pelajaran disekolah. Pembelajaran membaca disekolah diajarkan
melalui mata pelajaran bahasa indonesia. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
dari Darmiyati Zuchdi dan Budiasih k (1997:50) menyatakan bahwa kemampuan
membaca permulaan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca pemahaman anak.
Berdasarkan
kompetensi inti dan kompetensi dasar
kelas 1 SDLB untuk anak tunarungu dalam kurikulum 2013 menyebutkan bahwa kompetensi
inti yang diharapkan dalam aspek membaca yaitu menirukan kata, dan kalimat
sederhana. sedangkan kompetensi dasar yang diharapkan adalah membaca beberapa
kata sederhanadan membaca kalimat sederhana. akan tetapi , dari hasil observasi
yang dilakukan oleh peneliti pada bulan september 2016, di SDLB Negeri
Sugihwaras Kab. Bojonegoro terdapat anak tunarungu kelas 1 SDLB yang masih
mengalami masalah pada mata pelajaran Bahasa indonesia terutama pada materi
membaca permulaan. Anak tunarungu masih belummampu membaca kata dengan bahasa
oral. Akan tetapi anak tunarungu tersebuit sudah mampu mengidentifikasi semua
huruf abjad, baik huruf vokal maupun
huruf konsonan menggunakan bahasa oral maupun bahasa isyarat. Sedangkan untuk membaca kata ataupun kalimat
sederhana anak masih mengalami kesulitan.
Masalah
pendidikan dan pengajaran merupakan persoalan yang cukup kompleks, sebab banyak
hal yang ikut mempengaruhi didalamnya. Salah satu faktor tersebut ialah guru.
Guru merupakan komponen pembelajaran yang memegang peranan penting dan utama,
karena keberhasilan proses pembelajaran sangat ditentukan oleh faktor dan peran
guru. Tugas guru adalah menyampaikan materi pembelajaran kepada anak didiknya
dengan menggunakan strategi pembelajaran dan media pembeljaran dalam proses
pembelajaran yang dilaksanakan. Dan keberhasilan guru dalam menyampaikan materi
kepada anak bergantung pada strategi dan medai yang digunankannya. Oleh karena itu, kesesuain medai dan strategi
pembelajaran terhadap karakteristik anak sangatlah penting, karena akan membawa
pengaruh dalam proses pembelajarannya.
Berdasarkan
hasil observasi dilapangan , bahwa di kelas 1 SDLB Negeri sugihwaras Kabupaten
bojonegoro, pembelajaran untuk anak tunarungunya masih menggunakan media
pembelajaran yang konvensional, terutama pada pembelajaran membaca permulaan.
Karena menggunakan media yang masih konvensional ini menyebabkan anak
tunarungu di kelas I SDLB Negeri
Sugihwaras Bojonegoro juga mudah merasa bosan ketika harus belajar materi yang
bersifat verbal, seperti kegiatan membaca permulaan. Berangkat dari masalah
diatas tentunya tingkat ketetarikan dalam mengikuti proses kegiatan
pembelajaran akan mempengaruhi tingkat pemahaman mereka. Banyak guru yang masih menggunakan media berbentuk gambar
biasa dalam mengajarkan pembelajaran membaca.
Berangkat
dari permasalahan-tersebut tersebut, diketahui bahwa belum tercapainya
indikator-indikator mata pelajaran bahasa indonesia pada aspek kegiatan membaca
permulaan anak tunarungu yang disebabkan
oleh penggunaan media yang masih konvensional membuat tingkat ketertarikan anak
tunarungu dalam belajar membaca permulan sangat kurang dan tentunya hal ini
akan mempengaruhi tingkan kemampuan membaca mereka. Sehingga penggunaan media
lain yang lebih efektif lagi sangat diperlukan, mengingat media pembelajaran
mempunyai peranan yang sangatlah penting bagi proses kegiatan pembalajaran anak
tunarungu, terutama untuk mempermudah penyampaian pesanatau informasi.
Dewasa
ini, Media pembelajaran yang dapat digunakan untuk membaca permulaan cukup
banyak macamnya, pemilihan media dapat disesuaikan dengan tujuan pembeljaran
yang ingin di capai. Salah satu media yang bisa digunakan yaitu melalui media
permainan. Dimana media permaianan dipilih karena dianggap bisa lebih efektif
dan menyenangkan . mengingat anak kelas 1 sdlb yang umunya memiliki tingkat
keaktifan gerak maupun perilaku dan menginginkan konspe pembelajran yang
cenderung banyak kegiatan permianannya. Sehingga peneliti mengkhususukan media
pembelajaran yang akan dipilih yakni
media pembelajaran yang mengarah pada permianan.
Pada
dasarnya bermain adalah pengalaman pengajaran dan pembelajaran yang terbaik dan
menjadi keutamaan dalam pendidikan awal anak-anak (Ismail dan Rahman,2013).
Melalui aktivitas bermain, anak akan lebih mudah menerima pembelajaran, dan
lebih mudah konsentrasi karena kegiatan bermain adalah suatu hal yang paling
disenangi anak, selain itu tanpa disadari anak, dengan bermain mereka juga
tidak hanya mendapatkan kesenangan dan keceriaan saja melainkan juga
mendapatkan manfaat yang lainnya, seperti peningkatan kemampuan motorik,
bahasa, sosial dan emosi, serta kreativitas anak.
Media
permainan yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran membaca permulaan
salah satunya yaitu media permaianan maze. Media permainan maze merupakan media
yang menggunakan permianan maze sebagai alat untuk untuk mempermudah
penyampaian pesan atau informasi pembelajaran, melalui kegiatan mencari
jejak-jejak dari bagian kata. Dengan kata lain dalam media ini anak mencari
jejak tempat huruf baik vokal maupun konsonan dari suku kata, dan mencari kata yang sesuai
dengan susunan yang dibawa oleh anak. Media ini dipilih karena dianggap bisa
menjadikan anak lebih senang, dan guru dapat melasanakan pembelajaran secara
baik, khususnya pembelajaran membaca permulaan.
Hasil
kajian penelitian terdahulu jamil, (2009 : 95 ) menyatakan bahwa, permaianan
maze adalah permainan mencari jejak yang dapat meningkatkan seluruh aspek
perkembangan anak usia dini, baik perkembangan motrik, kognitif, bahasa, sosial
dan emosi, serta kreativitas anak.
