Monday, December 12, 2016

 MAKALAH TENTANG ANAK TUNARUNGU


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Cacat tubuh merupakan suatu keterbatasan yang sangat mengganggu seperti cacat kaki (lumpuh) dan tangan, cacat mata, bisu dan tuli, dan kelainan anggota tubuh yang lain. Hal ini tentu saja menimbulkan respon negative baik dalam diri penderita maupun terhadap dan dari orang lain. Respon ini seolah menciptakan 2 (dua) dunia yang berbeda; yaitu dunia orang ‘normal’ dan dunia ‘cacat’. Tentu saja batasan-batasan yang ada menghasilkan jarak yang cukup jauh untuk terciptanya sebuah hubungan yang harmonis antara keduanya. Seolah dunia orang cacat menempati wadah yang kumuh, kotor dan sudah rusak dan dunia normal menempati tampat yang lebih ‘layak’, bersih, dan terjamin segala-galanya.
Pengucilan ini merupakan respon negatif dari sebagian orang ‘normal’. Namun sebenarnya apakah ada manusia yang bisa dikatakan ‘normal’ Tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang normal. Sebab manusia adalah makhluk yang tidak sempuma, tidak ada sesuatu pun yang sempurna di mata Tuhan kecuali Tuhan sendiri. Hanya saja sebagian manusia menganggap dirinya normal karena memiliki kelebihan pada dirinya yang bisa dilihat dari luar dengan mata telanjang.
Kaum cacat khsususnya anak-anak masih tetap manusia, hanya saja mereka memiliki keterbatasan yang tingkatannya lebih besar dari sebagian orang yang merasa dirinya normal. Akan tetapi bukan berarti mereka tidak mampu lagi untuk tumbuh dan mendapat predikat sebagai ‘orang normal’, bukan berarti tidak mampu lagi untuk tampil di depan podium menampilkan bakat alami dan seni yang dimilikinya.
Kecacatan tubuh sejak lahir bagi sebagian anak-anak bisa dibilang merupakan suatu hal yang biasa dan wajar, sebab mereka tentunya belum pernah merasakan perbedaan antara tubuh yang ‘lengkap’ dengan yang ‘tidak lengkap’. Mereka akan beranggapan bahwa seperti itulah tubuh mereka dan akan sama dengan teman-teman ‘normal’ mereka. Beda halnya dengan anak yang terlahir normal dan mengalami kecelakaan sehingga menjadi cacat. Anak ini akan benar- benar menyadari bahwa ada yang kurang dari diri mereka setelah tertimpa musibah.
Masyarakat sering beranggapan bahwa apabila seseorang tidak mereaksi terhadap pangilan atau tidak mendengar suara tertentu, maka orang tersebut dinyatakan sebagai tuli. Dalam keadaan sehari-hari, kita juga sering mendengar sebutan terhadap individu yang mengalami ganguan pendengaran dengan istilah-istilah : tunawicara, tuli bisu, cacat dengar, dan yang terakhir, dengan sebutan tunarungu. Pada hakekatnya penyebutan istilah-istilah tersebut tertuju pada salah satu objek belaka, yakni individu yang mengalami ganguan atau hambatan pendengaran.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang kami ajukan adalaah sebagai berikut:
1.         Apakah pengertian anak tunarungu?
2.         Apa saja yang menjadi penyebab ketunarunguan?
3.         Bagaimana klasifikasi ketunarunguan?
4.         Bagaimana Karakteristik Anak Tunarungu?
5.         Apa saja Prinsip Pembelajaran Umum dan Khusus pada Anak Tunarungu?
6.         Bagaimana Pembelajaran Bagi Anak Tunarungu?
C.      Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang kami ajukan di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.         Untuk mengetahui Pengertian Anak Tunarungu
2.         Untuk mengetahui penyebab ketunarunguan
3.         Untuk mengetahui klasifikasi Ketunarunguan
4.         Untuk mengetahui karakteristik anak tunarungu
5.     Untuk mengetahui prinsip pembelajaran umum dan khusus pada anak tunarungu.
6.         Untuk mengetahui pembelajaran bagi anak tunarungu













BAB II
PEMBAHASAN

    I.        Studi Kasus

Pada pertengahan 1801, Beethoven menyadari bahwa daya pendengarannya mulai berkurang akibat otoslerosis. Sebuah surat yang ditemukan di sebuah rumah Beethoven di Heiligenstadt dekat Wina yang dikenal sebagai ‘Warisan Heiligenstadt’ berisikan betapa sedihnya Beethoven karena penyakit yang dialaminya. Kesedihannya memang wajar karena pada saat itu Beethoven sedang dalam puncak kariernya. Karena penyakit ini, Beethoven menjadi depresi dan dia menjadi semakin minder dalam pergaulan sosial. Salah satu alasan lain depresinya Beethoven adalah karena ia tak berhasil mendapatkan ‘teman hidup’. Banyak wanita bangsawan yang sering dicintainya namun umumnya cintanya bertepuk sebelah tangan.
      Pada tahun 1802, Beethoven keluar dari kemuramannya. Dia melanjutkan membuat komposisi. Pada tahun 1803 dia mementaskan Piano Concerto in Eb Major, Op. 37 dan tampil sebagai solois. Pada tahun yang sama Beethoven juga memainkan Violin Sonata Op. 47 miliknya dengan violinis virtuoso George Polgreen Bridgetower (1799-1860) dan mempersembahkan karya tersebut kepada Rudolph Kreutzer.

 II.        Pengertian Tunarungu

            Secara umum anak tunarungu dapat diartikan anak yang tidak dapat mendengar. Tidak dapat mendengar tersebut dapat dimungkinkan kurang dengar atau tidak mendengar sama sekali. Secara fisik, anak tunarungu tidak berbeda dengan anak dengar pada umumnya, sebab orang akan mengetahui bahwa anak menyandang ketunarunguan pada saat berbicara, anak tersebut berbicara tanpa suara atau dengan suara yang kurang atau tidak jelas artikulasinya, atau bahkan tidak berbicara sama sekali, anak tersebut hanya berisyarat. Agar dapat diperoleh pengertian yang lebih jelas tentang anak tunarungu, berikut ini dikemukakan definisi anak tunarungu oleh beberapa ahli.

