MAKALAH TENTANG ANAK TUNARUNGU
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Cacat tubuh
merupakan suatu keterbatasan yang sangat mengganggu seperti cacat kaki (lumpuh)
dan tangan, cacat mata, bisu dan tuli, dan kelainan anggota tubuh yang lain.
Hal ini tentu saja menimbulkan respon negative baik dalam diri penderita maupun
terhadap dan dari orang lain. Respon ini seolah menciptakan 2 (dua) dunia yang
berbeda; yaitu dunia orang ‘normal’ dan dunia ‘cacat’. Tentu saja
batasan-batasan yang ada menghasilkan jarak yang cukup jauh untuk terciptanya
sebuah hubungan yang harmonis antara keduanya. Seolah dunia orang cacat
menempati wadah yang kumuh, kotor dan sudah rusak dan dunia normal menempati
tampat yang lebih ‘layak’, bersih, dan terjamin segala-galanya.
Pengucilan
ini merupakan respon negatif dari sebagian orang ‘normal’. Namun sebenarnya
apakah ada manusia yang bisa dikatakan ‘normal’ Tidak ada satu manusia pun di
dunia ini yang normal. Sebab manusia adalah makhluk yang tidak sempuma, tidak
ada sesuatu pun yang sempurna di mata Tuhan kecuali Tuhan sendiri. Hanya saja
sebagian manusia menganggap dirinya normal karena memiliki kelebihan pada
dirinya yang bisa dilihat dari luar dengan mata telanjang.
Kaum cacat
khsususnya anak-anak masih tetap manusia, hanya saja mereka memiliki
keterbatasan yang tingkatannya lebih besar dari sebagian orang yang merasa
dirinya normal. Akan tetapi bukan berarti mereka tidak mampu lagi untuk tumbuh
dan mendapat predikat sebagai ‘orang normal’, bukan berarti tidak mampu lagi
untuk tampil di depan podium menampilkan bakat alami dan seni yang dimilikinya.
Kecacatan tubuh sejak lahir bagi
sebagian anak-anak bisa dibilang merupakan suatu hal yang biasa dan wajar,
sebab mereka tentunya belum pernah merasakan perbedaan antara tubuh yang
‘lengkap’ dengan yang ‘tidak lengkap’. Mereka akan beranggapan bahwa seperti itulah tubuh mereka dan akan sama
dengan teman-teman ‘normal’ mereka. Beda halnya dengan anak yang terlahir
normal dan mengalami kecelakaan sehingga menjadi cacat. Anak ini akan benar-
benar menyadari bahwa ada yang kurang dari diri mereka setelah tertimpa
musibah.
Masyarakat
sering beranggapan bahwa apabila seseorang tidak mereaksi terhadap pangilan
atau tidak mendengar suara tertentu, maka orang tersebut dinyatakan sebagai
tuli. Dalam keadaan sehari-hari, kita juga sering mendengar sebutan terhadap
individu yang mengalami ganguan pendengaran dengan istilah-istilah :
tunawicara, tuli bisu, cacat dengar, dan yang terakhir, dengan sebutan
tunarungu. Pada hakekatnya penyebutan istilah-istilah tersebut tertuju pada
salah satu objek belaka, yakni individu yang mengalami ganguan atau hambatan
pendengaran.
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang kami ajukan adalaah
sebagai berikut:
1.
Apakah pengertian anak tunarungu?
2.
Apa saja yang menjadi penyebab ketunarunguan?
3.
Bagaimana klasifikasi ketunarunguan?
4.
Bagaimana Karakteristik Anak Tunarungu?
5.
Apa saja Prinsip Pembelajaran Umum dan Khusus
pada Anak Tunarungu?
6.
Bagaimana
Pembelajaran Bagi Anak Tunarungu?
C. Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah yang kami ajukan di atas, maka tujuan dari penulisan makalah
ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui Pengertian Anak Tunarungu
2.
Untuk mengetahui penyebab ketunarunguan
3.
Untuk mengetahui klasifikasi Ketunarunguan
4.
Untuk mengetahui karakteristik anak tunarungu
5. Untuk
mengetahui prinsip pembelajaran umum dan
khusus pada anak tunarungu.
6.
Untuk mengetahui
pembelajaran bagi anak tunarungu
BAB II
PEMBAHASAN
I.
Studi Kasus
Pada
pertengahan 1801, Beethoven menyadari bahwa daya pendengarannya mulai berkurang
akibat otoslerosis. Sebuah surat yang ditemukan di
sebuah rumah Beethoven di Heiligenstadt dekat Wina yang dikenal
sebagai ‘Warisan Heiligenstadt’ berisikan betapa sedihnya Beethoven karena
penyakit yang dialaminya. Kesedihannya memang wajar karena pada saat itu
Beethoven sedang dalam puncak kariernya. Karena penyakit ini, Beethoven menjadi
depresi dan dia menjadi semakin minder dalam pergaulan sosial. Salah satu
alasan lain depresinya Beethoven adalah karena ia tak berhasil mendapatkan
‘teman hidup’. Banyak wanita bangsawan yang sering dicintainya namun umumnya
cintanya bertepuk sebelah tangan.
Pada tahun 1802, Beethoven keluar dari
kemuramannya. Dia melanjutkan membuat komposisi. Pada tahun 1803 dia
mementaskan Piano Concerto in Eb Major, Op. 37 dan tampil sebagai
solois. Pada tahun yang sama Beethoven juga memainkan Violin Sonata Op.
47 miliknya dengan violinis virtuoso George Polgreen Bridgetower (1799-1860)
dan mempersembahkan karya tersebut kepada Rudolph Kreutzer.
II.
Pengertian Tunarungu
Secara
umum anak tunarungu dapat diartikan anak yang tidak dapat mendengar. Tidak
dapat mendengar tersebut dapat dimungkinkan kurang dengar atau tidak mendengar
sama sekali. Secara fisik, anak tunarungu tidak berbeda dengan anak dengar pada
umumnya, sebab orang akan mengetahui bahwa anak menyandang ketunarunguan pada
saat berbicara, anak tersebut berbicara tanpa suara atau dengan suara yang
kurang atau tidak jelas artikulasinya, atau bahkan tidak berbicara sama sekali,
anak tersebut hanya berisyarat. Agar dapat diperoleh pengertian yang lebih
jelas tentang anak tunarungu, berikut ini dikemukakan definisi anak tunarungu
oleh beberapa ahli.