Permainan
Maze adalah permainan mencari jejak yang bermanfaat untuk melatih anak dalam
meningkatkan kemampuan bahasa indonesia terutama kemampuan membaca serta
sebagai alat bantu anak agar aktif dalam mengikuti proses pembelajaran di
kelas. Bentuk permaianan maze sendiri
secara garis besarnya yaitu anak mencari jejak tempat huruf baik vokal maupun
konsonan dari suku kata, dan mencari
kata yang sesuai dengan susunan yang dibawa oleh anak.
Dengan
penggunaan media permainan maze ini diharapkan akan meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak, dan membuat anak menjadi tertarik mengikuti
pembelajaran yang bersifat verbal, serta membuat pembelajaran yang menyenangkan
sehingga tujuan pendidikannya tercapai secara maksimal.
Berdasarkan
permasalahan yang ada dilatar belakang tersebut, peneliti mencoba mencari tahu
seberapa efektif penggunaan media permainan maze terhadap kemampuan membaca
permulaan anak tunarungu kelas 1 di SDLB Negeri Sugihwaras Bojonegoro.
B.
Indikasi
Masalah
1.
Anak
tunarungu yang mengalami masalah pendengaran menjadikan anak tidak mampu untuk
melakukan ekplorasi bunyi atau suara yang ada disekitarnya.
2.
Anak
tunarungu mengalami hamabatan dalam
perkembangan bahasa mereka, sehingga mereka mengalami kemiskinan kosakata.
3.
Anak
tunarungu dalam pembelajaran mengalami
masalah dalam hal-hal yang bersifat verbal.
4.
Anak
tunarungu mengalami masalah dalam pembelajaran bahasa indonesia. Terutama dalam
aspek membaca. Khususnya anak belum
mampu membaca kata sederhana .
5.
Media
pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran membaca masih konvensional. Dan
juga kurang menarik minat siswa.
6.
Siswa
mudah bosan ketika belajar hal yang bersifat verbal.
7.
Penggunaan
media permainan Maze belum pernah diterapkan dalam pembelajaran bahasa
indonesia, khususnya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak
tunarungu.
C.
Batasan
masalah
Berdasarkan
hasil identifikasi masalah diatas mengenai permasalahan tentang kemampuan
membaca permulaan anak tunarungu yang sangat kompleka, peneliti membatasi
masalah dalam penlitian ini hanya pada permasalahan nomor empat dan tujuh saja,
yaitu :
1. Anak
tunarungu mengalami masalah dalam pembelajaran bahasa indonesia. Terutama dalam
aspek membaca. Khususnya anak belum
mampu membaca kata sederhana. padahal membaca merupakan kegiatan terpenting
bagi anak tunarungu dalam memperoleh informasi yang berupa tulisan.
2. Penggunaan
media permainan Maze belum pernah diterapkan dalam pembelajaran bahasa
indonesia, khususnya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak
tunarungu.
D.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang dan batasan masalah diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “ Apakah penggunaan media permainan maze dapat memberikan
pengaruh terhadap kemampuan membaca permulaan anak tunarungu kelas 1 di ASDLB
Negeri Sugihwaras Kab, Bojonegoro ?”.
E.
Manfaat
Penelitian
1.
Manfaat
teoritis
Hasil
penelitian ini diharapkan mampu menambah khasanah ilmu pengetahuan di bidang
pendidikan khusus. Utamanya pada anak berkebutuhan khusus, khususnya anak
tunarungu dalam pembelajaran Bahasa Indonesia aspek membaca permulaan
menggunakan media Permainan Maze.
Memberikan sumbangan informasi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan
penerapan media Permainan Maze.
2.
Manfaat
Praktis
Hasil
penelitian ini memberikan manfaat kepada berbagai ihak seperti guru, siswa,
kepala sekolah, dan peneliti.
a.
Manfaat
praktis bagi guru yakni dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
kegiatan pembelajaran, terutama untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan
siswa tunarungu melalui penggunaan media permainan maze.
b.
Manfaat
praktis bagi siswa, yakni bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan membaca
permulaan mereka.
c.
Manfaat
praktis bagi kepala sekolah, yakni dapat meningkatkan mutu pendidikan di
sekolahnya. dan sebagai pertimbangan dalam memilih kebijakan proses
pembelajaran bagi anak berkbutuhan khusus, serta sebagai masukan menuju
kegiatan pembelajaran yang lebih baik dengan menggunakan media pembeljaran yang
sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik anak didik.
d.
Manfaat
praktis bagi peneliti yaitu sebagai penambah pengetahuan dan pengalaman
peniliti dalam bidang pendidikan luar biasa.
Dan sekaligus menambah bekal untuk profesinya kelak.
F.
Definisi
Operasional
1.
Media
permainan maze
Media
permainan maze merupakan media yang menggunakan permianan maze sebagai alat
untuk untuk mempermudah penyampaian pesan atau informasi pembelajaran, melalui
kegiatan mencari jejak-jejak dari bagian kata. Dengan kata lain dalam media ini
anak mencari jejak tempat huruf baik vokal maupun konsonan dari suku kata, dan mencari kata yang sesuai dengan
susunan yang dibawa oleh anak
2.
Kemampuan
membaca permulaan
Dalam
penelitian ini kemampuan membaca permulaan pada anak tunarungu adalah kemampuan
membaca dalam pembentukan ucapan maksimal anak tunarungu dalam mengenal
kombinasi hurf-huruf dan membacanya menjadi suku kata dan kata dengan pola KVKV
(konsonan-vokal-konsonan-vokal). Dalam penelitian ini kemampuan membaca
permulaan untuk bertujuan agar anak tunarungu mampu mengidentifikasi huruf,
membaca suku kata, dan membaca kata mengenai nama-nama bagain tubuh yang
terdiri dari dua suku kata dengan pola KVKV.
3.
Anak
tunarungu
Anak tunarungu
dalam penelitian ini adalah siswa yang mengalami hambatan pendengaran yang
duduk dibangku kelas 1 SDLB Sugihwaras
Kabupaten Bojonegoro. Didalam penelitian anak tuanrungu/ subyek penelitian
mengalami masalah dalam memproduksi suara atau membaca dan membentuk kata
dengan pola KVKV (konsonan-vokal-konsonan-vokal). Anak juga masih sering
menggunakan bahasa isyarat dalam membacadengan menyebutkan abjad menggunakan
isyarat jari.
G.