            Murni Winarsih (2007: 23), menyatakan tunarungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan oleh tidak fungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga anak tersebut tidak dapat menggunakan alat pendengarannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut berdampak terhadap kehidupannya secara kompleks terutama pada kemampuan berbahasa sebagai alat komunikasi yang sangat penting. Gangguan mendengar yang dialami anak tunarungu menyebabkan terhambatnya perkembangan bahasa anak, karena perkembangan tersebut, sangat penting untuk berkomunikasi dengan orang lain. Berkomunikasi dengan orang lain membutuhkan bahasa dengan artikulasi atau ucapan yang jelas sehingga pesan yang akan disampaikan dapat tersapaikan dengan baik dan mempunyai satu makna, sehingga tidak ada salah tafsir makna yang dikomunikasikan.
           
            Sedangkan Iwin Suwarman (Edja Sadjaah. 2005: 75), pakar bidang medik, memiliki pandangan yang sama bahwa anak tunarungu dikategorikan menjadi dua kelompok. Pertama Hard of hearing adalah seseorang yang masih memiliki sisa pendengaran sedemikian rupa sehingga masih cukup untuk digunakan sebagai alat penangkap proses mendengar sebagai bekal primer penguasaan kemahiran bahasa dan komunikasi dengan yang lain baik dengan maupun tanpa mengguanakan alat bantu dengar. Kedua The Deaf adalah seseorang yang tidak memiliki indera dengar sedemikian rendah sehingga tidak mampu berfungsi sebagi alat penguasaan bahasa dan komunikasi, baik dengan ataupun tanpa menggunakan alat bantu dengar. Kemampuan anak tunarungu yang tergolong kurang dengar akan lebih mudah mendapat informasi sehingga kemampuan bahasanya akan lebih baik. Anak tuli yang sudah tidak mempunyai sisa pendengaran otomatis untuk mendapat informasi sulit sehingga kemampuan bahasanya kurang baik. Pendapat yang sama dari Permanarian Somad dan Tati Hernawati (1995: 27)

            Menyatakan bahwa anak tunarungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat menggunakan alat pendengarannya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa dampak terhadap kehidupananya secara kompleks. Mencermati berbagai pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa ketunarunguan adalah seseorang yang mengalami gangguan pendengaran yang meliputi seluruh gradasi ringan, sedang, dan sangat berat.

III.            Penyebab Ketunarunguan
          Penyebab terjadinya kehilangan pendengaran dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa macam. Misalnya, kehilangan pendengaran mungkin terjadi sebelum lahir (congenital) atau setelah lahir (aquired). kehilangan pendengaran apabila terjadi saat kelahiran secara umum dimasukkan kedalam kategori congenital. Kemudian, kehilangan pendengaran juga bisa diklasifikasikan kedalam faktor genetik dan non genetik. faktor genetik atau keturunan merupakan kasus yang paling banyak dalam ketunarunguan yang terjadi pada anak - anak (Schimer, 2001)
            Diperkirakan bahwa kurang lebih sepertiga dari semua penyandang ketunarunguan kehilangan pendengarannya diatas 55dB, penyebabnya adalah keturunan (Gorlin,1995). kehilangan pendengaran setelah lahir equired dan faktor lainnya merupakan 2/3 lainnya dari penyebab ketunarunguan.

            Hilangnya pendengaran atau ketunarunguan dapat diklasifikasikan kedalam tiga bentuk yang mendasar, tergantung pada lokasi terjadinya kelainan didalam telinga.

a)      Penyebab Tunarungu Tipe Konduktif:

            Kerusakan/gangguan yang terjadi pada telinga luar yang dapat disebabkan antara lain oleh: tidak terbentuknya lubang telinga bagian luar (atresia meatus akustikus externus), dan terjadinya peradangan pada lubang telinga luar (otitis externa).Kerusakan/gangguan yang terjadi pada telinga tengah, yang dapat disebabkan antara lain oleh hal-hal berikut:
            Ruda Paksa, yaitu adanya tekanan/benturan yang keras pada telinga seperti karena jatuh tabrakan, tertusuk, dan sebagainya. Terjadinya peradangan/inpeksi pada telinga tengah (otitis media). Otosclerosis, yaitu terjadinya pertumbuhan tulang pada kaki tulang stapes.
             Tympanisclerosis, yaitu adanya lapisan kalsium/zat kapur pada gendang dengar (membran timpani) dan tulang pendengaran. Anomali congenital dari tulang pendengaran atau tidak terbentuknya tulang pendengaran yang dibawa sejak lahir. Disfungsi tuba eustaschius (saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan rongga mulut), akibat alergi atau tumor pada nasopharynx.

b)      Penyebab Terjadinya Tunarungu Tipe Sensorineural
                        Ketunarunguan sensorineural disebabkan oleh adanya masalah dibagian dalam telingan atau saluran saraf ke otak. akibatnya suara yang menuju ke bagian dalam telinga dan otak tidak dapat diteruskan, atau suara menjadi hilang
c)      Ketunarunguan campuran
            Ketunarunguan campuran merupakan gabungan dari ketunarunguan konduktif dan sensorineural.

IV.            Klasifikasi dalam Tunarungu

        Kemampuan mendengar dari individu yang satu berbeda dengan individu lainnya. Apabila kemampuan mendengar dari sesorang ternyata sama dengan kebanyakan orang, berarti pendengaran anak tersebut dapat dikatakan normal.Bagi tunarungu yang mengalami hambatan dalam pendengaran itu pun masih dapat dikelompokkan berdasarkan kemampuan anak yang mendengar. Lebih lanjut untuk mengetahui pengelompokkannya, penulis memaparkan sebagai berikut :
Klasifikasi anak tunarungu yang dikemukakan oleh Samuel A. Kirk (Permanarian Somad 1996: 29) adalah sebagai berikut :




A
0 dB
menunjukkan pendengaran optimal.
B
0-26 dB
menunjukkan masih mempunyai pendengaran normal.
C
27-40 dB                            
Menunjukkankesulitan mendengar bunyi-bunyi yang jauh,   membutuhkan tempat duduk yang strategis letaknya dan     memerlukan terapi wicara (tergolong tunarungu ringan).