Murni
Winarsih (2007: 23), menyatakan tunarungu adalah seseorang yang mengalami
kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya
yang diakibatkan oleh tidak fungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran,
sehingga anak tersebut tidak dapat menggunakan alat pendengarannya dalam
kehidupan sehari-hari. Hal tersebut berdampak terhadap kehidupannya secara
kompleks terutama pada kemampuan berbahasa sebagai alat komunikasi yang sangat
penting. Gangguan mendengar yang dialami anak tunarungu menyebabkan
terhambatnya perkembangan bahasa anak, karena perkembangan tersebut, sangat
penting untuk berkomunikasi dengan orang lain. Berkomunikasi dengan orang lain
membutuhkan bahasa dengan artikulasi atau ucapan yang jelas sehingga pesan yang
akan disampaikan dapat tersapaikan dengan baik dan mempunyai satu makna,
sehingga tidak ada salah tafsir makna yang dikomunikasikan.
Sedangkan
Iwin Suwarman (Edja Sadjaah. 2005: 75), pakar bidang medik, memiliki pandangan
yang sama bahwa anak tunarungu dikategorikan menjadi dua kelompok. Pertama Hard
of hearing adalah seseorang yang masih memiliki sisa pendengaran sedemikian
rupa sehingga masih cukup untuk digunakan sebagai alat penangkap proses
mendengar sebagai bekal primer penguasaan kemahiran bahasa dan komunikasi
dengan yang lain baik dengan maupun tanpa mengguanakan alat bantu dengar. Kedua
The Deaf adalah seseorang yang tidak memiliki indera dengar sedemikian
rendah sehingga tidak mampu berfungsi sebagi alat penguasaan bahasa dan
komunikasi, baik dengan ataupun tanpa menggunakan alat bantu dengar. Kemampuan
anak tunarungu yang tergolong kurang dengar akan lebih mudah mendapat informasi
sehingga kemampuan bahasanya akan lebih baik. Anak tuli yang sudah tidak
mempunyai sisa pendengaran otomatis untuk mendapat informasi sulit sehingga
kemampuan bahasanya kurang baik. Pendapat yang sama dari Permanarian Somad dan
Tati Hernawati (1995: 27)
Menyatakan
bahwa anak tunarungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan
kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak
berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat
menggunakan alat pendengarannya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa dampak
terhadap kehidupananya secara kompleks. Mencermati berbagai pengertian di atas
maka dapat disimpulkan bahwa ketunarunguan adalah seseorang yang mengalami
gangguan pendengaran yang meliputi seluruh gradasi ringan, sedang, dan sangat
berat.
III.
Penyebab Ketunarunguan
Penyebab terjadinya
kehilangan pendengaran dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa macam. Misalnya,
kehilangan pendengaran mungkin terjadi sebelum lahir (congenital) atau setelah
lahir (aquired). kehilangan pendengaran apabila terjadi saat kelahiran secara
umum dimasukkan kedalam kategori congenital. Kemudian, kehilangan pendengaran
juga bisa diklasifikasikan kedalam faktor genetik dan non genetik. faktor genetik
atau keturunan merupakan kasus yang paling banyak dalam ketunarunguan yang
terjadi pada anak - anak (Schimer, 2001)
Diperkirakan bahwa
kurang lebih sepertiga dari semua penyandang ketunarunguan kehilangan
pendengarannya diatas 55dB, penyebabnya adalah keturunan (Gorlin,1995).
kehilangan pendengaran setelah lahir equired dan faktor lainnya merupakan 2/3
lainnya dari penyebab ketunarunguan.
Hilangnya pendengaran
atau ketunarunguan dapat diklasifikasikan kedalam tiga bentuk yang mendasar,
tergantung pada lokasi terjadinya kelainan didalam telinga.
a) Penyebab
Tunarungu Tipe Konduktif:
Kerusakan/gangguan
yang terjadi pada telinga luar yang dapat disebabkan antara lain oleh: tidak
terbentuknya lubang telinga bagian luar (atresia meatus akustikus externus),
dan terjadinya peradangan pada lubang telinga luar (otitis
externa).Kerusakan/gangguan yang terjadi pada telinga tengah, yang dapat
disebabkan antara lain oleh hal-hal berikut:
Ruda Paksa, yaitu
adanya tekanan/benturan yang keras pada telinga seperti karena jatuh tabrakan,
tertusuk, dan sebagainya. Terjadinya peradangan/inpeksi pada telinga tengah
(otitis media). Otosclerosis, yaitu terjadinya pertumbuhan tulang pada kaki
tulang stapes.
Tympanisclerosis, yaitu adanya lapisan kalsium/zat
kapur pada gendang dengar (membran timpani) dan tulang pendengaran. Anomali
congenital dari tulang pendengaran atau tidak terbentuknya tulang pendengaran
yang dibawa sejak lahir. Disfungsi tuba eustaschius (saluran yang menghubungkan
rongga telinga tengah dengan rongga mulut), akibat alergi atau tumor pada
nasopharynx.
b) Penyebab
Terjadinya Tunarungu Tipe Sensorineural
Ketunarunguan
sensorineural disebabkan oleh adanya masalah dibagian dalam telingan atau
saluran saraf ke otak. akibatnya suara yang menuju ke bagian dalam telinga dan
otak tidak dapat diteruskan, atau suara menjadi hilang
c) Ketunarunguan
campuran
Ketunarunguan campuran merupakan
gabungan dari ketunarunguan konduktif dan sensorineural.
IV.
Klasifikasi
dalam Tunarungu
Kemampuan
mendengar dari individu yang satu berbeda dengan individu lainnya. Apabila
kemampuan mendengar dari sesorang ternyata sama dengan kebanyakan orang,
berarti pendengaran anak tersebut dapat dikatakan normal.Bagi tunarungu yang
mengalami hambatan dalam pendengaran itu pun masih dapat dikelompokkan
berdasarkan kemampuan anak yang mendengar. Lebih lanjut untuk mengetahui
pengelompokkannya, penulis memaparkan sebagai berikut :
Klasifikasi anak tunarungu yang
dikemukakan oleh Samuel A. Kirk (Permanarian Somad 1996: 29) adalah sebagai
berikut :
A
|
0 dB
|
menunjukkan
pendengaran optimal.
|
B
|
0-26 dB
|
menunjukkan
masih mempunyai pendengaran normal.
|
C
|
27-40 dB
|
Menunjukkankesulitan
mendengar bunyi-bunyi yang jauh, membutuhkan
tempat duduk yang strategis letaknya dan memerlukan
terapi wicara (tergolong tunarungu ringan).
|
D
|
41-55 dB
|
mengerti
bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas, membutuhkan alat
bantu dengar dan terapi bicara (tergolong tunarungu sedang).
|
E
|
56-70 dB
|
hanya bisa
mendengar suara dari arak yang dekat, masih mempunyai sisa pendengaran untuk
belajar bahasa ekspresif ataupun reseptif dan bicara
dengan
menggunakan alat bantu dengar sertadengan cara yang khusus (tergolong
tunarungu agak berat).