Asumsi
Penelitian
Menurut Winarno, S dalam
Arikunto (2010:104) menyatakan “anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak
pemikiran yang kebenarannya diterima
oleh penyelidik”. Adapun
anggapan dasar yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Untuk meningkatkan kemampuan membaca
permulaan anak tunarungu perlu adanya media pembelajaran yang sesuai dengan
kebutuhan, kemampuan dan karakteristik anak.
sehingga kegiatan pembelajaran akan menjadi lebih menarik, menyenangkan,
dan anakpun lebih mudah dalam menerima semua materi yang disampaikan oleh guru
ketika proses pembelajaran berlangsung.
2. Modifikasi permainan maze dapat digunakan
sebagai salah satu cara agar bisa digunakan sebagai media pembelajaran yang
sesuai dengan , kebutuhan, kemampuan, dan karakteristik anak. sehingga nantinya
bisa digunakan sebgai media untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak
tunarungu.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Kajian Tentang Anak Tunarungu
1.
Pengertian anak tunarungu
Suparno (2001:8)
mengumumkan tunarungu merupakan adanya ketidakmampuan seseorang dalam menerima
informasi melalui pendengaran, dari yang
mengalami ketidakmampuan taraf ringan hingga taraf yang sangat berat.
Sedangkan menurut mores
(Haryanto, 2012:117), tunarungu merupakan suatu kondisi dimana fungsi
pendengarannya tidak berjalan secara optimal dan ada dua kelompok. Pada
kelompok pertama, derajat ketunarunguan yang sudah sama sekali tidak mendengar
disebut tuli , yakni pada tingkat 70dB atau lebih baik tanpa
menggunakan alat bantu dengar. Sedangkn kelompok kedua, yakni derajat ketunarunguan
yang masih mempunyai sisa pendengaran yang biasa disebut kurang dengar. Dan
biasanya pada ketunarunguan kurang dengar ini lebih baik menggunakan alat bantu
dengar.
Menurut Murni Winarsih (2007: 23), menyatakan tunarungu adalah
seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik
sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan oleh tidak fungsinya sebagian atau
seluruh alat pendengaran, sehingga anak tersebut tidak dapat menggunakan alat
pendengarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan penjelasan
dari para ahli diatas, dapat ditegaskan bahwa anak tunarungu adalah anak yang
kehilangan kemampuan pendengarannya baik sebagian maupun seluruhnya, yang
diakibatkan oleh kerusakan maupun dari kelainan genetik.
1.
Karakteritik
anak tunarungu
Permaranian
Somad dan Tati Hernawati (1995:35-39) mendiskripsikan karakteristik
ketunarunguan dilihat dari segi: intelegensi, bahasadan bicara, emosi dan
sosial.
a.
Karaketristik
dari segi intelegensi
Intelegensi anak
tunarungu tidak berbeda dengan anak-anak apada umunya, yakni tinggi, rata-rata,
rendah. Pada umunya anak tunarungu mempunyai intelegensi yang normal atau
rata-rata. Prstasi anaktunarungu seringkali lebih rendah dari prestasi anak
normal karena pengaruh kemampuan anak tunarungu dalam mengerti pelajaran yang
diverbalkan. Namun, untuk pelajaran yang tidak diverbalkan anak tunarungu
memiliki perkembangan yang sama cepatnya dengan anak normal. Prestasi anak
tunarungu yang rendah dalam pembelajaran bukan disebabkan karena faktor
intelegensinya yang rendah melainkan karena anak tunarungu tidak dapat
memaksimalkan intelegensi yang dimiliki karena mengalami hambatan dalam
pendengarannya.
b.
Karakteristik
dari segi bahasa dan bicara
Kemampuan anak
tunarungu dalam berbahasa dan berbicara berbeda dengan anak normal pada umunya
karena kemampuan tersebut sangat erat kaitannya dengan kemampuan menengar.
Karena anak tunarungu tidak mampu untuk mendegar bahasa, maka anak tunarungu
mengalami hambatan dalam berkomunikasi. Bahasa merupakan alat dan sarana utama seseorang dalam berkomunikasi. Bahasa
merupakan alat dan sarana utama seseorang dalam berkomunikasi. Alat komunikasi
terdiri dan membaca, menulis dan berbicara, sehingga anak tunarungu akan
tertinggal dalam tiga aspek bahasa yang penting tersebut. Anak tunarungu
memerlukan penanganan khusus dan lingkungan berbahasa intensif yang dapat
meningkatkan kemampuan berbahasanya. Kemampuan berbicara anak tunarungu juga
dipengaruhi oleh kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh anak tunarungu.
Kemampuan berbicara pada anak tunarungu akan berkembang dengan sendirinya namun
memerlukan upaya terus menerus serta latihan dan bimbingan secara profesional.
c. Karakteristik dari segi emosi dan sosial
Ketunarunguan dapat menyebabkan
keterasingan dengan lingkungan. Keterasingan tersebut akan menimbulkan beberapa
efek negatif seperti: perasaan egosentrisme yang melebihi anak normal mempunyai
perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas, ketergantungan terhadap bantuan
orang lain, perhatian mereka lebih sukar dialihkan, umumnya memiliki sifat yang
polos dan terlihat tanpa banyak masalah, dan lebih mudah marah dan cepat
tersinggung.
Dapat ditegaskan lagi bahwa masalah
utama anak tunarungu yang disebabkan karena
adanya hambatan pendengaran yaitu tentang aspek berbahasa mereka. Aspek berbahasa anak tunarungu yang masih
rendah menyebakan beberapa pengaruh terhadap perkembangan aspek lainnya,
seperti intelegensi, sosial, emosi dll.
Kemampuan intelegeni anak tunarungu sama dengan anak-anak normal pada
umunya, mereka juga memiliki IQ rata-rata atau bahkan bisa lebih tinggi. Namun
karena keterbatasannya dalam berbahasa, sehingga menjadikan prestasi anak
tunarungu tertinggal atau bahkan lebih rendah dari anak lain yang mendengar.
Dalam pembelajarannya anak tunarungu lebih cenderung memanfaatkan indera
penglihatannya untuk berkomunikasi maupun dalam memperoleh informasi. Sehingga
mereka membutuhkan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mereka.
Seperti yang kita ketahui, anak tunarungu belajar melalui apa yang mereka
lihat, oleh karena itu media yang bersifat visual sangat dibutuhkan oleh anak
tunarungu. Media visual ini hendaknya juga dibuat semenarik mungkin agar anak
tunarungu tertarik dan tidak mudah bosan ketika mengikuti proses kegiatan
pembelajaran. Dengan anak tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran anak
akan memiliki minat untuk belajar dan menjadikanapa yang mereka pelajari dapat
diterima secara maksimal.