D
41-55 dB
mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas, membutuhkan alat bantu dengar dan terapi bicara (tergolong tunarungu sedang).

E
56-70 dB
hanya bisa mendengar suara dari arak yang dekat, masih mempunyai sisa pendengaran untuk belajar bahasa ekspresif ataupun reseptif dan bicara
dengan menggunakan alat bantu dengar sertadengan cara yang khusus (tergolong tunarungu agak berat).

F
71-90 dB
hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat,kadang dianggap tuli, membutuhkan pendidikan luar biasa yang intensif, membutuhkan alat bantu mendengar (ABM) dan latihan bicara secara khusus (tergolong tunarungu berat).

G
91 dB keatas
mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak tergantung pada penglihatandaripada pendengarannya untuk proses menerima informasi dan yang bersangkutan dianggap tuli (tergolong tunarungu barat sekali).
                                                                         



Kehilangan pendengaran pada anak tunarungu dapat diklasifikasikan dari 0dB-91 dB ke atas. Setiap tingkatan kehilangan pendengaran mempunyai pada kemampuan mendengar suara atau bunyi yang berbeda-beda, sehingga mempengaruhi kemampauan komunikasi anak tunarungu. Terutama, pada kemampuan anak berbicara dengan artikulasi yang tepat dan jelas. Semakin tinggi kehilangan pendengarannya, maka semakin lemah kemampuan artikulasinya. Berdasarkan tingkat kehilangan ketajaman pendengaran yang diukur dengansatuan desiBell (dB), klasifikasi anak tunarungu menurut Heri Purwanto (1998: 7) adalah seperti berikut :

a. Sangat ringan (light) 25 dB - 40 dB
b. Ringan (mild) 41 dB - 55 dB
c. Sedang (moderate) 56 dB - 70 dB
d. Berat (severe) 71 dB - 90 dB
e. Sangat berat (profound) 91 dB – lebih

            Tingkat kehilangan pendengaran dapat di bagi menjadi 5 tingkatan, yaitu sangat ringan, ringan, sedang, berat, sangat berat. Semakin tinggi kehilangan pendengaran, semakin lemah kemampuan mendengar suara atau bunyi bahkan hanya merasakan getaran dari suara saja. Selain itu juga, biasanya berdampak pada kemampuan komunikasi, terutama kemampuan bicara dengan artikulasi yang jelas sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami orang lain. Klasifikasi anak tunarungu bermacam-macam dan dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Klasifikasi subjek dalam penelitian ini adalah satu anak tunarungu yang masih mempunyai sedikit sisa pendengaran tetapi belum dioptimalkan fungsinya dan dua anak tunarungu yang sudah tidak mempunyai sisa pendengaran atau tuli. Subjek belum dapat mengucapkan kata-kata dengan artikulasi yang tepat dan jelas, anak terbiasa berkomunikasi dengan isyarat dan oral tetapi tidak mengeluarkan suara yang jelas. Salah satu metode untuk meningkatkan kemampuan artikulasi anak tunarungu adalah metode drill. Metode drill disini anak dituntut mengucapkan kata-kata secara berulang-ulang, sehingga anak terbiasa bicara dengan ucapan yang tepat dan jelas yang disertai suara.

  V.            Karakteristik Tunarungu
            Ketuna runguan merentang dari ringan hingga berat. Diantaranya mereka ada yang menggunakan bahasa isyarat, terutama ketika mereka berkomunikasi dalam komunitasnya.Ada juga yang sekaligus menggunakan bahasa isyarat dan bahasa lisan ketika berkomunikasi, biasa nya mereka memiliki teman baik yang tuli, kurang dengar, atau pun yang bisa mendengar.
            anak dengan ketunarunguan biasa nya memiliki karakteristik yang berhubungan dengan isu - isu intelegensi, bicara dan bahasa, perkembangan sosial, serta prestasi akademik.
v  Bicara dan Bahasa
            Keterampilan berbicara dan berbahasa merupakan bidang perkembangan yang paling banyak dipengaruhi oleh ketunarunguan, khusus nya bagi anak yang sejak lahir telah menderita ketunarunguan. McLean, Wolery, dan Bailey (2004) mengemukakan bahwa kebanyakan anak- anak yang mederita ketulian memerlukan banyak waktu dalam belajar berbicara. bagi individu yang kehilangan pendengaran ringan atau sedang pengaruhnya mungkin dapat diminimalisir sedemikian mungkin. Akan tetapi bagi yang ketuliannya congengital atau berat,suara keras yang tidak mampu didengar meskipun telah menggunakan alat dengar. Individu seperti ini tidak dapat memperoleh informasi melalui suara, akan tetapi sebaiknya mereka belajar membaca bibir. suara yang dikeluarkan oleh individu dengan ketunarunguan biasanya sering sulit untuk dimengerti. anak - anak dengan ketunarunguan mempunyai masalah dalam membedakan artikulasi, kualitas dan tekanan suara.
v  Intelegensi
            Lebih dari dua puluh tahun review yang dilakukan terhadap hasil - hasil penelitian yang berhubungan dengan karakteristik intelektual anak-anak ketunarunguan menunjukkan bahwa distribusi intelegen atau skor IQ individu-individu tunarungu adalah sama dengan mereka yang dapat mendengar (Simeonsson & Rosenthal, 2001). Berbagai hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa perkembangan intelektual tunatungu lebih kefungsi perkembangan bahasa dari pada kemampuan kognitif. kesulitan lainnya muncul akibat dari ketunarunguan adalah berhubungan dengan bicara, membaca dan menulis tetapi tidak berhubungan dengan tingkat intelegensi (Paul & Quigley,1990)
v  Perkembangan Sosial
            Biasanya kita memahami orang lain, budaya kita, dan diri kita sangat erat dipengaruhi oleh interaksi langsung sebagai proses belajar yang bersifat insidental. Perkembangan sosial dan emosional akan sangat tergantung kepada keterampilan berkomunikasi. Anak dengan ketunarunguan memodifikasi kapasitas menerima dan memprosesrangsangan auditorinya, sehingga ia menerima informasi auditori secara tidak utuh. Akibat dari itu muncul lah perbedaan cara bermain antara anak - anak tunarungu dengan anak - anak sebayanya yang dapat mendengar.
            anak - anak tunarungu biasanya jarang  mempergunakan interaksi bahasa ketika bermain dan biasanya menciptakan kelompok - kelompok kecil dari pada berada pada kelompok - kelompok besar. Pola seperti ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kesulitan untuk membagi perhatian, dan kekurangan pengetahuan bahasa yang sesuai untuk situasi bermain. Mereka juga sering kali menarik diri dan tidak ikut bermain. Kemungkinan hal ini didasari karena keterbatasan kemampuan dalam berbahasa. Anak tunarungu biasanya sering menghabiskan waktu dan bermain dengan sesama anak tunarungu lainnya, meskipun sebenarnya mereka tertarik dan berinisiatif untuk berinteraksi, tetapi mereka sering tidak dapat mendapat respon dari teman - teman bermain lainnya karena kendala bahasa. Ketika anak - anak tunarungu dan anak-anak yang dapat mendengar lainnya mencoba untuk bermain tetapi tidak ada sistem komunikasi yang bisa dilakukan, apakah lisan atau isyarat, biasanya mereka hanya melakukan aktivitas bermain sesaat atau hanya untuk menjaga persahabatan (Lederberg, 1993). Kondisi seperti ini merekomendasikan pentingnya pengembangan keterampilan berkomunikasi antara teman - teman sebaya yang dapat mendengar lainnya dan seluruh guru jika anak ditempatkan dalam seting kelas inklusif untuk menghindari keterisolasian. Internet dan telpon genggam juga dapat dipergunakan untuk berkomunikasi diantara teman-teman sebayanya melalui obrolan tertulis.