|
F
|
71-90 dB
|
hanya bisa
mendengar bunyi yang sangat dekat,kadang dianggap tuli, membutuhkan
pendidikan luar biasa yang intensif, membutuhkan alat bantu mendengar (ABM)
dan latihan bicara secara khusus (tergolong tunarungu berat).
|
G
|
91 dB keatas
|
mungkin sadar
akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak tergantung pada
penglihatandaripada pendengarannya untuk proses menerima informasi dan yang
bersangkutan dianggap tuli (tergolong tunarungu barat sekali).
|
Kehilangan pendengaran pada anak tunarungu dapat diklasifikasikan
dari 0dB-91 dB ke atas. Setiap tingkatan kehilangan pendengaran mempunyai pada kemampuan
mendengar suara atau bunyi yang berbeda-beda, sehingga mempengaruhi kemampauan
komunikasi anak tunarungu. Terutama, pada kemampuan anak berbicara dengan
artikulasi yang tepat dan jelas. Semakin tinggi kehilangan pendengarannya, maka
semakin lemah kemampuan artikulasinya. Berdasarkan tingkat kehilangan ketajaman
pendengaran yang diukur dengansatuan desiBell (dB), klasifikasi anak tunarungu
menurut Heri Purwanto (1998: 7) adalah seperti berikut :
a.
Sangat ringan (light) 25 dB - 40 dB
b.
Ringan (mild) 41 dB - 55 dB
c.
Sedang (moderate) 56 dB - 70 dB
d.
Berat (severe) 71 dB - 90 dB
e.
Sangat berat (profound) 91 dB – lebih
Tingkat
kehilangan pendengaran dapat di bagi menjadi 5 tingkatan, yaitu sangat ringan,
ringan, sedang, berat, sangat berat. Semakin tinggi kehilangan pendengaran,
semakin lemah kemampuan mendengar suara atau bunyi bahkan hanya merasakan
getaran dari suara saja. Selain itu juga, biasanya berdampak pada kemampuan
komunikasi, terutama kemampuan bicara dengan artikulasi yang jelas sehingga
pesan yang disampaikan dapat dipahami orang lain. Klasifikasi anak tunarungu
bermacam-macam dan dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Klasifikasi subjek
dalam penelitian ini adalah satu anak tunarungu yang masih mempunyai sedikit
sisa pendengaran tetapi belum dioptimalkan fungsinya dan dua anak tunarungu
yang sudah tidak mempunyai sisa pendengaran atau tuli. Subjek belum dapat
mengucapkan kata-kata dengan artikulasi yang tepat dan jelas, anak terbiasa
berkomunikasi dengan isyarat dan oral tetapi tidak mengeluarkan suara yang
jelas. Salah satu metode untuk meningkatkan kemampuan artikulasi anak tunarungu
adalah metode drill. Metode drill disini anak dituntut mengucapkan kata-kata
secara berulang-ulang, sehingga anak terbiasa bicara dengan ucapan yang tepat
dan jelas yang disertai suara.
V.
Karakteristik
Tunarungu
Ketuna runguan merentang dari ringan
hingga berat. Diantaranya mereka ada yang menggunakan bahasa isyarat, terutama
ketika mereka berkomunikasi dalam komunitasnya.Ada
juga yang sekaligus menggunakan bahasa isyarat dan bahasa lisan ketika
berkomunikasi, biasa nya mereka memiliki teman baik yang tuli, kurang dengar,
atau pun yang bisa mendengar.
anak dengan ketunarunguan biasa nya
memiliki karakteristik yang berhubungan dengan isu - isu intelegensi, bicara
dan bahasa, perkembangan sosial, serta prestasi akademik.
v Bicara dan Bahasa
Keterampilan berbicara dan berbahasa merupakan bidang
perkembangan yang paling banyak dipengaruhi oleh ketunarunguan, khusus nya bagi
anak yang sejak lahir telah menderita ketunarunguan. McLean, Wolery, dan Bailey
(2004) mengemukakan bahwa kebanyakan anak- anak yang mederita ketulian
memerlukan banyak waktu dalam belajar berbicara. bagi individu yang kehilangan
pendengaran ringan atau sedang pengaruhnya mungkin dapat diminimalisir
sedemikian mungkin. Akan tetapi bagi yang ketuliannya congengital atau berat,suara keras yang tidak mampu didengar
meskipun telah menggunakan alat dengar. Individu seperti ini tidak dapat
memperoleh informasi melalui suara, akan tetapi sebaiknya mereka belajar
membaca bibir. suara yang dikeluarkan oleh individu dengan ketunarunguan
biasanya sering sulit untuk dimengerti. anak - anak dengan ketunarunguan
mempunyai masalah dalam membedakan artikulasi, kualitas dan tekanan suara.
v Intelegensi
Lebih dari dua puluh tahun review yang dilakukan
terhadap hasil - hasil penelitian yang berhubungan dengan karakteristik
intelektual anak-anak ketunarunguan menunjukkan bahwa distribusi intelegen atau
skor IQ individu-individu tunarungu adalah sama dengan mereka yang dapat
mendengar (Simeonsson & Rosenthal, 2001). Berbagai hasil temuan penelitian
menunjukkan bahwa perkembangan intelektual tunatungu lebih kefungsi
perkembangan bahasa dari pada kemampuan kognitif. kesulitan lainnya muncul
akibat dari ketunarunguan adalah berhubungan dengan bicara, membaca dan menulis
tetapi tidak berhubungan dengan tingkat intelegensi (Paul & Quigley,1990)
v Perkembangan Sosial
Biasanya
kita memahami orang lain, budaya kita, dan diri kita sangat erat dipengaruhi
oleh interaksi langsung sebagai proses belajar yang bersifat insidental. Perkembangan sosial dan emosional akan sangat
tergantung kepada keterampilan berkomunikasi. Anak dengan ketunarunguan memodifikasi kapasitas
menerima dan memprosesrangsangan auditorinya, sehingga ia menerima informasi
auditori secara tidak utuh. Akibat dari itu
muncul lah perbedaan cara bermain antara anak - anak tunarungu dengan anak -
anak sebayanya yang dapat mendengar.