2. Klasifikasi anak tunarungu
Haenudin (2013:62:63) mentakan bahwa
ketunarungunan berdasarkan anatomi fisiologis dapatdikelompokkan menjadi tiga
jenis yaitu :
a. Tunarungu hantaran atau konduksi, yaitu hambatan dalam
indera pendengaran yang dikarenakan adanya gangguan atau tidak berfungsinya
bagian-bagian dari telinga yang berfungsisebagai penghantar getaran suara yang berada
di telinga bagian tengah .
b. Tunarungu syaraf atau sensorineural, yaitu hambatan dalam
indera pendengaran yang dikarenakan adanya gangguan atau tidak berfungsinya
bagian-bagian dari telinga pada bagian dalam syaraf pendengran yang berfungsi
untuk menyalurkan getaran ke pusat pendengran yang berfungsi untuk menyalurkan
getaran ke pusat pendengaran pada Lobus
Temporalis.
c. Tunarungu campuran, yaitu hambatan dalam indera pendengaran
yang dikarenakan adanya kerusakan pada bagian telinga yang berfungsi sebagai
penghantar suara dan karena adanya kerusakan pada syaraf-syaraf telinga.
Menurut Uden Dalam Murni Winarsih (2007:26-27) bahwa
klasifikasi ketunarunguan berdasarkan penguasaan bahasa dibagi menjadi dua
macam, yakni :
a. Tuli prabahasa
Tuli prabahasa merupakan ketulian yang
terjadi sebelum dikuasainya suatu bahasa (usia 1,6 tahun). Artinya anka
menyamakan tanda tertentu seperti mengamati, menunjuk, meraih, dan sebagainya,
namun anak belum mampu membentuk sistem lambang.
b. Tuli purna bahasa
Merupakan ketulian yang terjadi setelah
anak menguasai bahasa, dimana setelah anak menerapkan dan menguasai sistem
lambang yang berada di lingkungan kehidupannya.
Sedangkan menurt Mohammad Efendi (2009: 59-61) ketunarunguan
berdasarkan tinjauan dari kepentingan tujuan pendidikan, dapat di
klasifikasikan sebagai berikut :
a. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 20-30 dB (slight losses)
Ciri-ciri dari anak tunarungu pada
rentang tersebut ialah :
i.
Kemampuan mendengara anak masih baik
karena berada pada garis batas antara pendengaran normal dan kekurangan pendengaran
pada taraf ringan
ii. Tidak mengalami kesuliatan memahami
pembicaraan dan mampu mengikuti sekolah umum
iii.
Dapat berbicara secara efektif
iv. Melalui kemampuan pendengarnnya, perlu
diperhatikan kekayaan perbendaharaan bahasanya supaya perkembangan bahasa tidak
terlambat
v.
Disarankan menggunakan alat bantu.
b. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 30-40 dB (Mild Losses)
Ciri-ciri dari anak tunarungu pada
rentang tersebut ialah :
i.
Dapat mengerti percakapan biasa pada
jarak sangat dekat,
ii.
Tidak mengalami ksuliatan dalam
mengekspresikan isi hatinya,
iii.
Tidak dapat menagkap suatu percakapan
yang lemah,
iv. Kesulitan menangkap isi pembicaraan
dari lawan bicaranya apabila berada pada posisi tidak searah dengan
pandanganya, perlu mendapat bimbingan yang baik dan intensif untuk menghindari
kesulitan bicara,
v. Ada kemungkinan dapat mengikuti sekolah
umum namun pada kelas permulaan sebaiknya dimasukkan ke sekolah khusus,
vi. Dan disarankan menggunakan alat bantu
dengar untuk menambah ketajaman daya pendengarannya.
c. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran pada rentang
antara 40-60 dB (Moderate Losses)
Ciri-ciri dari anak tunarungu pada
rentang tersebut ialah :
i.
Anak dapat mengerti percakapan keras
pada jarak kurang lebih satu meter,
ii.
Sering tidak mengerti terhadap lawan bicaranya.
iii.
Mengalami kelainan bicara terutama
dalam pengucapan huruf konsonan
iv. Kesulitan
menggunakan bahasa dengan benar dalam percakapan,
v.
Perbendaharaan
kosa katanya sangat terbatas
Berdasarkan teori diatas, dapat ditegaskan lagi bahwa
pengklasifikasi anak tunarungu dapat dilakukan berdasarkan aspek yang ingin
diamatinya. Seperti klasifikasi berdasarkan anatomi fisiologis, penguasaan
bahasa, dan tukuan pendidikannya. Jika dikaitkan dengan ciri-ciri dari subyek
penelitian, maka subyek penelitian termasuk dalam kategir sebagai tunarungu
ringan yang kehilangan kemampuan pendengarannya antara 40-60 dB (moderate losses). Kesesuaian antara
ciri-ciri dari subyek penelitian dengan teori yang ada, yaitu seperti subyek
mampu memahami percakapan keras pada jarak yang dekat, subjek sering terjadi
kesalaahn dalam mempersepsi apa yang dibicarakan lawan bicaranya. Subyek mengalami
masalah dalam berbicara, terutama pada huruf konsonan. Subjek mengalami
kesulitan dalam menggunakan bahasa dengan benar dalam percakapan,
perbendaharaan kata dari subyek penelitian juga sangat terbatas, namun subyek
penelitian masih mampu membedakan ada atau tidaknya bunyi, hal tersebut dapat
terlihat ketika proses pembelajaran BKPBI. Karena saat proses pembelajakran
BKPBI subyek mampu mengerti ada atau tidaknya bunyi.
Berdasarkan hal tersebut, agar tujuan pendidikan untuk anak
tunarungu dapat terapai secara optimal. Maka subyek penelitian membutuhkan pendidikan
secara khusus dan membutuhkan metode serta media yang khusus pula. Untuk itu
media permainan maze ini dipilih dan dipergunakan dalam pembelajaran bahasa
indonesia khususnya pada aspek membaca permulaan untuk anak tunarungu kelas 1
ini.
B.
Kajian Mengenai Pembelajaran Membaca Permulaan
1.