v  Prestasi Akademik
            Prestasi akademik siswa - siwa kemungkinan agak terlambat dibandingkan dengan teman-teman sebaya yang dapat mendengar lainnya. siswa - siswa tunarungu menghadapi kesulitan untuk berhasil dengan baik ketika mengikuti sitem pendidikan yang media utamanya lebih menekankan pada bahasa lisan dan tulisan dalam transfer pengetahuan.
            membaca merupakan bidang akademik yang paling jelek terpengaruh oleh ketunarunguan. Hilangnya pendengaran, apakah ringan atau berat, menimbulkan dampak yang jelek terhadap kemampuan membaca (Lasso, 1987). Penelitian yang dilakukan oleh Allen menemukan bahwa median tingkat mebca siswa-siswa tunarungu usia 16 dan 18 tahun hampir sama dengan kelas 3 dan prestasi matematika nya hampir sama dengan kelas 7. Analisis Subgrup yang dilakukan oleh Holt (1993) menunjukkan, bahwa semua individu dengan ketunarunguan kemampuan membacanya sama dengan siswa kelas 3 dan kelas 4.

VI.            Prinsip Pembelajaran Umum dan Khusus pada Anak Tunarungu

v Asesmen Anak Tunarungu

Pendidikan anak tuna rungu merupakan proses yang kompleks. Penempatan yang tepat, cara cara belajar terbaik bagi masing-masing anak (auditori, visual, atau manual), kurikulum, amplifikasi, dan keputusan tentang transisi dari satu lembaga layanan ke lembaga layanan lainnya yang diambil oleh keluarga, sekolah dan individu, bergantung pada informasi yang reliabel.
1.   Asesmen Ketajaman pendengaran 
Asesmen ketajaman pendengaran anak  dapat dilakukan melalui  observasi dan  tes, baik tes sederhana maupun tes dengan menggunakan media elektronik. Pada kesempatan ini, dijelaskan asesmen fungsi pendengaran melalui tes, yaitu tes berbisik dan percakapan, serta tes pendengaran dengan menggunakan media elektronik.  
a. Tes  Berbisik  dan Percakapan
Tes  berbisik  dan  percakapan  merupakan  tes  pendengaran yang  sederhana, namun untuk  melakukannya harus  memperhatikan  beberapa persyaratan  sehingga hasilnya dapat  dipertanggungjawabkan. Persyaratan  tersebut  antara  lain : 
1.         Tes ini harus dilaksanakan di dalam suatu ruang tertutup dan sunyi, serta tidak ada gema .
2.         Testee diberitahu bahwa tester akan mengatakan suatu kata dengan berbisik atau percakapan, dan testee harus mendengarkan dengan baik serta mengulang kata tersebut dengan suara percakapan biasa.
3.         Testee tidak boleh melihat gerak bibir  tester untuk menghindari testee menbaca ujaran tester.
4.         Tester  harus berbicara dengan suara lantang dan semua  kata  harus diucapkan sama keras.
5.         Sebelum mengucapkan kata-kata, janganlah menghirup udara terlalu dalam untuk menghindari suku  kata  pertama diucapkan terlalu keras.
6.         Kata-kata  yang  sesuai diucapkan untuk tes ini terdiri dari dua suku  kata, seperti :  bola, meja, buku, dsb.
7.         Telinga harus  di  tes satu persatu. Oleh karena itu telinga  yang  tidak  di  tes harus ditutup. Penutupan telinga dilakukan dengan menekan  tragus  kedalam lubang telinga.
Apabila  persyaratan  tadi  sudah  terpenuhi, kita  dapat  memperkirakan   kekurangan  dengar  anak  berdasarkan  tabel   berikut.
b.Tes Pendengaran dengan Media Elektronik
Tes pendengaran dengan menggunakan media elektronik merupakan tes  yang lebih  akurat  yang  hasilnya  dapat  dijadikan dasar  untuk menentukan  alat  bantu dengar yang sesuai. Media elektronik untuk tes pendengaran yang banyak tersedia adalah  audiometer. Media  tersebut digunakan  pada  anak  yang  sudah  berusia  3 tahun  ke atas karena  pada  usia  tersebut, anak  sudah dapat diberikan  pengarahan sehubungan  dengan prosedur pengukuran.  Pengukuran pendengaran pada anak  yang  lebih  kecil dan  untuk  bayi, sudah tersedia teknologi mutakhir yaitu Auditory Brainstem Responses (ABR) dan Otoacoustic Emissions (OAE) (Tn,2004 : 2-3 dan Tn, 2002 :IV-2).
Auditory Brainstem Responses ( ABR)   merupakan  suatu  alat  elektronik yang  canggih untuk  memeriksa  pendengaran  melalui  respon  atau  reaksi  syaraf  pendengaran  bayi  terhadap  bunyi dengan  frekuensi  dan kekerasan  tertentu.  Dalam  penggunaan  ABR, bayi    yang  dites biasanya  dalam  keadaan  tidur.  Pada  kepala  bayi   dipasang tiga  elektroda, yaitu   dua dipasang  pada  tulang  di  belakang  telinga dan  satu dipasang pada   dahinya, dengan  demikian  bunyi langsung disalurkan ke syaraf  pendengaran  bayi. Reaksi  syaraf pendengaran  bayi  terhadap  bunyi  akan  direkam  secara  otomatis  oleh  alat  tersebut  dan  pemeriksa  tinggal menafsirkan  hasilnya.   
Otoacoustic Emissions (OAE) merupakan alat yang lebih canggih untuk mengidentifikasi  dini  gangguan pendengaran.  Prinsip kerja  alat  ini   sama  dengan  ABR, hanya   bentuknya  lebih  kecil dan  cara  penggunaannya  lebih  praktis karena  cukup  ditempelkan  pada  telinga bayi  saja. 