anak
- anak tunarungu biasanya jarang
mempergunakan interaksi bahasa ketika bermain dan biasanya menciptakan
kelompok - kelompok kecil dari pada berada pada kelompok - kelompok besar. Pola seperti ini kemungkinan disebabkan oleh adanya
kesulitan untuk membagi perhatian, dan kekurangan pengetahuan bahasa yang
sesuai untuk situasi bermain. Mereka juga sering
kali menarik diri dan tidak ikut bermain. Kemungkinan hal ini didasari karena keterbatasan
kemampuan dalam berbahasa. Anak tunarungu
biasanya sering menghabiskan waktu dan bermain dengan sesama anak tunarungu
lainnya, meskipun sebenarnya mereka tertarik dan berinisiatif untuk
berinteraksi, tetapi mereka sering tidak dapat mendapat respon dari teman -
teman bermain lainnya karena kendala bahasa. Ketika anak - anak tunarungu dan anak-anak yang dapat
mendengar lainnya mencoba untuk bermain tetapi tidak ada sistem komunikasi yang
bisa dilakukan, apakah lisan atau isyarat, biasanya mereka hanya melakukan
aktivitas bermain sesaat atau hanya untuk menjaga persahabatan (Lederberg,
1993). Kondisi seperti ini merekomendasikan pentingnya
pengembangan keterampilan berkomunikasi antara teman - teman sebaya yang dapat
mendengar lainnya dan seluruh guru jika anak ditempatkan dalam seting kelas
inklusif untuk menghindari keterisolasian. Internet dan telpon genggam juga dapat dipergunakan
untuk berkomunikasi diantara teman-teman sebayanya melalui obrolan tertulis.
v Prestasi Akademik
Prestasi
akademik siswa - siwa kemungkinan agak terlambat dibandingkan dengan
teman-teman sebaya yang dapat mendengar lainnya. siswa - siswa tunarungu
menghadapi kesulitan untuk berhasil dengan baik ketika mengikuti sitem
pendidikan yang media utamanya lebih menekankan pada bahasa lisan dan tulisan
dalam transfer pengetahuan.
membaca
merupakan bidang akademik yang paling jelek terpengaruh oleh ketunarunguan.
Hilangnya pendengaran, apakah ringan atau berat, menimbulkan dampak yang jelek
terhadap kemampuan membaca (Lasso, 1987). Penelitian yang dilakukan oleh Allen
menemukan bahwa median tingkat mebca siswa-siswa tunarungu usia 16 dan 18 tahun
hampir sama dengan kelas 3 dan prestasi matematika nya hampir sama dengan kelas
7. Analisis Subgrup yang dilakukan oleh Holt (1993) menunjukkan, bahwa semua
individu dengan ketunarunguan kemampuan membacanya sama dengan siswa kelas 3
dan kelas 4.
VI.
Prinsip Pembelajaran Umum dan
Khusus pada Anak Tunarungu
v Asesmen Anak Tunarungu
Pendidikan
anak tuna rungu merupakan proses yang kompleks. Penempatan yang tepat, cara
cara belajar terbaik bagi masing-masing anak (auditori, visual, atau manual),
kurikulum, amplifikasi, dan keputusan tentang transisi dari satu lembaga
layanan ke lembaga layanan lainnya yang diambil oleh keluarga, sekolah dan
individu, bergantung pada informasi yang reliabel.
1. Asesmen Ketajaman pendengaran
Asesmen
ketajaman pendengaran anak dapat
dilakukan melalui observasi dan tes, baik tes sederhana maupun tes dengan
menggunakan media elektronik. Pada kesempatan ini, dijelaskan asesmen fungsi
pendengaran melalui tes, yaitu tes berbisik dan percakapan, serta tes
pendengaran dengan menggunakan media elektronik.
a. Tes Berbisik
dan Percakapan
Tes
berbisik dan percakapan
merupakan tes pendengaran yang sederhana, namun untuk melakukannya harus memperhatikan
beberapa persyaratan sehingga
hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Persyaratan tersebut antara
lain :
1.
Tes ini
harus dilaksanakan di dalam suatu ruang tertutup dan sunyi, serta tidak ada
gema .
2.
Testee
diberitahu bahwa tester akan mengatakan suatu kata dengan berbisik atau
percakapan, dan testee harus mendengarkan dengan baik serta mengulang kata
tersebut dengan suara percakapan biasa.
3.
Testee tidak
boleh melihat gerak bibir tester untuk
menghindari testee menbaca ujaran tester.
4.
Tester harus berbicara dengan suara lantang dan
semua kata harus diucapkan sama keras.
5.
Sebelum
mengucapkan kata-kata, janganlah menghirup udara terlalu dalam untuk
menghindari suku kata pertama diucapkan terlalu keras.
6.
Kata-kata yang
sesuai diucapkan untuk tes ini terdiri dari dua suku kata, seperti : bola, meja, buku, dsb.
7.
Telinga
harus di
tes satu persatu. Oleh karena itu telinga yang
tidak di tes harus ditutup. Penutupan telinga
dilakukan dengan menekan tragus kedalam lubang telinga.
Apabila
persyaratan tadi sudah
terpenuhi, kita dapat memperkirakan kekurangan
dengar anak berdasarkan
tabel berikut.
b.Tes
Pendengaran dengan Media Elektronik
Tes pendengaran dengan menggunakan
media elektronik merupakan tes yang
lebih akurat yang
hasilnya dapat dijadikan dasar untuk menentukan alat
bantu dengar yang sesuai. Media elektronik untuk tes pendengaran yang
banyak tersedia adalah audiometer.
Media tersebut digunakan pada
anak yang sudah
berusia 3 tahun ke atas karena pada
usia tersebut, anak sudah dapat diberikan pengarahan sehubungan dengan prosedur pengukuran. Pengukuran pendengaran pada anak yang
lebih kecil dan untuk
bayi, sudah tersedia teknologi mutakhir yaitu Auditory Brainstem
Responses (ABR) dan Otoacoustic Emissions (OAE) (Tn,2004 : 2-3 dan Tn, 2002
:IV-2).
Auditory Brainstem Responses (
ABR) merupakan suatu
alat elektronik yang canggih untuk
memeriksa pendengaran melalui
respon atau reaksi
syaraf pendengaran bayi
terhadap bunyi dengan frekuensi
dan kekerasan tertentu. Dalam
penggunaan ABR, bayi yang
dites biasanya dalam keadaan
tidur. Pada kepala
bayi dipasang tiga elektroda, yaitu dua dipasang
pada tulang di
belakang telinga dan satu dipasang pada dahinya, dengan demikian
bunyi langsung disalurkan ke syaraf
pendengaran bayi. Reaksi syaraf pendengaran bayi
terhadap bunyi akan
direkam secara otomatis
oleh alat tersebut
dan pemeriksa tinggal menafsirkan hasilnya.
Otoacoustic Emissions (OAE)
merupakan alat yang lebih canggih untuk mengidentifikasi dini
gangguan pendengaran. Prinsip
kerja alat ini
sama dengan ABR, hanya
bentuknya lebih kecil dan
cara penggunaannya lebih
praktis karena cukup ditempelkan
pada telinga bayi saja.
Audiometer merupakan media
elektronik untuk mengukur taraf kehilangan pendengaran seseorang.
Audiometer banyak jenisnya,
di antaranya ada audiometer
untuk tes pendengaran melalui nada murni
(pure tone audiometry) dan audiometer
untuk tes pendengaran melalui percakapan ( speech
audiometry).