Pengertian
pembelajaran membaca permulaan
Iskandar
wassid dan Dadang sunendar (2009:246) mengartikan bahwa membaca merupakan
kegiatan untuk mendaptkan makna dari apa yang tertulis didalam teks, sedangkan
menurut sattler dalam Amitya Kumara (20014:4) membaca
merupakan suatu proses yang kompleks, yang meilbatkan berbagai macam fungsi
kognitif, yaitu perhatian, konsentrasi, kemampuan membuat asosiasi terhadap
informsi yang diperoleh melalui berbagai modalitas, kemampuan melakukan
decoding secara cepat, pemahaman verbal, dan intelegensi umum. Menurut uraian
teori dari para ahli, dapat ditegaskan bahwa membaca adalah suatu kegiatan yang
didalamanya ada proses memahami sesuatu makna melalui tulisan didalam teks. Sehingga melalui
pemahaman makna tersebut pembaca diharapkan akan mendapat informasi dari apa
yang dia baca.
Pembelajran
membaca disekolah memiliki peran yang sangat penting, Sabartin Akhadiah (1993:29)
menjelaskan bahwa pembelajran membaca memiliki peranan penting, karena melalui
pembelajaran membaca guru dapat memilihi wacana-wacana yang memudahkan
penanaman nilai-nilai moral, kemampuan bernalar dan kreativitas anak didik.
Pendapat
diatas juga sejalan dengan apa yng dikemukakan oleh Depdikbud (1996:6) bahwa
pembelajran membaca permulan diberikan dikelas I dan II SD. Tujuannya ialaha
agar siswa terampil membaca bekal dan dapat dijadikan sebagai bekal pengethauan
dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi pelajaran bahasa indonesia
dan juga pelajaran dikelas berikutnya yaitu pada kelas I, II. Dan III.
Pembelajaran
membaca dikelas I dan II merupakan tahap awal atau pondasi seorang anak belajar
membaca. Oleh karena itu sangatlah penting bagi anak agar kemampuan membaca
mereka dilakukan upaya peningkatan keterampilan membaca permulaan dan membaca
lanjut. Supriyadi (1992:115) menjelaskan bahwa di kelas I dan II pokok bahasan
membaca permulaan, sedangkan sejak kelas III-VI mengembangkan pokok bahasan
membaca pemahaman bebagai macam wacana, seperti narasi, deskripsi, eksposisi,
dan argumentasi. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat dari I G. A. K. Wardani
(1995:55) membaca menulis permulaan merupakan bagian terpenting dari pelajaran
bahasa indonesia di kelas dasar, bahkan dapat dikatakan sebagai pelajaran
paling dominan. Untuk dapat membaca permulaan, seseorang dituntut agar mampu :
a.
Mengidentifikasi
bentuk huruf
b.
Menyuarakan
bunyi huruf dan kata dengan benar,
c.
Menggerakkan
mata dengan cepat ari kiri kekakan sesuaidengan kata atau kalimat yang sedang
dibaca,
d.
Mengucapkan
tulisan yang sedang dibaca dengna benar,
e.
Mengetahui
arti tanda baca, serta mampu mengatur tinggi rendahnya suara sesuai dengan
bunyi yang dibaca, makna kata yang diucapkan, serta tanda baca.
Berdasarkan teori diatas dapat ditegaskan lagi bahwa kegiatan
membaca permulaan yaitu kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terdapat
kegiatan pengenalan dan pemahaman tulisan berupa kata maupun kalimat sederhana
yang kemudian diucapkan oleh peserta didik sehingga peserta didik diharapakn
selain bisa membaca juga bisa memahami makna kaa atau kalimat sederhana
tersebut.
2.
Tujuan Membaca Permulaan
Menurut Dedpdikbud (1996:5-6) secara rinci tujuan pengajaran membaca dan
menulis di SD adalah sebagai berikut :
a.
Meningkatkan kemampuan anak untuk memahami dan
melaksanakan cara memebaca dan menulis dengan baik dan benar.
b.
Melatih dan mengembangkan kemampuan anak untuk
mengenal dan menuliskan huruf-huruf (abjad) sebagai tanda bunyi atau suara.
c.
Melatih dan mengembangkan kemampuan anak supaya
terampil mengubah tulisan menjadi suara dan terampil menuliskan bunyi atau
suara yang didengarnya.
d. Mengenalkan
dan melatih anak supaya mampu membaca dan menulis sesuia dengan teknik-teknik
tertentu.
e.
Melatih keterampilan anak untuk memahami kata-kata
yang dibaca atau ditulis dan mengingat artinya dengan baik.
f.
Melatih keterampilan anak agar mampu untuk
menetapkan arti tertentu dari sebuah akata dalam konteks kalimat.
g.
Memupuk dan mengembangkan kemampuan anak untuk
memahami, menuliskan, menggunakan dan menikmati keindahan cerita bahasa
indonesia yang sederhana.
h.
Mengunkapkan ide atau pesan sederhana secara lisan
maupun tulisan
Tujuan utama dari
membaca permulaan menurut I G. A. K. Wardani (1995:56) adalah agar anak
dapat mengenal tulisan sebagi lambang atau simbol bahasa, sehingga anak dapat
menyuarakan tulisan tersebut
Sedangkan menurt Heru santosa (melalui saleh Abbas 2006 :
103) tujuan pembeljaran membaca permulaan yaitu
a.
Pembinana dasar mekanisme membaca
b.
Mampu memhami dan menyuarakan kalimat
sedrhana yang ditulis dengan intonasi yang wajar, dan
c.
Anak mampu membaca kata-kata dan
kalimat sederhana dengan lancar dan tepatdalam waktu yang relatif singkat.
Berdasarkan teori-teori diatas dapat ditegaskan lagi bahwa
tujuan dari membaca permulaan yaitu untuk pembinaan dasar mekanisme membaca
seperti pengenalan huruf, belajara melafalkan huruf dalam kata, dan dapat
membaca kata-kata dengan lafal yang tepat.
Setelah anak bisa mengusai dasar-dasar mekanisme membaca diharapkan anak
mampu mengungkapkan ide atau pesan sederhana secara lisan maupun tulisan.
C. Kajian mengenai Media Pembelajaran
1. Pengertian media pembelajaran
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai
(2005-2) media pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau
informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud
pengajaran, media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk
menyampaikan isi materi pengajaran seperti buku, tape recorder, film, slide,
gambar, foto, grafik dll.