Audiometer merupakan media elektronik untuk mengukur  taraf  kehilangan pendengaran  seseorang.  Audiometer  banyak  jenisnya,  di antaranya   ada audiometer untuk  tes pendengaran melalui nada  murni  (pure  tone  audiometry) dan  audiometer  untuk  tes  pendengaran melalui percakapan ( speech audiometry). 
Audiometer  nada  murni  merupakan  media  elektronik  yang menghasilkan nada-nada murni  dengan  berbagai  frekuensi  yang  intensitasnya  dapat  diatur  oleh  operator. Media  ini  dilengkapi dengan earphones dan  vibrator. Earphones (dipasang  pada telinga  testee) untuk menghantarkan  nada-nada  murni  melalui telinga  luar (metode  hantaran / konduksi  udara). Sedangkan  vibrator  (dipasang  pada tulang  mastoid yang  ada  dibelakang  telinga)  untuk  menghantarkan  getaran suara,  langsung  ke telinga dalam (metode hantaran  tulang). Kedua metode  audiometri  tersebut  harus  dilakukan untuk  mengetahui  apakah  telinga yang  bersangkutan  mengalami  gangguan pendengaran  konduktif,  sensorineural,  atau  campuran. 
Pengetesan harus  dilakukan   dalam  ruang  kedap  suara yang terpisah  dari  ruangan tester. Pengetesan  dilakukan  pada  satu  telinga terlebih  dahulu dengan  metode hantaran udara dilanjutkan  dengan  metode hantaran tulang.  Setelah  itu  baru  dilakukan  pengetesan  untuk  telinga yang lainnya dengan cara yang  sama. Apabila  klien  tidak mengetahui    telinga mana yang lebih  baik pendengarannya, pengetesan  dilakukan  pada  telinga  sebelah  kanan  terlebih  dahulu.  Pada  audiometri dengan   metode  hantaran tulang, penentuan  kondisi  telinga  yang  lebih  baik   dapat  dilakukan  melalui  tes weber  yaitu  dengan memberikan  getaran  suara pada   frekuensi  500Hz dengan volume  suara  yang  paling  nyaman  untuk  didengarkan melalui  vibrator yang  ditempelkan  pada  bagian  tengah  dahi  testee.
Selanjutnya  ditanyakan  pada  testee pada telinga  sebelah  mana dia  dapat  mendengar nada.  Ada  tiga  kemungkinan  jawaban,   yaitu  pada telinga  kiri,  telinga kanan, atau  tidak  kedua-duanya. Apabila   jawaban  testee adalah  pada  salah  satu  telinga,  maka   pengetesan  dilakukan   pada  telinga  yang  dapat  mendengar  nada  terlebih  dahulu.  
Pada  audiometri nada  murni, pengetesan  dilakukan  untuk  mencari  ambang  pendengaran baik  melalui metode hantaran udara maupun hantaran tulang. Ambang pendengaran  adalah tingkat  tekanan  suara yang terendah  yang  masih  dapat  didengar  oleh  telinga  yang  bersangkutan.  Ambang  pendengaran   pada setiap  frekuensi  untuk  setiap  telinga  direkam  dalam  bentuk  grafik dengan  tanda-tanda  khusus  yang  disebut  audiogram.  
Audiometer  percakapan (speech audiometry).  merupakan  alat  elektronik   untuk  perngetesan pendengaran melalui percakapan. Pada  dasarnya speech audiometry terdiri  dari  kegiatan-kegiatan  sebagai  berikut:  pertama,  mengucapkan  serangkaian kata-kata untuk  didengar  testee; kedua, menyuruh testee  mengulangi kata-kata  tersebut;  dan  ketiga,  mencatat  jumlah  kata yang  diulang  dengan  tepat. Rangkaian  kata  tersebut  dapat  diucapkan  secara  langsung  atau melalui  rekaman. Dalam  pengucapan  langsung, tester  sebagai  operator  mengucapkan   kata-kata  melalui mikrofon dan  memonitor  suara  tester  dengan  menggunakan VU meter. Suara  dikirim  ke  telinga  testee  melalui  earphone atau  loudspeaker.
Sedangkan  melalui metode  rekaman, rangkaian  kata-kata  disajikan  melalui rekaman  tape-recorder atau  alat  perekam  lainnya. Pengetesan dilakukan   dalam  ruang  kedap  suara yang  terpisah  dari  ruangan tester.
Speech audiometry dapat  menyediakan 5 (lima) tipe  informasi, yaitu : 1) ambang  pemahaman  bicara; 2) tingkat  suara  yang  paling  nyaman  untuk didengarkan; 3) tingkat  suara  yang  tidak  nyaman  untuk  didengarkan; 4) rentang  kekerasan  suara  yang  nyaman  untuk  didengarakan; dan 5) Skor  kemampuan membedakan  ucapan.
2.   Asesmen Kemampuan Mendengar dengan Menggunakan Alat Bantu Mendengar (ABM) 
Hyde  (Sadjaah E. & Sukarja, 1996) mengemukakan bahwa setiap ABM memiliki spesifikasi  data mengenai : penguatan   (gain), keluaran kekuatan/kekerasan yang maksimal (maximum power output), serta rentangan  frekuensi yang dimiliki.  Namun masih perlu dinilai  bagaimana alat tersebut  berfungsibila dipakai anak tunarungu. Spesifikasi   alat  diperoleh secara artifisial dipabrik  dengan peralatan  yang sempurna, sedangkan fungsinya bisa dipengaruhi  sifat, bentuk dan ukuran telinga serta sifat kerusakan  fungsi pendengaran masing-masing orang.  
Tes kemampuan mendengar dengan ABM  dilakukan dengan materi  yang dinamakan  warble sound  yaitu berupa  bunyi senandung / siulan yang dikeluakan  lewat kotak  pengeras suara dengan intensitas dan frekuensi tertentu. Anak yang  diasesmen  duduk  pada jarak satu meter dari kotak suara.