Audiometer nada
murni merupakan media
elektronik yang menghasilkan
nada-nada murni dengan berbagai
frekuensi yang intensitasnya
dapat diatur oleh
operator. Media ini dilengkapi dengan earphones dan vibrator. Earphones (dipasang pada telinga
testee) untuk menghantarkan
nada-nada murni melalui telinga luar (metode
hantaran / konduksi udara).
Sedangkan vibrator (dipasang
pada tulang mastoid yang ada
dibelakang telinga) untuk
menghantarkan getaran suara, langsung
ke telinga dalam (metode hantaran
tulang). Kedua metode
audiometri tersebut harus
dilakukan untuk mengetahui apakah
telinga yang bersangkutan mengalami
gangguan pendengaran
konduktif, sensorineural, atau
campuran.
Pengetesan harus dilakukan
dalam ruang kedap
suara yang terpisah dari ruangan tester. Pengetesan dilakukan
pada satu telinga terlebih dahulu dengan
metode hantaran udara dilanjutkan
dengan metode hantaran
tulang. Setelah itu
baru dilakukan pengetesan
untuk telinga yang lainnya dengan
cara yang sama. Apabila klien
tidak mengetahui telinga mana
yang lebih baik pendengarannya,
pengetesan dilakukan pada
telinga sebelah kanan
terlebih dahulu. Pada
audiometri dengan metode hantaran tulang, penentuan kondisi
telinga yang lebih
baik dapat dilakukan
melalui tes weber yaitu
dengan memberikan getaran suara pada
frekuensi 500Hz dengan
volume suara yang
paling nyaman untuk
didengarkan melalui vibrator
yang ditempelkan pada
bagian tengah dahi
testee.
Selanjutnya ditanyakan
pada testee pada telinga sebelah
mana dia dapat mendengar nada. Ada
tiga kemungkinan jawaban,
yaitu pada telinga kiri,
telinga kanan, atau tidak kedua-duanya. Apabila jawaban
testee adalah pada salah
satu telinga, maka
pengetesan dilakukan pada
telinga yang dapat
mendengar nada terlebih
dahulu.
Pada
audiometri nada murni,
pengetesan dilakukan untuk
mencari ambang pendengaran baik melalui metode hantaran udara maupun hantaran
tulang. Ambang pendengaran adalah
tingkat tekanan suara yang terendah yang
masih dapat didengar
oleh telinga yang
bersangkutan. Ambang pendengaran
pada setiap frekuensi untuk
setiap telinga direkam
dalam bentuk grafik dengan
tanda-tanda khusus yang
disebut audiogram.
Audiometer percakapan (speech audiometry). merupakan
alat elektronik untuk
perngetesan pendengaran melalui percakapan. Pada dasarnya speech audiometry terdiri dari
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
pertama, mengucapkan serangkaian kata-kata untuk didengar
testee; kedua, menyuruh testee
mengulangi kata-kata
tersebut; dan ketiga,
mencatat jumlah kata yang
diulang dengan tepat. Rangkaian kata
tersebut dapat diucapkan
secara langsung atau melalui
rekaman. Dalam pengucapan langsung, tester sebagai
operator mengucapkan kata-kata
melalui mikrofon dan
memonitor suara tester
dengan menggunakan VU meter.
Suara dikirim ke
telinga testee melalui
earphone atau loudspeaker.
Sedangkan melalui metode rekaman, rangkaian kata-kata
disajikan melalui rekaman tape-recorder atau alat
perekam lainnya. Pengetesan
dilakukan dalam ruang
kedap suara yang terpisah
dari ruangan tester.
Speech audiometry dapat menyediakan 5 (lima) tipe informasi, yaitu : 1) ambang pemahaman
bicara; 2) tingkat suara yang
paling nyaman untuk didengarkan; 3) tingkat suara
yang tidak nyaman
untuk didengarkan; 4) rentang kekerasan
suara yang nyaman
untuk didengarakan; dan 5)
Skor kemampuan membedakan ucapan.
2. Asesmen Kemampuan Mendengar dengan
Menggunakan Alat Bantu Mendengar (ABM)
Hyde
(Sadjaah E. & Sukarja, 1996) mengemukakan bahwa setiap ABM memiliki
spesifikasi data mengenai :
penguatan (gain), keluaran kekuatan/kekerasan
yang maksimal (maximum power output), serta rentangan frekuensi yang dimiliki. Namun masih perlu dinilai bagaimana alat tersebut berfungsibila dipakai anak tunarungu.
Spesifikasi alat diperoleh secara artifisial dipabrik dengan peralatan yang sempurna, sedangkan fungsinya bisa
dipengaruhi sifat, bentuk dan ukuran
telinga serta sifat kerusakan fungsi
pendengaran masing-masing orang.
Tes kemampuan mendengar dengan
ABM dilakukan dengan materi yang dinamakan warble sound
yaitu berupa bunyi senandung /
siulan yang dikeluakan lewat kotak pengeras suara dengan intensitas dan
frekuensi tertentu. Anak yang
diasesmen duduk pada jarak satu meter dari kotak suara.
- Asesmen
Keterampilan Mendengarkan/ menyimak
Ada beberapa tes keterampilan
menyimak, antara lain : tes keterampilan menyimak angka atau tes semut ( ANT test) dari Norman Erber dan Tes Lima Bunyi Bahasa yang
diadaptasi dari Five Sound Test
yang diciptakan Daniel Ling.
ANT Test merupakan suatu tes dengan
prosedur yang singkat dan tak memerlukan
peralatan, kecuali lima kartu gambar semut dengan jumlah tertentu ( satu sampai lima). Tes ini bertujuan
untuk memperoleh informasi
tentang keterampilan menyimak
siswa tunarungu yang masih kecil. Dari hasil tes akan diketahui apakan anak
mampu menangkap kualitas
frekuensi suatu ungkapan lisan atau
hanya memperoleh informasi yang kasar tebtabg intensitas/ tekanannyam
melalui sisa pendengarannya. Hasil
tes dapat digunakan sebagai acuan untuk
menyususn program latihan artikulasi dan menyimak selanjutnya.
Prosedur
Pelaksanaan Tes
1. Tes Kartu
Gambar
Tes
menggunakan kartu bergambar
semut, Anak yang di tes menggunakan ABM
( yang berfungsi secara baik ) atau
dengan memakai speeh master (dipasang 20
dB di atas ambang pendengaran anak). Pengetesan dilakukan secara bergantian
pada telinga kanan dan kiri. Usahakan pengetesan diakukan di ruangan yang
terganggu bunyi latar belakang. Langkah-langkahnya sebagai berikut.
a.
Perkenalkan
anak pada kartu-kartu tes, perlihatkan
satu per satu sambil membilang jumlah ”semut” pada setiap kartu : satu, satu –
dua, satu – dua – tiga dan seterusnya.
b.