Beradasarkan teori diatas, dapat
ditegaskan lagi bahwa media pembelajaran memiliki peran yang penting dalam
proses penyampaian informasi atau pesan dari guru ke peserta didik. Sehingga guru perlu menggunakan media
pembelajaran, termasuk pada kegiatan pembelajaran bahasa indonesia aspek
membaca permulaan. Media yang menarik
tentunya akan membuat siswa merasa senang mengikuti pembelajaran dan
siswa juga akan lebih mudah menangkap apa yang diajarkan oleh gurunya.
Pemilihan media juga harus diperhatikan, yakni harus sesuai dengan kebutuhan
dan karakteristik dari peserta didik.
2. Jenis-jenis media pembelajaran membaca permulaan
Menurut Tadkiroatun Musfiroh
(2008:26-27) media yang dapat dgunakan sebagai media pembelajaran membaca
permulaan adalah sebagai berikut :
a. Media untuk cerita atau buku cerita bergambar.
Buku cerita bergamabar merupakan media
yang disenangi anak-anak karena terdapat gambar-gambar dalam menyampaikan pesan
atau informasi. Sehingga melalui media buku cerita bergambar ini anak akan
lebih mudah dalam belajar membaca permulaan.
b. Media imitasi anak berupa label benda
c. Media imitasi anak berupa label benda seperti merk (merk
baju) , label nama (label anam makananan), dll.
d. Media untuk latihan kesadaran fonemik
Meliputi media , Sound matching atau huruf
lepas untuk bermain tukar huruf, sound
blending atau mencampur huruf. Sound
addition & subtitution atau
menambah huruf atau mengganti huruf, sound
segmentation atau mensegmentasikan kata ke dalam suku kata dan suku kata
dalam bunyi.
e. Media untuk elaborasi dan permianan
Seperti huruf lepas tiga dimensi, kotak
huruf pasang-lepas, kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata.
f.
Media untuk imersi pajanan
Seperti media untuk jadwal, nama anak,
nama hari, nama bulan, dll.
Berdasarkan teori-teori diatas, dapat
doitegaskan lagi bahwa begitu banyak macam media yang bisa digunakan dalam
melatih kemampuan memabaca permulaan anak. namun dalam penelitian ini peneliti
memilih media permainan karena dianggap media permainan akan lebih menarik
minat siswa untuk mengikuti kegiaytan pembelajaran. Dan media permainan yang
dimaksud yaitu media permainan maze.
D. Kajian Mengenai Media Permainan Maze
1. Media pembelajaran
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai
(2005-2) media pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau
informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud
pengajaran, media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk
menyampaikan isi materi pengajaran seperti buku, tape recorder, film, slide,
gambar, foto, grafik dll.
Berdasarkan pernyataan tersebut, Guru
perlu menggunakan media pembelajaran untuk menunjang pembelajaran membaca
permulaan. Media pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan karakteristik anak
akan memudahkan anak dalam menangkap apa yang diajarkan oleh guru.
2. Permainan maze
Tedja saputra (2001:60) mengemukakan
bahwa, permianan adalah kegiatan yang ditndai oleh aturan serta
persyaratan-persyaratan yang disetujui bersama dan dibentuk dari luar untuk
melakukan kegiatan dalam tindakan yang bertujuan. Lebih lanjut hidayati
(2009:35) mengemukakan bahwa permainan adalah kebahagiaan bagi anak-anak untuk
mengekspresikan berbagai perasaannya serta
belajar bersosialisasi dan beradaptasi.
Hasil kajian penelitian terdahulu
jamil, (2009 : 95 ) menyatakan bahwa, permaianan maze adalah permainan mencari
jejak yang dapat meningkatkan seluruh aspek perkembangan anak usia dini, baik
perkembangan motrik, kognitif, bahasa, sosial dan emosi, serta kreativitas
anak.
Media permainan maze merupakan media
yang menggunakan permianan maze sebagai alat untuk untuk mempermudah
penyampaian pesan atau informasi pembelajaran, melalui kegiatan mencari
jejak-jejak dari bagian kata. Dengan kata lain dalam media ini anak mencari
jejak tempat huruf baik vokal maupun konsonan dari suku kata, dan mencari kata yang sesuai
dengan susunan yang dibawa oleh anak.
E.
Membaca Permulaan Anak Tunarungu Dengan
Media Permainan Maze
Media permainan maze merupakan media
yang menggunakan permianan maze sebagai alat untuk untuk mempermudah
penyampaian pesan atau informasi pembelajaran, melalui kegiatan mencari
jejak-jejak dari bagian kata. Dengan kata lain dalam media ini anak mencari
jejak tempat huruf baik vokal maupun konsonan dari suku kata, dan mencari kata yang sesuai
dengan susunan yang dibawa oleh anak.
Berikut langkah pengimplementasiannya :
1.
Guru mengkondisikan anak untuk siap
memulai kegiatan pembelajaran didalam kelas.
2. Guru memotivasi anak dengan diajak
menyanyikan lagu “ disini senang disana senang”
3. Guru menyebutkan nama huruf konsonan
dan vokal sambil menujukkan lambangnya pada kartu huruf.
4.
Anak menyebutkan nama huruf yang ditunjuk oleh guru.
5. Guru menunjukkan dan membaca lambang huruf vokal dan konsonan
pada kartu huruf.
6. Anak menunjukkan dan membaca lambang
huruf vokal dan konsonan pada kartu huruf
7.
Guru menyebutkan warna dan huruf pada
kartu huruf
8.
Anak menyebutkan warna dan huru pada
kartu huru
9.
Guru menunjukkan media permainan maze
10. Anak menyebutkan warna dan huruf pada kartu huruf.
11. Guru memperkenalakna media permainan maze.
12. Guru memberikan penjelasan singkat mengenai permainan maze
13. Guru menjelaskan cara permainan maze.
14. Guru mempraktekkan contoh tata cara media permainan maze.
15. Secar individual anak mempraktekan permainan maze
16. Guru menempelkan kartu huruf vokal diujung-ujung bagian alur
(jalan) pada media permainan maze.
17. Anak mencari jejak lewat alur (jalan) pada maze menuju huruf
yang disebutkan guru.
18. Setelah anak mampu anak disuruh membaca ulang kata yang
disebutkan kemudia diminta menirukan tulisan tersebut dipapan tulis.
F. Hasil Penelitian Yang Relevan
Bima Cahya Heriantoko (2013) dengan
judul peningkatan kemampuan membaca permulaan dengan menggunakan media
permaianan maze pada anak tunagrhita ringan kelas II di SLB/C TPA Jember.