  1. Asesmen Keterampilan Mendengarkan/ menyimak
Ada beberapa tes keterampilan menyimak, antara lain : tes keterampilan menyimak angka atau  tes semut ( ANT test) dari  Norman Erber dan Tes Lima Bunyi Bahasa yang diadaptasi dari  Five Sound Test yang  diciptakan Daniel Ling.
ANT Test merupakan suatu tes dengan prosedur yang  singkat dan tak memerlukan peralatan, kecuali  lima kartu  gambar semut dengan jumlah tertentu  ( satu sampai lima). Tes ini bertujuan untuk  memperoleh  informasi  tentang keterampilan  menyimak siswa tunarungu yang masih kecil. Dari hasil tes akan diketahui  apakan anak  mampu menangkap  kualitas frekuensi  suatu ungkapan lisan atau hanya memperoleh informasi yang kasar tebtabg intensitas/ tekanannyam melalui  sisa pendengarannya. Hasil tes  dapat digunakan sebagai acuan untuk menyususn program latihan artikulasi dan menyimak selanjutnya.
Prosedur Pelaksanaan Tes
1.    Tes Kartu Gambar
Tes  menggunakan  kartu bergambar semut,  Anak yang di tes menggunakan ABM ( yang berfungsi secara baik )  atau dengan memakai  speeh master (dipasang 20 dB di atas ambang pendengaran anak). Pengetesan dilakukan secara bergantian pada telinga kanan dan kiri. Usahakan pengetesan diakukan di ruangan yang terganggu bunyi latar belakang. Langkah-langkahnya  sebagai berikut.
a.    Perkenalkan anak pada kartu-kartu tes,  perlihatkan satu per satu sambil membilang jumlah ”semut” pada setiap kartu : satu, satu – dua, satu – dua – tiga dan seterusnya.
b.    Latihlah siswa dengan menyebut kartu-kartu tersebut secara acak dan permintaan untuk menunjukan kartu mana yang diucapkan guru (sambil menatap dan mendengar).
c.    Ulangi langkah ke 2 namun sekarang guru menutup mulut, agar anak tak membaca ujaran.  Perhatikan agar guru tiap kali selalu tetap membilang sampai 5 namun yang disuarakan hanya angka yang dites. Misalnya mau mentes kartu satu – dua maka satu – dua (disuarakan) – tiga – empat – lima (tanpa suara)
d.   Langkah-langkah sebelumnya ini hanya merupakan tahap awal untuk mentes lebih lanjut. Tes yang sesungguhnya baru mulai bila guru/pemeriksa menyajikan satu angka (misalnya 5) dengan mulut yang ditutup. Siswa yang mampu mendengar kualitas spektral (frekuensi) ucapan ”lima” akan menunjukan pada kartu dengan 5 semut. Ada siswa yang mungkin mempersepsi angka lain namun siswa yang hanya mampu menangkap pola tekanan/tempo dari ucapan tadi jadi 2 tekanan : li-ma (/-/) akan menunjukan pada kartu 1 (sa-tu). 113
e.    Catat respon siswa. Siswa yang berhasil merespon dengan penyajian cara kedua berarti sungguh mampu menyimak dan dapat dikatakan sebagai kelompok yang dengar (hearers). Sedangkan siswa yang hanya berhasil merespon dengan penyajian pertama disebut kelompok yang merasa (feerels). Hasil ini akan berakibat pada penyusunan progam BPBI bagi siswa
2.    Tes Lima Bunyi Bahasa 
Tes lima bunyi bahasa  diadaptasi dari  Five Sound  Test yang  diciptakan Daniel Ling guna mengasesmen keterampilan  menyimak  bunyi bahasa dengan atau tanpa menggunakan ABM. Pada  jarak yang berbeda-beda. Materi asli tes ini  untuk bahasa Inggris adalah: /a/, /i/, /u/, /sh/, /s/, mewakili bunyi yang paling keras sampai lembut.  Dalam penataran- okakarya  yang diselenggarakan Federasi  Nasional untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (FNKTRI) tahun 1993 dengan penatar M. Hyde, materi tes diadaptasi  untuk bahasa Indonesia menjadi  /a/, /u/, /i/, /m/, /s/. Pemikiran  yang mendasari  penyususunan tes  atau pemilihan  bunyi tersebut, adalah bahwa respon terhadap setiap  bunyi menandakan bahwa bunyi bahasa tersebut dan bunyi  lainnya dalam gelombang  oktaf yang sama juga akan terditeksi. Misalnya  bila anak tak dapat menditeksi/ menyimak  /s/, maka /f/ pun tak akan tertangkap. Bila /a/ atau /i/  tak terdengar atau terditeksi,  maka  dapat diperkirakan  bahwa suara sengau yang terjadi  sekitar 300 Hz juga tak akan terdengar. ( Daniel Ling, 1988:72). 
Materi tes ini disajikan dalam bentuk  kata yang diucapkan, yang mengandung masing-masing huruf di atas, seperti  kata : apa, baru, ibu,  lima, dan satu.  Sedabgkan prosedur  pelaksanaan tes adalah sebagai berikut. 
a.    Siapkan lembar penilaian dan beritanda di lantai pada jarak  1,2,3,4,sampai 5 meter.
b.    Anak diminta duduk di kursi yang telah disediakan kemudian cek ABMnya. 
c.    Jelaskan maksud tes pada anak, sesuai usia dan taraf penguasaan bahasanya. Anak diminta memberi reaksi  (misalnya dengan tepuk tangan atau angkat tangan, dsb.) bila mendeteksi /mendengar bunyi.
d.   Setelah di tes pada jarak 1 meter, anak dites pada jarak yang lebih jauh.
e.    Catat reaksi anak untuk setiap jarak.  