Latihlah
siswa dengan menyebut kartu-kartu tersebut secara acak dan permintaan untuk
menunjukan kartu mana yang diucapkan guru (sambil menatap dan mendengar).
c.
Ulangi
langkah ke 2 namun sekarang guru menutup mulut, agar anak tak membaca
ujaran. Perhatikan agar guru tiap kali
selalu tetap membilang sampai 5 namun yang disuarakan hanya angka yang dites.
Misalnya mau mentes kartu satu – dua maka satu – dua (disuarakan) – tiga –
empat – lima (tanpa suara)
d.
Langkah-langkah
sebelumnya ini hanya merupakan tahap awal untuk mentes lebih lanjut. Tes yang
sesungguhnya baru mulai bila guru/pemeriksa menyajikan satu angka (misalnya 5)
dengan mulut yang ditutup. Siswa yang mampu mendengar kualitas spektral
(frekuensi) ucapan ”lima” akan menunjukan pada kartu dengan 5 semut. Ada siswa
yang mungkin mempersepsi angka lain namun siswa yang hanya mampu menangkap pola
tekanan/tempo dari ucapan tadi jadi 2 tekanan : li-ma (/-/) akan menunjukan
pada kartu 1 (sa-tu). 113
e.
Catat respon
siswa. Siswa yang berhasil merespon dengan penyajian cara kedua berarti sungguh
mampu menyimak dan dapat dikatakan sebagai kelompok yang dengar (hearers).
Sedangkan siswa yang hanya berhasil merespon dengan penyajian pertama disebut
kelompok yang merasa (feerels). Hasil ini akan berakibat pada penyusunan progam
BPBI bagi siswa
2. Tes Lima
Bunyi Bahasa
Tes lima bunyi bahasa diadaptasi dari Five Sound
Test yang diciptakan Daniel Ling
guna mengasesmen keterampilan
menyimak bunyi bahasa dengan atau
tanpa menggunakan ABM. Pada jarak yang
berbeda-beda. Materi asli tes ini untuk
bahasa Inggris adalah: /a/, /i/, /u/, /sh/, /s/, mewakili bunyi yang paling
keras sampai lembut. Dalam penataran-
okakarya yang diselenggarakan
Federasi Nasional untuk Kesejahteraan
Tunarungu Indonesia (FNKTRI) tahun 1993 dengan penatar M. Hyde, materi tes
diadaptasi untuk bahasa Indonesia
menjadi /a/, /u/, /i/, /m/, /s/.
Pemikiran yang mendasari penyususunan tes atau pemilihan bunyi tersebut, adalah bahwa respon terhadap
setiap bunyi menandakan bahwa bunyi
bahasa tersebut dan bunyi lainnya dalam
gelombang oktaf yang sama juga akan
terditeksi. Misalnya bila anak tak dapat
menditeksi/ menyimak /s/, maka /f/ pun
tak akan tertangkap. Bila /a/ atau /i/ tak
terdengar atau terditeksi, maka dapat diperkirakan bahwa suara sengau yang terjadi sekitar 300 Hz juga tak akan terdengar. (
Daniel Ling, 1988:72).
Materi tes ini disajikan dalam
bentuk kata yang diucapkan, yang
mengandung masing-masing huruf di atas, seperti
kata : apa, baru, ibu, lima, dan
satu. Sedabgkan prosedur pelaksanaan tes adalah sebagai berikut.
a.
Siapkan
lembar penilaian dan beritanda di lantai pada jarak 1,2,3,4,sampai 5 meter.
b.
Anak diminta
duduk di kursi yang telah disediakan kemudian cek ABMnya.
c.
Jelaskan
maksud tes pada anak, sesuai usia dan taraf penguasaan bahasanya. Anak diminta
memberi reaksi (misalnya dengan tepuk
tangan atau angkat tangan, dsb.) bila mendeteksi /mendengar bunyi.
d.
Setelah di
tes pada jarak 1 meter, anak dites pada jarak yang lebih jauh.
e.
Catat reaksi
anak untuk setiap jarak.
B.
Contoh Assesmen Artikulasi Dan
Optimalisasi Fungsi Pendengaran
NamaAnak : …………………
JenisKelamin
: …………………
TanggalLahir
: …………………
Nama Orang
Tua : …………………
Alamat
: …………………
TanggalAsesmen
: …………………
1. LatihanArtikulasi
No
|
Organ Artikulasi
|
Tes
|
Hasil
|
||
Baik
|
Cukup
|
Kurang
|
|||
1.
|
Bibir
|
Memonyongkan kedua bibir
|
|||
Menarik bibir ke belakang
|
|||||
Menggetarkan bibir
|
|||||
2.
|
Lidah
|
Menjulurkanlidahkedepan
|
|||
Menjulurkanlidahkekiri
|
|||||
Menjulurkanlidahkekanan
|
|||||
Menyentuhlengkung kaki
gigiatas
|
|||||
Mendorongpipikiri
|
|||||
Mendorongpipikanan
|
|||||
Menyapubibiratas
|
|||||
Menyapubibirbawah
|
|||||
3.
|
Rahang
|
Membuka mulut lebar-lebar
|
|||
Menutup mulut rapat-rapat
|
|||||
Mengunyah permen karet
|
|||||
4.
|
Velum
|
Meniup udara keluar melalui
mulut
|
|||
Meniup balon
|
|||||
Meniup peluit
|
|||||
Menahanudara di
mulutsampaihitungan 5 s/d 10
|
|||||
6.
|
Nafas
|
Ambil nafas, tahan sampai
hitungan 10
|
|||
2. Tes Membedakan Bunyi
a.
Panjang/Pendek
No.
|
Kata
|
Dapat
|
TidakDapat
|
DeskripsiKesalahan
|
1.
|
Pa
Paaaa
|
|||
2.
|
Ma
Maaaa
|
|||
3.
|
La
Laaaa
|
|||
4.
|
Sa
Saaaa
|
|||
5.
|
Da
Daaaa
|
b. Tinggi/Rendah
No.
|
Kata
|
Tinggi
|
Rendah
|
DeskripsiKesalahan
|
1.
|
Papa
Pipi
|
|||
2.
|
Moto
Mutu
|
|||
3.
|
Didi
Dede
|
|||
4.
|
Babak
Bebek
|
|||
5.
|
Lala
Lele
|
c. Keras/Lemah
No.
|
Kata
|
Keras
|
Lemah
|
DeskripsiKesalahan
|
1.
|
Salam
Salam
|
|||
2.
|
Bakar
Bakar
|
|||
3.
|
Lima
Lima
|
|||
4.
|
Malam
Malam
|
|||
5.
|
Dekat
Dekat
|
d.Asesmen
lanjutan (Akademik)
Aspek
|
Ya
|
tidak
|
Keterangan
|
1.
Anak menyebutkan semua huruf alfabet di bawah ini!