G. Kerangka Berfikir
Anak tunarungu yang berada di kelas I
SDLB Negeri Sugihwaras Bojonegoro dalam pembelajaran membaca permulaan masih
menggunakan media yang konvensional. Media yang digunakan masih dengan papan
tulis dan buku paket dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Terkadang guru
menggunakan media gambar untuk mengajarkan membaca, namun guru kelas belum
memanfaatkan media yang lain yang lebih efektif dalam pembelajaran membaca
permulaan bagi anak tunarungu. Selain itu siswa tunarungu di kelas I SDLB
Negeri Sugihwaras Bojonegoro juga mudah merasa bosan ketika harus belajarn
materi yang bersifat verbal. Hal ini disebabkan karena kurangnya ketertarika
siswa terhadap proses pemblejaran tersebut.
Anak tunarungu adalah seseorang yang
mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau
seluruhnya yang diakibatkan oleh tidak fungsinya sebagian atau seluruh alat
pendengaran, sehingga anak tersebut tidak dapat menggunakan alat pendengarannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Ketidak mampuan anak tunarungu dalam memperoleh
informasi melalui indera pendengaran nya sangat berpengaruh dalam bebrapa aspek
perkembangannya. Aspek perkembangan anak tunarungu yang paling menonjol yang
mengalami masalah atau hamabatan adalah dalam aspek bahasa. Ketidak mampuan
anak tunarungu dalam mendengar menjadikan anak tidak mampu untuk melakukan
eksplorasi bunyi atau suara yang ada di lingkungannya. Akibat kesulitan
menerima rangsangan bunyi atau suara tersebut anak tunarungu juga akan
mengalami kesulitan dalam memproduksi suara atau bunyi bahasa yang ada di
lingkungannya. Didalam kemampuan
berbahasa, juga dikenal istilah keterampilan berbahasa, keteramipilan berbahasa
ini yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Membaca merupakan sesuatu yang sangat
penting di dalam kehidupan manusia. Membaca juga merupakan dasar pemerolehan
pengetahuan bagi siswa. Tujuan dari membaca permulaan adalah agar anak memiliki
kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan. Anak yang tidak mampu membaca
dengan baik akan memperoleh kesulitan dalam semua mata pelajaran yang lainnya.
Membaca permulaan merupakan kemampuan membaca yang akan menentukan dalam
membaca pemahaman di kelas selanjutnya.
Berdasarkan hasil observasi dilapangan
, bahwa di kelas 1 SDLB Negeri sugihwaras Kabupaten bojonegoro, pembelajaran
untuk anak tunarungunya masih menggunakan media pembelajaran yang konvensional,
terutama pada pembelajaran membaca permulaan. Karena menggunakan media yang
masih konvensional ini menyebabkan anak tunarungu di kelas I SDLB Negeri Sugihwaras Bojonegoro
juga mudah merasa bosan ketika harus belajar materi yang bersifat verbal,
seperti kegiatan membaca permulaan. Berangkat dari masalah diatas tentunya
tingkat ketetarikan dalam mengikuti proses kegiatan pembelajaran akan
mempengaruhi tingkat pemahaman mereka. Banyak guru yang masih menggunakan media berbentuk gambar
biasa dalam mengajarkan pembelajaran membaca.
Berangkat dari permasalahan-tersebut
tersebut, diketahui bahwa belum tercapainya indikator-indikator mata pelajaran
bahasa indonesia pada aspek kegiatan membaca permulaan anak tunarungu yang disebabkan oleh penggunaan media yang
masih konvensional membuat tingkat ketertarikan anak tunarungu dalam belajar
membaca permulan sangat kurang dan tentunya hal ini akan mempengaruhi tingkan
kemampuan membaca mereka. Sehingga penggunaan media lain yang lebih efektif
lagi sangat diperlukan, mengingat media pembelajaran mempunyai peranan yang
sangatlah penting bagi proses kegiatan pembalajaran anak tunarungu, terutama
untuk mempermudah penyampaian pesanatau informasi.
Melihat kondisi yang seperti ini,
peneliti mencari pemecahan masalah agar anak tunarungu dapat membaca permulaan
dengan menggunakan media permainan maze. Media permainan maze merupakan media
yang menggunakan permianan maze sebagai alat untuk untuk mempermudah
penyampaian pesan atau informasi pembelajaran, melalui kegiatan mencari
jejak-jejak dari bagian kata. Dengan kata lain dalam media ini anak mencari
jejak tempat huruf baik vokal maupun konsonan dari suku kata, dan mencari kata yang sesuai
dengan susunan yang dibawa oleh anak. Peneliti dalam penelitian ini
mengasumsikan bahwa permainan maze dapat digunakan sebagai salah satu solusi
media pembelajaran yang bisa digunakan untuk meingkatkan kemampuan membaca
permulaan anak tunarungu.
Kerangka pikir ini dapat digambarkan
dengan bagan sebagai berikut :
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan
dan Jenis Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif karena pengumpulan
data menggunakan instrument penelitian, analisi data bersifat kuantitatif
berupa angka matematis dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang diterapkan.
Seperti yang dikemukakan Sugiyono (2012:14) menjelaskan bahwa metode penelitian
kuantitatif dapat sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat
positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu,
pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat
kuantitatif/ statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan.
Dalam
penelitian ini menggunakan jenis penelitian pre eksperimen. Menurut sugiyono
(2012:109), dalam jenis pre eksperimen ini masih terdapat variabel luar yang
ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Jadi hasil eksperimen
yang merupakan variabel dependen itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh
variabel independen.
B. Rancangan
penelitian
Pada
penelitian ini rancanagn yang digunakan adalah “one group pretest – post test
design” yaitu sebuah eksperimen yang dilaksanakan pada kelompok tanpa adanya
kelompok kontrol atau pembanding (Sugiyo,2010:110). Penelitian ini menggunakan
rancanagn melalui observasi sebelum pemberian perlakuan (O1) dan observasi
setelah pemberian perlakuan (O2) sehingga dapat dilakukan perbandingan antara
O1 dan O2 untuk mengetahui efektifitas perlakuan X . rancangan ini dapat
digambarkan sebagai berikut :
(Arikunto,2010:124)
Keterangan
:
O1 = Hasil pre-test
X = Treatment atau
perlakuan
O2 = Hasil post-test
C. Variabel
Penelitian
a. Variabel
bebas
Variable
dalam penilitian ini adalah “media permainan maze sebagi media
pembelajaran membaca permulaan”.
b. Variable
terikat
Variable terikat dalam penilitian ini adalah
“ hasil peningkatan maka media
perminan maze efektif digunakan kan untuk meningkatkan kemampuan
membaca permulaan anak tunarungu kelas 1 SDLB.