B.           Contoh Assesmen Artikulasi Dan Optimalisasi Fungsi Pendengaran
NamaAnak                  : …………………
JenisKelamin               : …………………
TanggalLahir               : …………………
Nama Orang Tua         : …………………
Alamat                        : …………………
TanggalAsesmen         : …………………
1.        LatihanArtikulasi
No
Organ Artikulasi
Tes
Hasil
Baik
Cukup
Kurang
1.
Bibir
Memonyongkan kedua bibir
Menarik bibir ke belakang
Menggetarkan bibir
2.
Lidah
Menjulurkanlidahkedepan
Menjulurkanlidahkekiri
Menjulurkanlidahkekanan
Menyentuhlengkung kaki gigiatas
Mendorongpipikiri
Mendorongpipikanan
Menyapubibiratas
Menyapubibirbawah
3.
Rahang
Membuka mulut lebar-lebar
Menutup mulut rapat-rapat
Mengunyah permen karet
4.
Velum
Meniup udara keluar melalui mulut
Meniup balon
Meniup peluit
Menahanudara di mulutsampaihitungan 5 s/d 10
6.
Nafas
Ambil nafas, tahan sampai hitungan 10

2.        Tes Membedakan Bunyi
a.  Panjang/Pendek
No.
Kata
Dapat
TidakDapat
DeskripsiKesalahan
1.
Pa
Paaaa
2.
Ma
Maaaa
3.
La
Laaaa
4.
Sa
Saaaa
5.
Da
Daaaa

b.  Tinggi/Rendah
No.
Kata
Tinggi
Rendah
DeskripsiKesalahan
1.
Papa
Pipi
2.
Moto
Mutu
3.
Didi
Dede
4.
Babak
Bebek
5.
Lala
Lele


c.  Keras/Lemah
No.
Kata
Keras
Lemah
DeskripsiKesalahan
1.
Salam
Salam
2.
Bakar
Bakar
3.
Lima
Lima
4.
Malam
Malam
5.
Dekat
Dekat

d.Asesmen lanjutan  (Akademik)
Aspek
Ya
tidak
Keterangan
1.        Anak menyebutkan semua huruf alfabet di bawah ini!
A-B-C-D-E-F-G-H-I-J-K-L-M-N-O-P-Q-R-S-T-U-V-W-X-Y-Z
2.      Anak menyebutkan semua huruf yang mirip di bawah ini!
        b-d              p-q         u-n
        m-w            z-s
3.      Anak menyebutkan semua huruf konsonan di bawah ini!
B-C-D-F-G-H-J-K-L-M-N-P-Q-R-S-T-V-W-X-Y-Z
b-c-d-f-g-h-j-k-l-m-n-p-q-r-s-t-v-w-x-y-z
4.      Sebutkan huruf-huruf vokal dibawah ini! (vokal besar)
A-I-U-E-O
u-o-e-a-i

1.    Latihan Artikulasi
No
Organ Artikulasi
Tes
Hasil
Baik
Cukup
Kurang
1.
Bibir
Memonyongkan kedua bibir
Menarik bibir ke belakang
Menggetarkan bibir
2.
Lidah
Menjulurkan lidah ke depan
Menjulurkan lidah ke kiri
Menjulurkan lidah ke kanan
Menyentuh lengkung kaki gigi atas
Mendorong pipi kiri
Mendorong pipi kanan
Menyapu bibir atas
Menyapu bibir bawah
3.
Rahang
Membuka mulut lebar-lebar
Menutup mulut rapat-rapat
Mengunyah permen karet
4.
Velum
Meniup udara keluar melalui mulut
Meniup balon
Meniup peluit
Menahan udara di mulut sampai hitungan 5 s/d 10
6.
Nafas
Ambil nafas, tahan sampai hitungan 10

2.      Meraban
No
Suku Kata
Hasil Tes
1.
Ba  Ba  Ba
Bi   Bi  Bi
Bu  Bu  Bu
Be  Be  Be
Bo  Bo  Bo
2.
Ma  Ma  Ma
Mi   Mi   Mi
Mu  Mu  Mu
Me  Me  Me
Mo  Mo  Mo
3.
Pa  Pa  Pa
Pi  Pi  Pi
Pu  Pu  Pu
Pe Pe  Pe
Po  Po  Po
4.
Da  Da  Da
Di  Di  Di
Du  Du Du
De  De  De
Do  Do  Do
5.
Sa  Sa  Sa
Si  Si  Si
Su  Su  Su
Se  Se  Se
So  So  So
6.
Ta  Ta  Ta 
Ti  Ti  Ti
Tu  Tu  Tu
Te  Te  Te
To  To  To
7.
Na  Na  Na
Ni  Ni  Ni
Nu  Nu  Nu
Ne  Ne  Ne
No  No  No
8.
La  La  La
Li  Li  Li
Lu  Lu  Lu
Le  Le  Le
Lo  Lo  Lo
9.
Ka  Ka  Ka
Ki  Ki  Ki
Ku  Ku  Ku
Ke  Ke  Ke
Ko  Ko  Ko
10.
Ra  Ra  Ra
Ri  Ri  Ri
Ru  Ru  Ru
Re  Re  Re
Ro  Ro  Ro
11.
Ga  Ga  Ga
Gi  Gi  Gi
Gu  Gu  Gu
Ge  Ge  Ge
Go  Go  Go
12
Ha  Ha  Ha
Hi  Hi  Hi
Hu  Hu  Hu
He  He  He
Ho  Ho  Ho
13.
Ja  Ja  Ja
Ji  Ji  Ji
Ju  Ju  Ju
Je  Je  Je
Jo  Jo  Jo
14.
Wa  Wa  Wa 
Wi  Wi  Wi
Wu Wu  Wu
We  We  We
Wo  Wo  Wo
15.
Ca  Ca  Ca
Ci  Ci  Ci
Cu  Cu  Cu
Ce  Ce  Ce
Co  Co  Co