A-B-C-D-E-F-G-H-I-J-K-L-M-N-O-P-Q-R-S-T-U-V-W-X-Y-Z
|
|||
2.
Anak menyebutkan semua huruf yang mirip di bawah
ini!
b-d p-q u-n
m-w z-s
|
|||
3.
Anak menyebutkan semua huruf konsonan di bawah ini!
B-C-D-F-G-H-J-K-L-M-N-P-Q-R-S-T-V-W-X-Y-Z
b-c-d-f-g-h-j-k-l-m-n-p-q-r-s-t-v-w-x-y-z
|
|||
4.
Sebutkan huruf-huruf vokal dibawah ini! (vokal
besar)
A-I-U-E-O
u-o-e-a-i
|
1. Latihan Artikulasi
No
|
Organ Artikulasi
|
Tes
|
Hasil
|
||
Baik
|
Cukup
|
Kurang
|
|||
1.
|
Bibir
|
Memonyongkan kedua bibir
|
|||
Menarik bibir ke belakang
|
|||||
Menggetarkan bibir
|
|||||
2.
|
Lidah
|
Menjulurkan lidah ke depan
|
|||
Menjulurkan lidah ke kiri
|
|||||
Menjulurkan lidah ke kanan
|
|||||
Menyentuh lengkung kaki gigi
atas
|
|||||
Mendorong pipi kiri
|
|||||
Mendorong pipi kanan
|
|||||
Menyapu bibir atas
|
|||||
Menyapu bibir bawah
|
|||||
3.
|
Rahang
|
Membuka mulut lebar-lebar
|
|||
Menutup mulut rapat-rapat
|
|||||
Mengunyah permen karet
|
|||||
4.
|
Velum
|
Meniup udara keluar melalui
mulut
|
|||
Meniup balon
|
|||||
Meniup peluit
|
|||||
Menahan udara di mulut
sampai hitungan 5 s/d 10
|
|||||
6.
|
Nafas
|
Ambil nafas, tahan sampai
hitungan 10
|
|||
2. Meraban
No
|
Suku Kata
|
Hasil Tes
|
1.
|
Ba Ba Ba
|
|
Bi Bi Bi
|
||
Bu Bu Bu
|
||
Be Be Be
|
||
Bo Bo Bo
|
||
2.
|
Ma Ma Ma
|
|
Mi Mi Mi
|
||
Mu Mu Mu
|
||
Me Me Me
|
||
Mo Mo Mo
|
||
3.
|
Pa Pa Pa
|
|
Pi Pi Pi
|
||
Pu Pu Pu
|
||
Pe Pe Pe
|
||
Po Po Po
|
||
4.
|
Da Da Da
|
|
Di Di Di
|
||
Du Du Du
|
||
De De De
|
||
Do Do Do
|
||
5.
|
Sa Sa Sa
|
|
Si Si Si
|
||
Su Su Su
|
||
Se Se Se
|
||
So So So
|
||
6.
|
Ta Ta Ta
|
|
Ti Ti Ti
|
||
Tu Tu Tu
|
||
Te Te Te
|
||
To To To
|
||
7.
|
Na Na Na
|
|
Ni Ni Ni
|
||
Nu Nu Nu
|
||
Ne Ne Ne
|
||
No No No
|
||
8.
|
La La La
|
|
Li Li Li
|
||
Lu Lu Lu
|
||
Le Le Le
|
||
Lo Lo Lo
|
||
9.
|
Ka Ka Ka
|
|
Ki Ki Ki
|
||
Ku Ku Ku
|
||
Ke Ke Ke
|
||
Ko Ko Ko
|
||
10.
|
Ra Ra Ra
|
|
Ri Ri Ri
|
||
Ru Ru Ru
|
||
Re Re Re
|
||
Ro Ro Ro
|
||
11.
|
Ga Ga Ga
|
|
Gi Gi Gi
|
||
Gu Gu Gu
|
||
Ge Ge Ge
|
||
Go Go Go
|
||
12
|
Ha Ha Ha
|
|
Hi Hi Hi
|
||
Hu Hu Hu
|
||
He He He
|
||
Ho Ho Ho
|
||
13.
|
Ja Ja Ja
|
|
Ji Ji Ji
|
||
Ju Ju Ju
|
||
Je Je Je
|
||
Jo Jo Jo
|
||
14.
|
Wa Wa Wa
|
|
Wi Wi Wi
|
||
Wu Wu Wu
|
||
We We We
|
||
Wo Wo Wo
|
||
15.
|
Ca Ca Ca
|
|
Ci Ci Ci
|
||
Cu Cu Cu
|
||
Ce Ce Ce
|
||
Co Co Co
|
3. Tes
Mengucapkan Kata Lembaga
No
|
Vokal/
Konsonan
|
Awal
|
B
|
T
|
Tengah
|
B
|
T
|
Akhir
|
B
|
T
|
Ket
|
Vokal
|
|||||||||||
1
|
a
|
Apel
|
ban
|
baca
|
|||||||
2
|
i
|
Ikan
|
pita
|
sapi
|
|||||||
3
|
u
|
Udang
|
buku
|
baju
|
|||||||
4
|
e
|
Ekor
|
becak
|
kue
|
|||||||
5
|
o
|
Obat
|
bola
|
soto
|
|||||||
Bilabial
|
|||||||||||
1
|
p
|
Papaya
|
sepatu
|
atap
|
|||||||
2
|
b
|
Batu
|
bebek
|
arab
|
|||||||
3
|
m
|
Mata
|
jambu
|
ayam
|
|||||||
4
|
w
|
Warna
|
sawah
|
awan
|
|||||||
Labio
Dental
|
|||||||||||
1
|
f
|
Factor
|
sifat
|
edukatif
|
|||||||
2
|
v
|
Vocal
|
televisi
|
-
|
|||||||
Dental
|
|||||||||||
1
|
t
|
Topi
|
botol
|
tomat
|
|||||||
2
|
d
|
Dasi
|
sendok
|
masjid
|
|||||||
3
|
l
|
Lilin
|
balon
|
pensil
|
|||||||
4
|
n
|
Nanas
|
pintu
|
papan
|
|||||||
Alveolar
|
|||||||||||
1
|
s
|
Satu
|
kasur
|
gelas
|
|||||||
2
|
z
|
Zat
|
-
|
-
|
|||||||
3
|
r
|
Roti
|
garpu
|
ular
|
|||||||
Palato
Alveolar
|
|||||||||||
1
|
c
|
Cabe
|
beca
|
-
|
|||||||
2
|
j
|
Jam
|
meja
|
-
|
|||||||
Palatal
|
|||||||||||
1
|
ny
|
kunyit
|
(me) nyanyi
|
(me) nyapu
|
|||||||
Velar
|
|||||||||||
1
|
k
|
Katak
|
bakso
|
sirsak
|
|||||||
2
|
G
|
Golok
|
gigi
|
mangga
|
|||||||
3
|
X
|
-
|
-
|
Box
|
|||||||
4
|
Ng
|
Pisang
|
telinga
|
singa
|
|||||||
5
|
Y
|
Yoyo
|
payung
|
-
|
|||||||
Glotal
|
|||||||||||
1
|
H
|
Hitam
|
pohon
|
sepuluh
|
4. Tes Membedakan Bunyi
a. Panjang/Pendek
No.