”.
D. Lokasi,
dan Subyek Penelitian
Penelitian
ini akan dilaksanakan di SDLB Negeri Sugihwaras Kab. Bojonegoro. Alasan yang
mendasari pemilihan lokasi penelitian disekolah ini karena anak tunarung di
SDLB Negeri Sugihwaras Kab. Bojonegoro mengalami masalah dalam pembelajaran
membaca permulaannya. Dan sebagai subyek penelitian yaitu siswa tunagrhita
sedang kelas 1 dengan jumlah 6 orang.
E. Teknik
Pengumpulan Data
Agar
diperoleh suatu data maka perlu bagi peneliti untuk menggunakan suatu metode
yang tepat serta mengumpulkan data-data yang berkaitan erat dengan penelitian,
teknik pengumpulan data yang akan digunkan yaitu :Teknik pengumpulan data yang
dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan :
1. Tes
Metode tes adalah serentetan pertanyaan atau
latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur kemampuan, pengetahuan
intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimilikiindividu atau kelompok. Dalam
penelitian ini menggunakan tes perbuatan. Tes perbuatan adalah suatu tesyang
dibutuhkan jawaban dengan perbutan secara langsung maupun tidak langsung dari
tingkah laku atau perbuatan (Arikunto,2006:127). Tes perbuatan yang digunakan
ada dua yakni pre test untuk mengetahui
kemampuan membaca permulaan anak tunarungu kelas 1 nsebelum diterapkannya
intervensi. Kemudian post test untuk
mengetahui pengaruh media permaianan maze
terhadap kemampuan membaca permulaan anak tunarungu kelas 1.
2. Observasi
Adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan
cara mengadakan pengamatan langsung dengan teliti dan secara sistematis (
Arikunto,1997:27).
Pada penelitian ini, tujuan peneliti
menggunakan metode observasi yaitu untuk mengumpulkan data tentang penerapan
kegiatan media permainan maze terhadap kemampuan
membaca permulaan anak tunarungu kelas 1 sehingga akan diperoleh hasil yang
diharapkan.
F. Teknik
Analisis Data
Kegiatan
penelitian ini menggunakan metoda uji tanda yang ada dalam metoda statistika
non paramterik.yaitu pengujian statistik yang dilakukan karena salah satu
asumsi normalitas tak dapat dipenuhi. Hal ini diakibatkan oleh jumlah sampel
yang dieteliti lebih kecil dari 30 yaitu n=6 disebut sampel kecil. Selain itu
statistik non parametrik juga digunakan untuk menganalisa data yang berskala
nominal dan ordinal. Maka rumus yang digunakan untuk menganalisis adalah
satistik “uji peringkat bertanda” (wilconxon dalam saleh 1996:34)
Z
= T - µt
Ơt
Keterangan :
Z :
Nilai hasil pengujian satistik uji peringkat bertanda
T :
Jumlah jenjang terkecil
X :
Hasil pengamatan langsung yakni jumlah tanda plus (+) – p (0,5)
µt :
Mean (nilai rata-rata) = n (n +
1)
` 4
Ơt :
Simpangan baku n(n+1)(2n+1)
245
n :jumlah sampel
p : probabilitas untuk memperoleh tanda (+) dan (-) = 0,5, karena
nilai
krisis 5%
G. Cara
Penafsiran
Za ditemukan dari hasil
perhitungan data ( O1 X O2 ), dan dalam perhitungannya ;
Jika Ztab > Zhit , maka Ho
(hipotesis nihil) diterima
sedangkan Ha ( hipotesis akhir ) ditolak.
Jika Ztab <
Zhit , maka Ho (hipotesis nihil) ditolak sedangkan Ha ( hipotesis
akhir ) diterima.
H. Penyimpulan
Hasil
Jadi dapat disimpulkan bahwa ;
Jika Ha ( hipotesis akhir
) diterima, maka media perminan maze memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan
membaca permulaan anak tunarungu kelas 1 SDLB.
Sedangkan, Jika Ho ( hipotesis nihil ) diterima, maka media perminan maze tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan membaca permulaan anak tunarungu kelas 1 SDLB.
Daftar Pustaka
Ahmad
Thoha Muslim, dkk. 1995. Orthope didalam PLB, Jakarta: Depdikbud
Amtya
Kumara, dkk. (2014). Kesulitan Berbahasa
Pada Anak. Yogyakarta:PT. Kanisus.
Arikunto,
S. 2002. Prosedur PenelitianSuatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Abdurrahman,
M.2003. Pendidikan Bagi Anak Berkebsulitan Belajar, Jakarta:PT. Rineka Cipta.
Dariyati
Zuchdi, Budiasih.1997. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah,
Jakarta:Dirjen Dikti Depdikbud.
Depdikbud.1995/1996.
Petunjuk Pengajaran Membacadan Menulis Kelas I dan II di Sekolah Dasar, Jakarta
: Dirjen Dikti Depdikbud.
Dina
Indriana.2011.Rgam Alat Bantu Media Pengajaran, Yogyakarta:Diva Press.
F Ana - 2016 - eprints.uny.ac.id
Heriantoko,
Bima Cahya.2013. Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Dengan Menggunakan
Media Pemainan Maze Pada Anak Tunagrahita Ringan Kelas II di SLB/C TPA
JEMBER,Surabaya:Universitas Negeri Surabaya.
Kasihani
K.E. Suyanto. 2007. English For Young Leraners.Jakarta:PT Bumi Aksara.
L SUSTIARI - 2014 - digilib.uin-suka.ac.id
Permanarian,
Somad & Tati Herawati.1995. Ortopedagogik Anak Tunarungu. Dikti :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sevilla
et Ali. 1993. Pengantar Metodelogi Penelitian, jakarta.Depdikbud
Soemantri,S.1996.Psikologi
Anak Lura Biasa, Jakarta:Depdikbud
Tampubolon,
DP. 1990.Kemampuan Membaca, Teknik Membaca Efektif dan Efisien:Bandung Angkasa
Solehuddin.2007.Bermain Sebagai Sarana
Perkembangan dan Belajar Anak.Jakarta:UniversitasTerbuka.



No comments:
Post a Comment