3.      Tes Mengucapkan Kata Lembaga
No
Vokal/
Konsonan
Awal
B
T
Tengah
B
T
Akhir
B
T
Ket
Vokal
1
a
Apel
ban
baca
2
i
Ikan
pita
sapi
3
u
Udang
buku
baju
4
e
Ekor
becak
kue
5
o
Obat
bola
soto
Bilabial
1
p
Papaya
sepatu
atap
2
b
Batu
bebek
arab
3
m
Mata
jambu
ayam
4
w
Warna
sawah
awan
Labio Dental
1
f
Factor
sifat
edukatif
2
v
Vocal
televisi
-
Dental
1
t
Topi
botol
tomat
2
d
Dasi
sendok
masjid
3
l
Lilin
balon
pensil
4
n
Nanas
pintu
papan
Alveolar
1
s
Satu
kasur
gelas
2
z
Zat
-
-
3
r
Roti
garpu
ular
Palato Alveolar
1
c
Cabe
beca
-
2
j
Jam
meja
-
Palatal
1
ny
kunyit
(me) nyanyi
(me) nyapu
Velar
1
k
Katak
bakso
sirsak
2
G
Golok
gigi
mangga
3
X
-
-
Box
4
Ng
Pisang
telinga
singa
5
Y
Yoyo
payung
-
Glotal
1
H
Hitam
pohon
sepuluh

4.      Tes Membedakan Bunyi
a.  Panjang/Pendek
No.
Kata
Dapat
Tidak Dapat
Deskripsi Kesalahan
1.
Pa
Paaaa

2.
Ma
Maaaa

3.
La
Laaaa

4.
Sa
Saaaa

5.
Da
Daaaa



b.  Tinggi/Rendah
No.
Kata
Tinggi
Rendah
Deskripsi Kesalahan
1.
Papa
Pipi

2.
Moto
Mutu

3.
Didi
Dede

4.
Babak
Bebek

5.
Lala
Lele


c.  Keras/Lemah
No.
Kata
Keras
Lemah
Deskripsi Kesalahan
1.
Salam
Salam

2.
Bakar
Bakar

3.
Lima
Lima


4.
Malam
Malam

5.
Dekat
Dekat



strategi pembelajaran bagi anak ketunarunguan

1. mengintergrasikan perbendaharaan kata dan pengembangan konsep
2. tangga pengalaman belajar
3. strategi mengajar visual
4. mengakomodasi siswa-siswa yang tuli dan kurang dengar

VII.            Alat Bantu Tunarungu
01)  Audiometer
               Yaitu alat penelitian yang dapat mengukur segala aspek dari pendengaran seseorang. Dengan audiometer dapat dibuat sebuah audigram yang dapat memberitahukan angka dari sisa pendengaran anak.

02)  Alat bantu mendengar (hearing aid)
               Dengan mempergunakan alat bantu dengar (hearing aid) perorangan dan alat bantu dengan (group hearing aid) kelompok, anak-anak tunarungu diberikan latihan mendengar. Latihan-latihan tersebut dapat diberikan secara individual atau secara kelompok.

03)  Cermin
               Untuk memberikan cantoh-contoh ucapan dengan artikulasi yang baik diperlukan sebuah cermin. Dengan bantuan cermin kita dapat menyadarkan anak terhadap posisi bicara yang kurang tepat. Dengan bantuan cermin kita dapat mengucapkan beberapa contoh konsonan, vokal dan kata-kata atau kalimat dengan baik.

04)  Alat bantu wicara (speech trainer)
               Speech trainer ialah sebuah alat elektronik terdiri dari amplifaer, head phone dan mickrophone. Gunanya untuk memberikan latihan bicara individual. Bagi yang masih mempunyai sisa pendengaran cukup banyak akan sangat membantu pembentukan ucapannya. Bagi yang sisa pendengarannya sedikit akan membantu dalam pembentukan suara dan irama.
VIII.            Perundang-Undangan
1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.
3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. 
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 
5. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah    Tangga. 
7. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
8. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas (Convention On The Rights Of Persons With Disabilities). 
9. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan.
10. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014.
11. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Konvensi tentang Hak-Hak Anak (Convention on the Rights of the Child).
12. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
13. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 10 Tahun 2011 tentang Kebijakan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus.



BAB III
Penutup
1.    Kesimpulan
Tunarungu dapat disebabkan oleh berbagai macam factor dan memiliki klasifikasi yang berbeda. Anak-anak tunarungu memerlukan waktu yang lebih lama dari anak-anak normal lainnya dalam hal pembelajaran bahasa dan budaya. Anak tunarungu memiliki intelegensi yang sama dengan anak normal lainnya, namun prestasi akademiknya kurang karena hambatan dalam berkomunikasi. Anak-anak tunarungu lebih sering berinteraksi dalam kelompok kecil dibandingkan dengan kelompok besar. Mereka sering menarik diri dari lingkungannya dikarenakan kesulitannya dalam berkomunikasi dengan lingkungannya.
2.    Kritik Saran
Anak tunarungu sangat memerlukan perhatian khusus dari lingkungannya, terutama dari guru di sekolahnya untuk membantu proses pembelajarannya yang terhambat akibat gangguan pendengaran.
Guru bisa menggunakan beberapa cara pengajaran untuk membuat anak tunarungu mengerti agar anak tunarungu tersebut tidak merasa berbeda dengan teman-teman lainnya.
Sebisa mungkin, tempatkan anak tunarungu di barisan depan agar ia bisa membaca gerak bibir guru dan mencoba mengerti apa yang dijelaskan di depan.
Dengan penanganan tepat, anak tunarungu pasti bisa mensejajari anak-anak normal lainnya.




Daftar Pustaka
Rahardja Djadja, Dr. M. Ed dan Sujarwanto, Drs. M. Pd, 2012, Pengantar Pendidikan Luar Biasa (Orthopedagogik), Universitas Surabaya, Surabaya.
Soematri Sutjihati. T. H, Dra. PsyCH, Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus.
Google


No comments:

Post a Comment