|
Kata
|
Dapat
|
Tidak
Dapat
|
Deskripsi
Kesalahan
|
1.
|
Pa
Paaaa
|
|||
2.
|
Ma
Maaaa
|
|||
3.
|
La
Laaaa
|
|||
4.
|
Sa
Saaaa
|
|||
5.
|
Da
Daaaa
|
b. Tinggi/Rendah
No.
|
Kata
|
Tinggi
|
Rendah
|
Deskripsi
Kesalahan
|
1.
|
Papa
Pipi
|
|||
2.
|
Moto
Mutu
|
|||
3.
|
Didi
Dede
|
|||
4.
|
Babak
Bebek
|
|||
5.
|
Lala
Lele
|
c. Keras/Lemah
No.
|
Kata
|
Keras
|
Lemah
|
Deskripsi
Kesalahan
|
1.
|
Salam
Salam
|
|||
2.
|
Bakar
Bakar
|
|||
3.
|
Lima
Lima
|
|||
4.
|
Malam
Malam
|
|||
5.
|
Dekat
Dekat
|
strategi
pembelajaran bagi anak ketunarunguan
1.
mengintergrasikan perbendaharaan kata dan pengembangan konsep
2. tangga
pengalaman belajar
3. strategi
mengajar visual
4. mengakomodasi
siswa-siswa yang tuli dan kurang dengar
VII.
Alat Bantu
Tunarungu
01) Audiometer
Yaitu alat penelitian yang dapat mengukur segala aspek dari pendengaran seseorang. Dengan audiometer dapat dibuat sebuah audigram yang dapat memberitahukan angka dari sisa pendengaran anak.
Yaitu alat penelitian yang dapat mengukur segala aspek dari pendengaran seseorang. Dengan audiometer dapat dibuat sebuah audigram yang dapat memberitahukan angka dari sisa pendengaran anak.
02) Alat
bantu mendengar (hearing aid)
Dengan mempergunakan alat bantu dengar (hearing aid) perorangan dan alat bantu dengan (group hearing aid) kelompok, anak-anak tunarungu diberikan latihan mendengar. Latihan-latihan tersebut dapat diberikan secara individual atau secara kelompok.
Dengan mempergunakan alat bantu dengar (hearing aid) perorangan dan alat bantu dengan (group hearing aid) kelompok, anak-anak tunarungu diberikan latihan mendengar. Latihan-latihan tersebut dapat diberikan secara individual atau secara kelompok.
03) Cermin
Untuk memberikan cantoh-contoh ucapan dengan artikulasi yang baik diperlukan sebuah cermin. Dengan bantuan cermin kita dapat menyadarkan anak terhadap posisi bicara yang kurang tepat. Dengan bantuan cermin kita dapat mengucapkan beberapa contoh konsonan, vokal dan kata-kata atau kalimat dengan baik.
Untuk memberikan cantoh-contoh ucapan dengan artikulasi yang baik diperlukan sebuah cermin. Dengan bantuan cermin kita dapat menyadarkan anak terhadap posisi bicara yang kurang tepat. Dengan bantuan cermin kita dapat mengucapkan beberapa contoh konsonan, vokal dan kata-kata atau kalimat dengan baik.
04) Alat
bantu wicara (speech trainer)
Speech trainer ialah sebuah alat elektronik terdiri dari amplifaer, head phone dan mickrophone. Gunanya untuk memberikan latihan bicara individual. Bagi yang masih mempunyai sisa pendengaran cukup banyak akan sangat membantu pembentukan ucapannya. Bagi yang sisa pendengarannya sedikit akan membantu dalam pembentukan suara dan irama.
Speech trainer ialah sebuah alat elektronik terdiri dari amplifaer, head phone dan mickrophone. Gunanya untuk memberikan latihan bicara individual. Bagi yang masih mempunyai sisa pendengaran cukup banyak akan sangat membantu pembentukan ucapannya. Bagi yang sisa pendengarannya sedikit akan membantu dalam pembentukan suara dan irama.
VIII.
Perundang-Undangan
1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.
3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia.
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak.
5. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
Dalam Rumah Tangga.
7. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
8. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi
Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas (Convention On The Rights Of Persons
With Disabilities).
9. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan
Agama dan Keagamaan.
10. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014.
11. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan
Konvensi tentang Hak-Hak Anak (Convention on the Rights of the Child).
12. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan
Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
13. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak Nomor 10 Tahun 2011 tentang Kebijakan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus.
BAB
III
Penutup
1.
Kesimpulan
Tunarungu dapat disebabkan oleh berbagai
macam factor dan memiliki klasifikasi yang berbeda. Anak-anak tunarungu
memerlukan waktu yang lebih lama dari anak-anak normal lainnya dalam hal
pembelajaran bahasa dan budaya. Anak tunarungu memiliki intelegensi yang sama
dengan anak normal lainnya, namun prestasi akademiknya kurang karena hambatan
dalam berkomunikasi. Anak-anak tunarungu lebih sering berinteraksi dalam
kelompok kecil dibandingkan dengan kelompok besar. Mereka sering menarik diri
dari lingkungannya dikarenakan kesulitannya dalam berkomunikasi dengan
lingkungannya.
2.
Kritik Saran
Anak tunarungu
sangat memerlukan perhatian khusus dari lingkungannya, terutama dari guru di
sekolahnya untuk membantu proses pembelajarannya yang terhambat akibat gangguan
pendengaran.
Guru bisa
menggunakan beberapa cara pengajaran untuk membuat anak tunarungu mengerti agar
anak tunarungu tersebut tidak merasa berbeda dengan teman-teman lainnya.
Sebisa mungkin,
tempatkan anak tunarungu di barisan depan agar ia bisa membaca gerak bibir guru
dan mencoba mengerti apa yang dijelaskan di depan.
Dengan
penanganan tepat, anak tunarungu pasti bisa mensejajari anak-anak normal
lainnya.
Daftar
Pustaka
Rahardja
Djadja, Dr. M. Ed dan Sujarwanto, Drs. M. Pd, 2012, Pengantar Pendidikan Luar Biasa (Orthopedagogik), Universitas
Surabaya, Surabaya.
Soematri
Sutjihati. T. H, Dra. PsyCH, Psikologi
Anak Berkebutuhan Khusus.
Google
No comments:
Post a Comment